Dedi Irwansyah
Guru yang sempurna, kurikulum yang paripurna, pelajaran yang tanpa cela. Mungkin itu semua tidak pernah ada. Karena kita manusia selalu bertumbuh dan berkembang. (Louise El Yaafouri)
Kurikulum seperti memiliki rukun. Narasi besar tentang kurikulum memuat empat rukun: (1) tujuan (goals), (2) materi (content), (3) metode (methods) dan (4) evaluasi (evaluation). Dalam bahasa sederhana: lulusannya mau dijadikan apa? Mau diajarkan apa? Mau diajar dengan metode apa? Mau dinilai dengan cara apa? Jika, misalnya, lulusan diproyeksikan menjadi peneliti, akan diperkuat atau diperbanyak mata kuliah yang terkait metodologi penelitian. Ragam mata kuliah tersebut diajarkan dengan metode yang membuat mahasiswa bisa menghasilkan karya tulis. Terakhir, penilaian didasarkan pada kemampuan mahasiswa dalam menganalisis, mengaplikasikan, merancang, dan menghasilkan karya tulis.
Dunia pendidikan berkembang pesat. Ditandai dengan spesifikasi. Semakin detail, semakin baik. Begitu juga dengan aspek tujuan (goals) yang menjadi rukun kurikulum. Kini tampak semakin presisi. Ada tujuan jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek. Tujuan jangka panjang tercermin pada Profil Lulusan (PL). Ia memuat proyeksi lulusan 3 hingga 10 tahun ke depan. Penyusun PL perlu menjawab sebuah pertanyaan: 3 sampai 10 tahun ke depan, lulusan kita akan bekerja sebagai apa? Peran apa yang akan bisa mereka lakukan di tengah Masyarakat? Tentu saja, ini bukan jenis pertanyaan yang mudah. Jawabannya tidak pernah sederhana. Dan tidak laik dikerjakan bersendirian. Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu ‘diskusi’ dengan pihak-pihak yang telah atau akan memakai lulusan kita. Istilah sohih-nya, stakeholders. Juga perlu melihat trend pasar kerja, atau market signals. Dan, bila mungkin dilengkapi dengan telaah akademik yang solid. Poin terakhir, jika tidak salah, dikenal dengan terma scientific vision. Intinya, PL sebagai tujuan jangka panjang, jangan dikerjakan sendiri.
PL seperti gajah, yang tidak mungkin dilahap dalam sekejap. Ia perlu dipecah menjadi tujuan jangka menengah. Karena itu, PL dipecah menjadi SKL yang dirumuskan melalui CPL. Sebagai penyegar ingatan saja, SKL adalah singkatan dari Standar Kompetensi Lulusan sedang CPL adalah Capaian Pembelajaran Lulusan. Penyusunan SKL/CPL Program Studi cukup menantang karena perlu disesuaikan dengan visi dan misi institusi, Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti), Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), needs assessment, trend perkembangan IPTEK, dan hasil benchmarking.
Karena sifatnya sebagai tujuan jangka menengah, SKL/CPL menjadi tujuan yang mesti dicapai pada akhir masa studi. Artinya, pada saat wisuda, para wisudawan dan wisudawati dipastikan telah memiliki gugusan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan sikap (attitude) yang termuat dalam SKL/CPL. Di hari wisuda, gajah itu sudah ditaklukkan dilahap.
Selama proses perkuliahan atau masa studi, sang gajah ‘dipreteli’ bagian demi bagian. Di titik ini, ada tujuan jangka pendek. Ada CPMK, Capaian Pembelajaran Mata Kuliah, dan Sub-CPMK. CPMK terlihat pada akhir perkuliahan, sedang Sub-CPMK pada akhir setiap bahasan, tema, atau topik. Long story short, kurikulum itu bisa seperti gajah yang besar. Bagian-bagain tubuh gajah ibarat CPMK dan Sub-CPMK. Dan, gabungan utuh dari bagian tubuh gajah, kira-kira adalah SKL dan CPL-nya.
Jadi, ada tujuan (goals) yang menjadi salah satu rukun kurikulum. Tujuan itu besar seperti gajah. Agar menjadi realistis, presisi, dan terukur, perlu disusun tujuan besar/panjang, sedang/menengah, kecil/pendek. Sehingga terbaca, PL, SKL/CPL, CPMK, Sub-CPMK.
Seperti gajah, kurikulum adalah sesuatu yang besar. Pengerjaan kurikulum adalah gawe besar. Sehingga, kerja sama, koordinasi, dan doa mutlak diperlukan. “Ya Kariim, kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat; dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak Engkau kabulkan.” Wallahu a’lam.