socio
echo
techno
preneurship

MeTROUNIV Article

Komunikasi Sosial sebagai Wujud Moderasi dan Penolakan Radikalisme

Facebook
Twitter
WhatsApp

metrouniv.ac.id – 09/01/2023 – 16 Jumadil Akhir 1444 H

Budi Ariyanto, M.Sos. (Dosen FUAD IAIN Metro)

 

Berbagai kasus radikalisme muncul pada akhir-akhir ini, baik di lingkungan masyarakat maupun lingkungan lembaga pemerintahan. Sebagaimana dalam pandangan Yusuf Qardhawi yang menyatakan bahwa radikalisme muncul atas respon dari rasa frustasi dan bentuk pemberontakan terhadap suatu ketidakadilan sosial yang disebabkan oleh lemah dan mandulnya kinerja lembaga hukum (Al-Qardhawi, 1986). Ketidakadilan yang terjadi juga dipengaruhi oleh bentuk komunikasi sosial yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait. Seperti halnya, wakil rakyat yang tidak menyampaikan aspirasi masyarakat, kemudian pemerintahan yang dinilai tidak memberikan keadilan terhadap masyarakat dan masih banyak persoalan lain yang dapat menimbulkan konflik sosial.

Komunikasi sosial sebagai upaya dalam pencapaian situasi integrasi sosial, sehingga masyarakat harus sudah siap dengan kondisi baru dalam konteks keberagaman kebudayaan dan agama. Berkomunikasi di lingkungan sosial dengan latar belakang beda budaya dan agama sering mengalami beberapa hambatan komunikasi, yang tentu hal ini tidak pernah diharapkan sebelumnya. Komunikasi sosial memiliki beberapa faktor penting yang dapat membangun sebuah konsep diri, aktualisasi diri, kelangsungan diri, memeroleh kebahagiaan, serta terhindar dari ketegangan dan tekanan dalam interaksi di masyarakat (Thadi, 2020). Sebagaimana kita contohkan komunikasi sosial dalam kegiatan dakwah wasathiyah atau dakwah moderat. Dakwah saat ini di antara dua pihak atau wasathiyah. Adapun kelompok yang berlebihan tersebut, memahami bahwa dakwah yang menerapkan agama secara ketat, dan tidak mentolerir apapun. Ibnu ‘Asyura dan al-Jaza’iri mengemukakan hal yang sama terkait wasathiyah  sebuah keadaan yang baik yang dapat menjaga umat dari kecenderungan menuju dua sikap yang berbeda dan ekstrem, yaitu sikap berlebihan (ifrath) dan sikap muqashshir yang mengurangi sesuatu yang diberikan Allah SWT. Sikap semacam inilah yang menjadikan umat terbaik (ummatan wasathan) sebagai umat yang moderat. Wasathiyah  merupakan karakteristik umat Islam yang tidak dimiliki agama lain. Pemahaman moderat ini berpegang teguh kepada dakwah yang menentang segala bentuk pemikiran liberal dan radikal. Radikal dalam arti pemahaman yang memaknai Islam secara tekstual tanpa membaca realitas yang terjadi, misalkan dalam konteks agama dan budaya. Sikap Wasathiyah yaitu melakukan penolakan terhadap segala bentuk kezaliman dan kebatilan oleh kelompok-kelompok ekstrim. Ini merupakan cerminan fitrah manusia yang suci tanpa pengaruh-pengaruh negatif (Ibnu ‘Asyur, Muhammad at-Thahir, 1984, hal. 17-18). Umat Islam sebagai umat terbaik, sebagaimana banyak ulama tafsir yang membicarakan permasalahan tersebut, yang terinspirasi dari kandungan surah Al-Baqarah ayat 143:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًاۗ …  (١٤٣)

Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”.

Rasulullah SAW, menegaskan dalam sabdanya bahwa kebaikan itu ada di pertengahan atau moderasinya (khair al-umur awsathuha), juga menyebutkan bahwa sikap beragama yang paling dicintai Allah SWT adalah yang lurus, tidak berlebihan, lagi toleran (al-hanifiyyah as-samhah).

Yusuf Qardhawi memaparkan bahwa sikap lurus dan moderat Rasulullah SAW sering ditunjukkan dalam keseharian beliau yang selalu mengedepankan kasih sayang, serta menyeru pentingnya keseimbangan melaksanakan amal ibadah yang bersifat ritual-individual dan ritual-sosial (Qardhawi, 1998, hal. 260). Sesuai dengan apa yang menjadi wacana pemerintah khususnya Kementerian Agama untuk terus berupaya dalam penguatan moderasi beragama baik di lingkungan masyarakat dan lingkungan pemerintahan. Tentu hal ini memiliki tujuan yang jelas dalam menjaga kesatuan dan persatuan bangsa yang memiliki keanekaragaman yang tinggi baik dari keragaman budaya maupun perbedaan agama.

Artikel Terkait

DISPENSASI MENIKAH

metrouniv.ac.id – 03/01/2023 – 11 Jumadil Akhir 1444 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)   Harian Tribun

Politik Gagasan & Gerakan?

Politik Gagasan & Gerakan? metrouniv.ac.id – 27/01/2023 _ 5 Rajab 1444 H Dharma Setyawan, M.A. (Wakil Dekan 3 FEBI IAIN

Penggunaan Bahasa dan Karakter Diri

metrouniv.ac.id – 17/01/2023 – 25 Jumadil Akhir 1444 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Thomas Lickona, seorang

MERAYAKAN PERBEDAAN

metrouniv.ac.id – 03/01/2023 – 11 Jumadil Akhir 1444 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Biasanya orang berkumpul

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.