Kurban Mencegah Penindasan Sosial

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 18/06/2024 – 11 Dzulhijjah 1445 H

Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro)

Pernahkah kita berpikir bahwa di saat kita pergi haji berkali- kali tetapi tetangga yang susah saja kita tidak tergerak untuk membantu, atau di kala kita memiliki kelebihan harta yang tiada terkira jumlahnya tetapi kita tidak pernah sekalipun rela berkorban untuk orang lain yang lebih membutuhkan, terus apa makna hidup ini bagi kita sebagai seorang haji atau hartawan? Jangan- jangan sikap demikian menjadi wujud paling nyata dari apa yang disebut orang sebagai “penindasan sosial” (kezaliman kolektif)?”

Kapan penindasan sosial itu berlangsung secara masif di tengah masyarakat? Konon, kata orang, ketika sikap saling menolong, saling membutuhkan, dan saling peduli di antara sesama anggota masyarakat, menghilang dari masyarakat tersebut, justru oleh orang-orang yang bergelar haji atau kaum hartawan. Haji dan harta yang dimiliki, ternyata tidak memiliki manfaat sosial.

Jika seseorang yang telah dikarunia julukan haji atau dilimpahkan kepadanya sekumpulan harta tetapi tidak memiliki sikap menolong, membantu, dan peduli, niscaya kualitas dan kemabruran hajinya atau kebersihan dan kehalalan hartanya menjadi“ tanda tanya besar” bagi kemuliaan dan kehormatannya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Perhatikan peringatan Rasulullah saw dalam sebuah kesempatan bersama para sahabat beliau, “Barangsiapa menolong menghilangkan kesusahan orang Mukmin, Allah akan menolong menghilangkan kesusahannya di Hari Kiamat. Barangsiapa membantu memudahkan orang Mukmin dalam kesulitannya, Allah akan membantu memudah- kan kesulitannya di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu mau menolong saudaranya.” (HR. Mutafqqun ‘Alaih).

Berarti, jika seorang haji tidak memiliki kepedulian sosial berarti dia sedang melakukan tindakan sebaliknya, yakni penindasan sosial. Seorang hartawan yang tidak bersedia berkorban untuk orang lain berarti dia sedang berjuang untuk menghancur- kan hartanya dari jalan kebajikan. Boleh jadi dia memiliki banyak harta tetapi harta itu tidak memberikan dia kebahagiaan, sebagai efek dari kehilangan berkah dan rahmat dari Allah swt. Bukankah dalam banyak kasus acap kita saksikan banyak orang kaya harta tetapi kehidupan pribadinya berantakan? Anak tersangkut narkoba, istri berselingkuh, dia terjerat korupsi, dan akhirnya mati tak berdaya di penjara dengan segala kehancurannya. Konon, semua ini terjadi karena selama harta benda di tangannya, harta itu tidak memiliki manfaat sosial, bahkan harta yang diperoleh sedemikian banyak itu, lupa juga mengeluarkan hak-hak fakir miskin dan anak-anak yatim yang telantar itu.

Teladan Sejarah

Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa ada seorang bapak berulangkali naik haji, bahkan sampai sembilan kali. Dia merasa dirinya sudah cukup bekal untuk menghadap Allah. Banyak or- ang memuji bapak ini karena rajin salat, tak pernah lupa puasa termasuk puasa senin-kamis, dan tentu saja naik haji berulang- ulang, meskipun Pak Haji ini pelitnya bukan kepalang.

Singkat cerita, ketika dia meninggal dunia, dia dihadapkan kepada mahkamah Allah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, maka terjadilah dialog berikut ini. “Bagaimana dengan salatmu wahai hamba-ku yang saleh?” Sambil tersenyum Pak Haji ini meminta malaikat Raqib dan Atid untuk menjawab, “Ya, salatnya sangat baik, tidak saja salat wajib tetapi berbagai jenis salat sunat pun dilakukan dengan khusuk,” tegas kedua malaikat pencatat amal baik dan buruk manusia ini.

“Hebat sekali hamba-Ku ini,” sanjung Allah.

“Bagaimana dengan puasamu?” Dia pun tersenyum sambil menoleh kepada kedua malaikat ini dan mengisyaratkan biar me- reka saja yang menjawab, “Ya, puasanya pun sangat baik, karena dia tidak saja puasa wajib tetapi juga berbagai jenis puasa sunat pun dilakukan dengan patuh!”

“Luar biasa hamba-Ku ini!” puji Allah lagi.

Bagaimana dengan hajimu? Lagi-lagi dia meminta kembali kedua malaikat pencatat amal baik dan burk itu untuk menjawabnya. Lalu kedua malaikat ini menjawab, “Hajinya pun baik, malah sangat baik karena sampai sembilan kali bolak-balik menengok Ka’bah.” Allah kembali bertanya, “Berapa kali Aku wajibkan umat Muhammad untuk pergi haji, wahai hamba-Ku? Or- ang itu menjawab, “Hanya satu kali ya Allah!”

“Lantas, mengapa engkau melakukannya sampai sembilan kali? Apakah engkau tidak memahami perintah-Ku?”

“Ampuni aku ya Allah, tetapi aku termasuk di antara hamba-Mu yang paling mampu untuk melakukannya, maka kulakukan sesuai dengan perintah-Mu: wajib hanya sekali, selebihnya adalah sunat. Aku melakukan yang wajib dan sunat dengan baik.”

“Kalau begitu, hadirkan tetangganya!” perintah Allah.

“Bagaimana pendapatmu tentang hamba-Ku ini?”

Sang tetangga menjawab, “Hamba-Mu ini memang orang saleh, saking salahnya, dia hanya mengingat-Mu tetapi lupa dengan tetangganya. Dia hanya mencintai-Mu tetapi lalai kepada sesama manusia. Tetangganya tidak makan dia malah membuat pesta mewah di rumahnya. Madrasah dan masjid kami hampir roboh, anak-anak kami tidak bisa sekolah karena tak ada biaya, dia malah pergi haji sampai sembilan kali.”

“Bagaimana pendapatmu tentang zakat orang ini?

Pak Haji tampak muram. Tetangganya kembali bersaksi. “Kalau masalah itu saya hanya tahu sedikit. Dia tidak pernah berderma untuk orang banyak. Di kampung kami, dia disebut orang pelit.” Maka malaikat Raqib dan Atid menjawab, “Zakat fitrah (zakat diri) dia memang baik, tetapi zakat mal (zakat sosial) dia tidak pernah ditunaikan dengan baik. Bahkan, dia cenderung menyembunyikannya. Dia pun tidak pernah ber- korban untuk lingkungannya, walaupun dia tahu mereka amat membutuhkan pertolongannya.”

“Seretlah dia ke neraka sekarang juga!” Allah berteriak dalam marah yang menggelegar. Langit dan bumi berguncang. Pak Haji sembilan kali itu terkulai dalam sujud hampa. “Hamba seperti kamu ini,” kata Allah, “tidak pantas menjadi penghuni surga- Ku. Bukankah Aku sudah katakan, barangsiapa yang tidak mencintai saudaranya maka Aku pun tidak akan mencintainya, barangsiapa yang tidak menolong saudaranya maka Aku pun tidak akan menolongnya?” Bukankah Aku sudah tegaskan dalam firman-Ku, Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak kepadamu. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (Qs. Al-Kautsar: 1-2). Mengapa engkau beribadah kepada-Ku tetapi melupakan ibadah kepada saudaramu? Cinta- mu kepada-ku berbalas jika kamu telah mencintai saudaramu.”

Penindasan Sosial

Merujuk pada kisah di atas, maka ada beberapa catatan yang perlu kita tegaskan di sini.

Pertama, prinsip hablumminallah (membangun hubungan baik dengan Allah) wa hablumminannas (menjalin hubungan baik dengan sesama manusia) adalah dua kenyataan yang tak ter- pisahkan. Bagaikan dua sisi dari mata uang yang sama: berjalin berkelindan, sama dan bersamaan. Mengutamakan yang satu sambil menelantarkan yang lain adalah kezaliman yang tak ter- maafkan. Ibadah apapun––baik berbentuk mahdah maupun ghairu mahdah. Ibadah mahdah seperti syahadat, salat, puasa, zakat, maupun haji pada hakikatnya memiliki dua dimensi sekaligus: vertikal (personal commitment) dan horisontal (social commitment). Maka Allah benar ketika mengatakan, “Manusia tidak pernah mencapai cinta-Ku sebelum dia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai-Ku.”

Kedua, komitmen personal dan individual itu haruslah mewujud melalui komitmen sosial dan komunal, jika hal itu tidak bisa dilakukan maka manusia hanya berdiri sebagai pohon tetapi tidak memiliki buah. Padahal buah adalah wujud kemanfaatan sebuah pohon bagi lingkungannya. Maka benar kata Rasulullah, “Khairunnâsi anfa`uhum linnâsi–Manusia terbaik adalah orang yang paling banyak memberi manfaat buat orang lain.”

Ketiga, tanpa komitmen sosial maka agama hanya menjadi dogma dan dongeng, agama tidak riil dan tidak pula hidup di hati setiap umat. Agama hanya menjadi beban bukan berkah. Agama hanya tumbuh menjadi candu tetapi tidak hadir sebagai cinta. Agama sebagai cinta adalah agama yang memberi “manfaat sosial” tiada tara. Agama sebagai candu adalah agama yang memberi “kepuasan pribadi” tetapi menimbulkan penindasan sosial bagi yang tidak menggunakannya.Wallahu a’lam.

 

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.