Kartini Masa Kini dan Kesehatan Mental

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 21/04/2022 _19 Ramadhan 1443 H

Hifni Septina Carolina, M.Pd. (Dosen IAIN Metro Lampung)

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

Kalimat tersebut adalah penggalan Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901. Sudah satu abad lebih berlalu, semangat juang Kartini masih membara lewat narasi dan tulisan yang ditinggalkannya. Kartini berkabar tentang banyak hal lewat korespondensi dengan teman-temannya di luar negeri. Kartini bercerita tentang fenomena penindasan dan diskriminasi yang terjadi di negeri Bumiputera, kegelisahannya tentang adat dan kebudayaan feodal, serta perjuangannya tentang pendidikan perempuan.

Sejak dulu perempuan Indonesia mengalami lima pengalaman sosial yaitu subordinasi (direndahkan), marginalisasi (dipinggirkan), stigmatisasi (dicap negatif), beban ganda dan kekerasan. Kartini pernah berucap dalam suratnya, seandainya dia terlahir sebagai anak laki-laki. Mungkin angan dan cita-citanya yang melambung tinggi dapat tercapai. Karena perempuan mendapati banyak sekali pengekangan dan diskriminasi. Perempuan seakan tidak boleh memandang dirinya sebagai manusia utuh, seperti halnya laki-laki.

Kartini hadir sebagai inspirasi pergerakan perempuan. Dia adalah pelopor kesadaran kritis perempuan Bumiputera. Meskipun saat ini, emansipasi perempuan seringkali disalah artikan sebagai perlawanan terhadap kaum laki-laki. Peringatan hari Kartini pun hanya sebatas seremonial yang disimbolkan dengan kebaya dan konde. Simbol pakaian tersebut menafikan perjuangan dan kegigihan yang diteladankan olehnya, juga melanggengkan stigma perempuan Indonesia yang nerimo, penuh kelembutan tanpa perlawanan.

Benar sekali yang diucapkan Fiersa Besari bahwa “Membaca untuk tahu apa yang terjadi di masa lalu, menulis untuk memberi tahu pada mereka apa yang terjadi di masa depan. Saat membaca surat-surat yang ditulis Kartini, kita dibuat takjub dengan literasi Kartini yang kuat dan penuh perlawanan. Dengan membaca surat Kartini, kita jadi tahu keadaan bangsa kita yang ditindas oleh penjajah. Kita dibawa untuk membayangkan kegelisahannya tentang negeri Bumiputera meskipun dirinya terpenjara di dalam sebuah kamar. Panggilan jiwanya yang kuat untuk kemanusiaan mendobrak represi gender kala itu.

Perjuangan yang telah dimulai oleh Kartini memang belum berakhir. Jika membayangkan Kartini mengisi usia belianya dengan menumbuhkan jiwa nasionalis, memikirkan nasib bangsa serta peduli terhadap kesejahteraan kaumnnya. Maka kita harus introspeksi diri dan mengasah kepekaan juga kesadaran kritis sebagai kartini masa kini. Apakah kita mau terus menerus menjadi perempuan yang tertindas oleh pikirannya sendiri entah karena over thinking atau insecure? Apakah kita hanya menjadi manusia yang memperdulikan kepentingan individu?

Kesehatan Mental

Belum lama ini, kita dikagetkan dengan berita kasus seorang ibu bernama Kanti Utami yang menggorok ketiga anaknya di Brebes. Tak berjarak lama, di Deli Serdang Sumatera Utara ditemukan pula mayat seorang ibu dan anak kembarnya di dalam rumahnya sendiri. Kedua kasus ini memukul keras kemanusiaan kita. Ketika kita melihat sosial media, kasus serupa seperti fenomena gunung es yang mengemuka, motif dibalik kejadian tersebut diduga karena traumatik dan depresi yang diderita sang ibu.

Kesehatan mental masih dirasa belum terlalu penting, karena tidak terlihat secara fisik. Padahal World Health Organization (WHO) pada tahun 2012 menetapkan 13% dari penyakit global adalah gangguan mental. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk Indonesia berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa perempuan lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Para ahli menyebutkan faktor pemicu perempuan lebih rentan depresi diantaranya karena beban domestik dan pengasuhan anak seolah menjadi tanggungjawab perempuan saja, belum lagi banyaknya kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak, serta berbagai stigma yang sering dilabelkan pada perempuan. Kondisi pandemi selama dua tahun ini juga memicu tingkat stress dan depresi perempuan yang kembali dirumahkan. Belum lagi perempuan juga menghadapi tantangannya sendiri, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK), bisnis yang gulung tikar dan lain sebagainya.

Perempuan remaja juga kerap melakukan self diagnosis tentang kondisi mental mereka. Pekan lalu, komunitas Women and Environment Studies (WES) Payungi mengundang Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) wilayah Lampung, Shinta Mayasari. Beliau menuturkan bahwa para ahli harus melakukan observasi dan penelitian lebih dalam untuk menentukan satu diagnosis terhadap pasien. Maka self diagnosis menjadi amat berbahaya jika remaja tersebut meyakini informasi di laman daring kemudian mensugesti dirinya mengidap penyakit mental tertentu.

Kalaupun kita sedang berada dalam kondisi tertekan secara emosi atau kejiwaan sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan psikolog/psikiater. Namun, sebelum lebih jauh kita perlu sering-sering melakukan deep talk dengan diri sendiri atau melakukan evaluasi diri. Stigma “kurang iman” juga sering dilekati pada orang yang depresi. Padahal kita tidak pernah tahu, pengalaman mental apa yang dialami seseorang. Selain itu, kesehatan mental seseorang dipengaruhi oleh tiga hal yaitu pikiran, perasaan dan perilaku.

Membincangkan kartini masa kini dengan kesehatan mental, saya kembali teringat isi surat Kartini yang bangkit mengutuk keadaannya. Kartini selalu berupaya mensyukuri tiap hidup yang dinikmatinya dan mengupayakan pengetahuan yang dimiliki untuk kaumnnya. Dia menggugat tradisi dengan memberikan ide baru seperti sekolah perempuan. Dia ingin perempuan di masanya mengenyam pendidikan karena melalui pengetahuan dan wawasan tinggi, perempuan bisa  menghaluskan perasaan dan menjernihkan pikiran.

Dalam petikan suratnya, beliau bertutur,

Banyak lagi perempuan Bumiputera yang terpelajar bahkan jauh lebih terpelajar dan jauh lebih cakap daripada kami, yang baginya tersedia segala sesuatu. Yang baginya tidak mungkin tidak ada kesempatan untuk mengisi rohaninya dengan santapan berbagai ilmu, yang baginya sama sekali tidak ada hambatan dalam mencerdaskan tenaga rohaninya, yang baginya apa saja yang dikehendaki dapat terjadi, Dan mereka tidak berbuat apa-apa. Tidak mencapai apapun yang dapat meningkatkan derajat sesama perempuan dan bangsanya. Bukankah merupakan kewajiban setiap orang yang lebih berbudi dan lebih pandai untuk membantu dan memimpin bangsanya yang terbelakang dengan kepandaian dan pengetahuannya lebih tinggi itu?

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.