socio
echo
techno
preneurship

MeTROUNIV Article

KETELADANAN KELUARGA NABI IBRAHIM عليه السلام

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

metrouniv.ac.id – 09/07/2022 – 09 Dzulhijah 1443 H

Akhmad Syahid, M.Kom.I  (Dosen FUAD IAIN Metro)

Khutbah Idul Adha 1443 H (Lapangan Merdeka Sseputih Banyak Lampung Tengah 09 Juli 2022)

اَلْـحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ . وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ  نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَعَلَى اَلِهَ وَ اَصْحَبِهَ وَمَنْ وَّالَاهُ

فَقَالَ الله تَعَالىٰ :يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

اَمَّا بّعْدُ

 اَللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah dan hadirin yang berbahagia

Pada kesempatan yang berbahagia ini, khotib mengajak kepada semua para hadirin untuk terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah , dengan berusaha mengamalkan perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Pada pagi yang berbahagia ini, sekali lagi kita dipertemukan oleh Allah dengan hari yang syarat dengan makna dan keteladan hidup, hidup di dunia yang mengajarkan untuk meraih kebahagiaan Akhirat. Berkenaan dengan hal ini, tidak ada yang patut kita ucapkan dan lazimkan kecuali memuji Dzat Yang Maha Agung Allah . Allah telah memberikan nikmat, hidayah, sehat bahkan kebahagiaan kepada kita, dan mengabulkan do’a-do’a yang kita sampaikan dan bahkan apa yang kita butuhkan namun belum sempat kita sampaikan kepadaNya, telah Allah berikan kepada kita. Shalawat dan salam senantiasa tercurah pada baginda Nabi Muhammad ﷺ, yang telah mengajarkan kepada kita bagaimana untuk mengenal, mencintai dan mematuhi perintah Allah . Melalui Beliau

ﷺ juga kita mampu mengenali keluarga dan perjuangan dari Kholilullah Ibrahim AS, yang dalam kisah hidupnya sebagian besar diabadikan dan dijadikan menjadi sebagian syariat Islam.

 اَللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Para hadirin yang dirahmati Allah

Setiap kali kita berkumpul ditempat yang mulia ini dalam rangkaian pelaksanaan ibadah ‘idul adha, langsung teringat pada kita semua akan sebuah peristiwa besar dan kepada sosok Nabi yang mendapat gelar Khoilullah yaitu Nabi Ibrahim AS dan kehebatan istri beserta anakNya. Sebuah keluarga yang menjadi ikon perjuangan demi tegaknya kalimat Tauhid yang seharusnya kita teladani dan kita banggakan, kemudian dari situ kita usahakan untuk menghadirkan didalam keluarga kita masing-masing yaitu menjadi keluarga yang seiman dan seperjuangan meskipun harus melalui berbagai ujian besar.

Menghayati dan memahami rangkaian ibadah idul adha yang mengingatkan pada kisah yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS, paling tidak ada 3 hal yang patut untuk kita teladani, yaitu pengajaran pentingnya membawa keluarga pada ketauhidan yang sesungguhnya, menjadikan qurban sebagai pembuktian ketauhidan sosial, dan menjadikan siti hajar sebagai teladan dan spirit dalam mendidik anak.

 

 اَللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia.

Pertama, pentingnya mengajarkan tentang tauhid dan mempraktikkan dalam keluarga. Sungguh indah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As ketika beliau menginginkan sesutau yaitu anak, beliau mengucapkan dan ucapan beliau kemudian terabadikan dalam firman Allah SWT surat Assafat ayat 100;

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh”.

Menggantungkan dan menaruh harapan kepada Dzat Yang Maha Kuasa atas setiap apa yang akan dilakukan dan diinginkan menjadi hal prioritas yang harus dilakukan. Begitupun dalam keluarga, antara suami dan istri harus satu visi dan satu keyakinan. Visi suami istri yang kemudian menjadi visi keluarga harus bermuatan nilai dakwah dan kemajuan Islam. Karena manusia dilahirkan adalah untuk menegakkan kalimat Tauhid, bukan untuk berbangga pada hal yang sifatnya duniawi.

Imam al-Qurtubhi dalam tafsirnya menjelaskan tentang firman Allah diatas, bahwa Nabi Ibrahim AS meminta kepada Allah yaitu berupa anak dengan tujuan agar dalam dakwah beliau AS ada kawan. Lebih lanjut dalam do’anya Nabi Ibrahim AS menyebutkan anak yang diminta adalah anak yang sabar, anak yang memiliki sifat sabar. Kemudian Allah menjawab permohonan Nabinya pada ayat berikutnya :

فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ

“Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”.

Anak yang sabar itulah yang bernama Ismail AS. Seorang anak yang lahir bermula dari permohonan sang ayah dengan tujuan baik, sehingga lahirlah Ismail AS sebagai sosok yang teruji kesabarannya sebagaimana bunyi permohonan sang ayah kepada RabbNya. Kuat dalam ingatan kita, bahwa kesabaran Ismail AS tercantum dalam firman Allah ketika sang ayah menyampaikan perintah RabbNya untuk menyembelihnya ;

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

 اَللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Para hadirian yang berbahagia

            Sungguh indah dan menyentuh hati kita semua, dimana kita melihat kekompakan ayah dan anak dalam berbakti kepada Rabbnya, beliau membuktikan ketaatan yang totalitas tanpa ada sedikit keraguan dan kekhawatiran. Bukti perjuangan sebuah keluarga yang harmonis dan kompak, antara satu dengan yang lain saling menguatkan, bukan melemahkan, saling memotivasi bukan gembosi.

Begitu berat dan besar baik ujian maupun kesabaran yang telah dibuktikan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya khususnya keluarga yang Allah tetapkan mereka tinggal di tanah tandus dan gersang yaitu kota Makkah al-Mukarromah, yang sekarang menjadi tempat yang sangat diperebutkan semua ummat islam dari seluruh penjuru Negeri untuk bisa berkunjung dan beribadah disana.

 

 اَللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin yang dirahmati Allah

Yang kedua, menjadikan qurban sebagai pembuktian ketauhidan sosial. Penyembelihan Qurban yang dilakukan oleh kaum Muslimin tidak terlepas dari peristiwa  yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan anaknya Ismail AS. Pernahkah kita semua merenungi sebagian dari hikmah pensyariatan penyembelihan qurban?.. diantaranya adalah sebagai pembuktian ketaatan terhadap perintah Allah untuk berani mengeluarkan atau mengorbankan dari sesuatu yang sangat dicintai. Nabi Ibrahim AS kala itu sangat mencintai anaknya, anak yang sudah lama ditunggu-tunggu untuk menegakkan kalimat Tauhid, anak yang dijadikan kawan dalam berdakwah, namun Allah perintahkan untuk menyembelihnya.

Ketika syariat itu sampai kepada kita, bukanlah kita harus menyembelih anak kita, melainkan sesuatu yang sangat kita cintai, mungkin harta, waktu, ilmu atau tenaga. Ikhlas dan siapkah kita untuk mengorbankan sesuatu yang sangat kita cintai semisal waktu atau harta untuk berjuang dijalan Allah .

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran : 92).

Selanjutnya dari pengorbanan tersebut, mampu atau bisakah menjadi sesuatu yang abadi dan akan selalu dikenang sepanjang masa.

Selanjutnya perlu kita renungkan berbagai rangkaian peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS dan keluarganya, dari penyembelihan kurban, pembangunan ka’bah, larinya siti hajar dari bukit sofa ke bukit marwa, lempar jumroh dan ibadah-ibadah lainnya. Semua itu menjadi abadi dan menjadi rangkaian ibadah haji yang selalu diulang setiap tahun oleh kaum muslimin.

 

 اَللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin yang dirahmati Allah

            Meneladani hal ini, sudah seharusnya kita mulai memikirkan dan meningkatkan pengorbanan kita. Qurban dan ibadah-ibadah social lain seperti zakat, infak, sadaqah dan wakaf, merupakan pembuktian tauhid social kita yang berangkat dari pembenaran Tauhid Ilahiyah kepada Allah . Perjuangan dan peran sosial kita yang berangkat dari ketauhidan kepada Allah sudah seharusnya kita upayakan menjadi amal yang selalu abadi dan bisa dirasakan oleh banyak orang dalam waktu yang lama.

Ketika kita tarik contoh local yang telah melakukan amal sosial dan menjadi amal abadi yang bisa terus dirasakan oleh kaum muslimin adalah seperti KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari. Amal beliau menjadi amal jariyah melalui organisasi yang didirikannya. Beliau menyiapkan sebuah wadah untuk dakwah dan syiar Islam. Tentu penyebutan kedua tokoh diatas bukan berarti menafikan tokoh-tokoh lainnya, namun paling tidak dari beliau berdua bisa menjadi contoh bagi kita, bahwa penting untuk memikirkan dan menyiapkan sesuatu yang bisa dirasakan oleh orang banyak. Dari sini juga bukan berarti kita harus membuat wadah atau organisasi baru, namun perlunya menyiapkan usaha atau gerakan yang berfungsi untuk mencerdaskan ummat dan mampu menjadi wadah saling tolong-menolong sesama ummat manusia.

Terlepas kecil atau besar, sedikit atau banyak yang kita lakukan untuk kebermanfaatan ummat, namun jika menjadi amal abadi, InsyaAllah hal itu menjadi amal jariyah kita. Baik kita sebagai jama’ah atau pengurus suatu pergerakan dakwah Islam, sudah seharusnya memikirkan kebermanfaatan dan keberlangsungan amal social yang dilakukan. Keberlangsungan dari amal yang sudah pernah kita lakukan semata-mata adalah untuk membuat amal jariyah, bukan untuk berbangga dan minta dibangga-banggakan oleh anak keturunan kita atau orang lain.

 

اَللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin yang dirahmati Allah

Yang ketiga, menjadikan siti hajar sebagai teladan dan spirit dalam mendidik anak. Sungguh berat menjadi seorang ibu, apalagi ketika kita melihat beratnya ujian yang harus dijalani siti hajar. Namun dengan keyakinan yang tinggi, meskipun harus ditinggalkan suami dan harus mengurus anak seorang diri ditanah yang tandus dan gersang, beliau berhasil mengasuh Nabi Ismail AS menjadi sosok yang shaleh dan memiliki kesabaran yang sangat tinggi. Sehingga ketika Nabi Ibrahim As kembali dan dijumpailah anaknya yaitu Ismail AS telah tumbuh dewasa dan siap diajak untuk bersama-sama taat kepada Allah , diantaranya adalah pembangunan Ka’bah, qurban dan lain sebagainya.

Keteladanan yang ada pada siti hajar layak untuk menjadi contoh bagi kita semua, bahwa seorang istri mempunyai peran penting dalam dakwah dan perjuangan Islam. Istri memiliki kekuatan untuk memberikan dorongan dan dukungan kepada suami untuk mengambil peran dalam dakwah dan ketaatan kepada Allah , istri pula memiliki peran untuk mendidik anak agar menjadi anak yang mempunyai perhatian terhadap syiar Islam. Maka tidak sedikit lahirnya para hafidz Qur’an, ulama dan muballigh tidak terlepas dari peran seorang ibu. Satu contoh nyata adalah ibunda Imam Syafi’i, berkat didikannya lahir seorang ulama besar yang memiliki pengaruh besar terhadap syiar Islam salah satunya di Indonesia, yang mayoritas ummat Islam bermadzhab Syafi’i.

Suami yang hebat dan anak yang hebat utamanya yang memiliki peran dan kontribusi dalam gerakan dakwah islam tidak terlepas dari peran seorang perempuan yaitu Ibu. Wahai para istri, para ibu, tidakkah engkau semua iri dengan ibunda siti hajar juga ibunda imam syafi’i, yang telah berhasil mendampingi suami dan mengajarkan pada anak mereka untuk menekuni ajaran agama dan memberikan kontribusi untuk dakwah islam?..  ketahuilah, bahwa peran dalam rumahtangga khususnya istri menjadi wasilah atau asbab terhadap sebuah keberhasilan suami dan anak-anak.

اَللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin yang dirahmati Allah

Mengakhiri khutbah id yang berbahagia ini, dapat kita simpulkan poin-poin penting, yaitu perlunya persamaan visi antara suami dan istri untuk mewujudkan dan melahirkan keluarga yang bertauhid, satu keimanan dan satu perjuangan. Dua  meningkatkan ibadah sosial, empati kepada sesama dan perhatian terhadap kesusahan orang lain dan menciptakan amal ibadah sosial yang menjadi amal abadi, amal yang bisa dirasakan oleh orang banyak yang tidak terbatas oleh waktu, dan terakhir menjadikan siti hajar sebagai teladan dan spirit dalam mendidik anak. Istri, ibu adalah sosok yang sangat berjasa dalam kehidupan manusia untuk meraih kesuksesan.

Akhirnya, marilah kita akhiri khutbah ini dengan bersama-sama bermunajat, memohon kepada Dzat yang Maha Mengabulkan setiap permintaan.

 إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

Ya Allah, Dzat Yang Maha Agung, dihari yang mulia ini Ya Allah kami berkumpul memenuhi seruanmu, Ya Allah anugerahkan kepada kami anak-anak yang shaleh, anak-anak yang bisa kami jadikan kawan dalam dakwah, anak yang menjadi penyejuk pandangan kedua orang tua.

Ya Allah Dzat Yang Maha Kaya, kayakanlah kami Ya Allah, sehingga kami mampu berkurban setiap tahun dan dengan harta tersebut kami mampu berjuang untuk tegaknya syiar Islam.

Ya Allah Ya Rahim, sayangilah kami ya Allah dan berilah kami rasa sayang, sehingga kami bisa saling menyayangi dan tumbuhkanlak kepada kami sayang kami anak-anak yatim.

 

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artikel Terkait

Simbol

metrouniv.ac.id – Ahad 15/08/2022 _ 17 Safar 1444 H Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro) “Signs

Wisata Kampung Kreatif?

metrouniv.ac.id – 14/08/2022 – 16 Safar 1444 Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi Syariah IAIN Metro)  Konon pariwisata dari bahasa Sanskerta

HIJRAH DAN SPIRIT PERUBAHAN

metrouniv.ac.id – 30/07/2022 – 01 Muharam 1444 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Pada tahun 622 Masehi,

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.