Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi
Syariah IAIN Metro)
Membaca berita
tentang desa tua di Singapura yang bertahan di tengah arus modernitas menarik
untuk diulas. Ada banyak alasan terkait tergerusnya desa beserta kebudayaannya,
namun yang paling sering kita dengar adalah karena proses adaptasi terhadap
perubahan. Kampung lorong Buangkok menjadi viral semenjak pandemi dan para
penduduk menjadikan kampung tua ini tempat lari pagi, menghirup udara dan
melihat tanaman langka.
Istilah kota
kreatif ini pada dasarnya lahir dari persoalan kota yang gagal menyelesaikan
kebutuhan primernya, mulai dari pangan, oksigen, sanitasi, ruang terbuka hijau,
sarana olahraga, dan tentu sikap individual yang terus menjamur. Maka ide kota
kreatif menjadi salah satu solusi ruang metropolitan supaya memiliki
gagasan-gagasan baru dan mengubah wajah kota lebih dinamis. Dalam kategori
SDGs, kota lebih banyak gagal dalam 17 capaian. Indikator ini punya korelasi
terhadap sikap acuh warga kota dan kini semakin ditiru oleh warga desa.
Munculnya kota
kreatif nampaknya sebuah pengakuan bahwa kota gagal mengobati sakit yang diidap
dalam ruang tubuhnya. Hanya saja bertemunya kepentingan merkantilisme pasar
ekonomi dan politik, masih menjadikan kota sebagai magnet bagi orang desa untuk
terus hadir dan membangun mimpi. Hematnya, selama orang punya mimpi
metropolitan, bangunan kota berlomba megah-megahan, pasar tidak dibangun untuk
rakyat tapi melayani sedikit elit, ruang kota dipenuhi hutan beton, selama itu
pula pembangunan bertujuan untuk uang, bukan menyelamatkan manusia dan
lingkungan hidup.
Kota kreatif
kemudian membawa arus digitalisasi ke beberapa sub-sektor warisan leluhur.
Mulai membawa arah glorifikasi rumah adat tua, kuliner, fashion, kerajinan
leluhur, dan segala peninggalan lama di lestarikan melalui promosi digital.
Tidak ada yang salah dalam promosi kota kreatif ini, tapi pasar ini kelak akan
berpihak ke siapa? Pemilik industri digital atau pelaku ekonomi kreatif yang
mewarisi hasil kebudayaan secara turun temurun?
Selama sebuah
ruang masih menyelamatkan pangan, kebudayaan leluhur dan mempertahankan
kekayaan di dalamnya, tidak perlu orang muncul dengan sikap dan mimpi harus
menjadi kota. Kesempatan kampung tua dengan pertahanan budaya alami inilah,
yang sekarang diburu oleh para wisatawan. Kolektifitas selalu menemukan elan
vitalnya. Orang tidak perlu menyetujui pembangunan yang kelak mereka tidak
pernah menikmatinya. Pasar-pasar elit, gedung tinggi, hotel mewah, studio film
besar milik asing, semua tidak relevan dengan masa depan ekonomi masyarakat
secara menyeluruh. Mungkin segelintir orang akan berpengaruh, tapi efek
ketimpangan yang ditimbulkan kita tidak perlu berdebat.
Menjadi
pemikiran bersama, sanggupkah kita sabar dan mempertahankan kebudayaan leluhur?
Perjuangan ini tidak mudah, tapi bukan berarti sulit, menarik perhatian semua
mata kembali ke kampung budaya adalah upaya bersama masyarakat. Pemberdayan
masyarakat memungkinkan membawa kembali mata rantai nilai ini sehingga
menguntungkan masyarakat lokal. Kerinduan manusia pada lokalitas, kebudayaan
leluhur, kuliner lokal, arsitektur tua, kesenian dan tentu masih banyak lagi
yang patut dipertahankan.
Kita tidak perlu
menjadi Singapura yang maju tapi menyingkirkan nilai-nilai leluhur. Dibalik
megahnya gedung-gedung tinggi, ada kemiskinan, ada banyak individu rentan yang
tersingkir, ada ketimpangan kelas, ada perlombaan hidup yang semu. Ada oksigen
yang terenggut, tanah yang hilang hak untuk ditumbuhi tanaman, ada teknologi
yang tidak manusiawi, dan semua itu sudah dibayar dengan peningkatan ekonomi
yang semu. Yang murah menjadi mahal, yang guyub menjadi tercerai, yang alami
menjadi kimiawi, dan kerinduan kita pada warisan kampung lama yang sudah
digusur tidak akan bisa kembali.
Sebelum semua
terlambat kesejahteraan itu bukan soal menumpuknya uang. Kesejahteraan adalah
pemerataan hasil kolektifitas. Kesejahteraan adalah tanah yang terus dapat
menumbuhkan kebutuhan pangan manusia, kesejahteraan adalah penghuni rumah-rumah
yang saling berinteraksi, kesejahteraan itu tumbuhnya kebudayaan hasil dari
cipta, karsa dan karya. Sebelum terlambat menjadi kota kreatif, menyelamatkan
kampung budaya ternyata lebih penting dan manusiawi. Dan ini semua bukan
berarti menolak teknologi yang mempermudah kita dalam menjalani kehidupan.