Desa, secara geografis bisa lebih potensial untuk menciptakan suatu pasar
jika dibandingkan dengan daerah perkotaan. Pasar tersebut dapat menggerakan
aktivitas perekonomian untuk menuju masyarakatnya yang berdikari di bidang
ekonomi. Semua itu tentu tergantung dari siapa yang ada di dalam desa tersebut.
Desa dengan kondisi yang potensial untuk dijadikan pasar memang banyak.
Namun, manusia yang mempunyai kesadaran untuk membangun perekonomian melalui
penciptaan pasar dari hal-hal potensial di desa tersebut yang masih sulit
ditemui. Apalagi manusia yang organisator, yang bisa mendorong masyarakat desa
untuk bergerak kreatif, adalah hal yang lebih sulit untuk ditemui.
Ekonomi kreatif sebenarnya bisa diciptakan dalam suatu desa, dengan
syarat ada organisator yang kemudian mampu mengumpulkan SDM pada desa tersebut,
guna membangun kesadaran dan mendorong untuk terus bergerak bersama, demi
terciptanya budaya kreativitas pada desa tersebut.
Banyak desa yang membutuhkan organisator-organisator yang mampu
memunculkan sumber daya (alam dan manusia) yang potensial untuk merubah desa
menjadi pasar yang menghidupkan. Banyak dari penduduk desa, terutama pemudanya
yang merasa sulit mendapatkan kesuksesan di desanya sendiri, sehingga harus
keluar desa terlebih dahulu untuk dapat menciptakan suatu modal. Pulang dengan
hasil yang lumayan, namun beberapa waktu kemudian kembali berkehidupan seperti
biasanya. Begitu terus yang banyak dijumpai, terkhusus yang pernah penulis
jumpai.
belum banyak masyarakat desa yang berfikir tentang bagaimana cara
menciptakan kesuksesanya di dalam desanya sendiri. Berangkat dari hal tersebut,
maka Perlu ditumbuhkan sebuah kesadaran bahwa sebenarnya desa yang dia tinggali
adalah pasar yang cukup potensial apabila dikonsep sedemikian rupa. Untuk itu,
perlu organisator, inisiator dan kreator yang mampu membuka semua peluang yang
ada di dalam desa tersebut, agar tercipta suatu pasar yang mengundang daya
tarik orang dari luar desa untuk berkunjung ke desa tersebut dengan membawa
keuntungan. Sehingga, dengan begitu akan tercipta suatu pasar.
Desa Ponggok misalnya. Salah satu desa yang berada di Klaten, Jawa
Tengah. Ponggok merupakan desa dengan kemandirian ekonomi yang cukup baik.
Berkat inovasi dari Kepala Desanya, yang menggait para mahasiswa dan akademisi
untuk mengeksplorasi potensi Desa Ponggok, kini Desa Ponggok berhasil menyulap
desa yang sebelumnya berpenghasilann rendah menjadi desa yang diminati banyak
wisatawan, sehingga mampu melipat gandakan pendapatan desa sampai
berpuluh-puluh kali lipat.
Pendapatan Desa Ponggok yang sebelumnya hanya 80 juta rupiah pertahun,
bisa berlipat ganda menjadi 14,2 Milyar pada tahun 2017 lalu. sebenarnya apa
yang dilakukan di Desa Ponggok?
Desa Ponggok adalah desa yang memiliki potensi alam, terutama air yang
melimpah. Dari keberadaan air tersebut, akhirnya lahirlah sebuah ide pembuatan wisata
air “Umbul Ponggok”, dengan gaya arsitektur dan kreativitas yang menarik dan instagramable. Dengan menggerakkan
sumber daya manusia yang ada, kini Desa Ponggok yang sebelumnya sepi dan
terbelakang, kini menjadi ramai, sehingga menjadi pasar yang mampu mandiri
secara finansial.
Dari pengoptimalan potensi (SDA/SDM/Aset Sosial/Infrastruktur dan bangunan/Finansial)
yang dilakukan dengan bergotong royong bersama akademisi, mahasiswa dan warga,
kini Desa Ponggok meraup omset hingga milyaran rupiah pertahun. Dari
kemandirian finansial yang dialami Desa Ponggok, kini sarana dan prasarana
pendidikan dan kesehatan mampu dibiayai sendiri tanpa menunggu uluran tangan
pemerintah.
Dari profit yang berhasil diperoleh Desa Ponggok, Kepala Desa Ponggok
mampu membuat program “satu rumah satu sarjana”. Dimana setiap mahasiswa dari
Desa Ponggok diberikan beasiswa berupa uang tunai sebesar 300 ribu perbulan.
Selain itu, kesehatan mayarakat Ponggok yang belum terasuransikan oleh dinas,
semua di asuransikan dan dibiayai oleh desa, melalui JamKesDes (Jaminan
Kesehatan Desa). Semua biaya untuk itu diperoleh dari keuntungan dari
kreativitas penciptaan pasar Desa Ponggok Tersebut.
Melalui pemanfaatan dana desa dari pemerintah, Ponggok memiliki Badan
Usaha Milik Desa (BumDes) di sektor pariwisata, perikanan, toko desa, kios dan
kuliner, resto, home stay (untuk para pengunjung yang menginap), rental mobil,
penyewaan gedung dan jasa Event Organizer (EO) dan catering.
Dari berbagai macam unit usaha yang ada di Desa Ponggok tersebut berhasil
mengumpulkan omset mencapai 14, 2 Milyar Rupiah, tercatat pada tutup buku pada
tahun 2017 lalu.
Seharusnya lebih banyak desa yang seperti halnya Desa Ponggok yang mampu
menciptakan pasar, mampu menciptakan perekonomian masyarakat yang mandiri,
mampu menciptakan pendapatan finansialnya sendiri. Dengan memberikan
ruang-ruang kreativitas, dan mendorong masyarakat untuk bersama-sama
mengoptimalkan potensi alam yang ada.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam membangun sebuah pasar adalah
pemanfaatan media sosial. Semakin gencar promosi melalui media sosial, maka
akan semakin membuat apa yang kita bangun diketahui oleh masyarakat luas.
Dengan begitu, sangat evektif untuk menarik masyarakat luar (wisatawan) untuk
datang ke desa.
Di Lampung sendiri, mulai bermunculan gerakan-gerakan kreatif semacam
itu. Payungi di Kota Metro misalnya. Pasar Digital yang melibatkan kreativitas
masyarakat, akademisi dan mahasiswa, baik di bidang kuliner, mural, dan
kreativitas lain. Payungi Kota Metro mengoptimalkan media sosial dalam proses
marketingnya. Hingga sampai saat ini, omset rata-rata perbulan mencapai 45 Juta
Rupiah, dengan omset keseluruhan belum ada satu tahun sudah mencapai lebih dari
1 Milyar Rupiah.
Selain Payungi, ada juga Pasar Senyum Iringmulyo (Pasir) yang juga
merupakan gagasan dalam menciptakan pasar untuk masyarakat. Konsep Pasir hampir
sama dengan Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi), dengan tempat yang sama-sama di
Kota Metro
Di Tulang Bawang Barat (Tubaba) juga ada kreativitas berupa bangunan
arsitektur berbahan bamboo yang cukup instagramable, sehingga cukup menarik
dikunjungi. Jika dikelola secara optimal dan sustainable tentu juga bisa menciptakan pasar sendiri.
Tentu masih banyak desa-desa di Indonesia, khususnya di Lampung yang
sangat potensial untuk dikembangkan untuk menjadi tempat pencurahan
kreativitas. Semua tinggal bagaimana menyadarkan dan menggerakkan
masyarakatnya, untuk bersama-sama mencari apa potensi yang dapat dimunculkan.
Yang jelas, ekonomi kreatif dapat lahir dari kreativitas-kreativitas yang
dipadukan. Kreativitas ditumbuhkan bersama-sama dengan bentuk yang
berbeda-beda, sampai kemudian membentuk sebuah bola inovasi yang dapat pecah
dan menumpahkan warna baru pada suatu desa. Dengan menghidupkan semangat gotong
royong, yang mampu merubah desa menjadi market
yang potensial untuk menumbuhkan perekonomian.
Kreativitas yang tanpa batas tidak perlu memerlukan ruang yang lapan,
dalam situasi sesempit dan sesulit apapun, kreativitas tetap harus berkembang.
Karena sejatinya kreativitas itu tanpa batas. Dengan terus menghadirkan
stimulus-stimulus untuk memicu lahirnya kreativitas tersebut.
Penulis :WEPO