socio
eco-techno
preneurship

Madinah al-Munawarah

Madinah al-Munawarah

Cover Artikel 2024_20240630_165316_0000

metrouniv.ac.id – 30/06/2024 – 23 Dzulhijjah 1445 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Madinah terletak di sebelah Utara Mekah. Jarak antara Mekah dan Madinah sekitar 430 km dan bila ditempuh dengan bis memakan waktu kurang lebih enam jam. Saat ini perjalanan darat Mekah dan Madinah melewati jalan beraspal mulus bebas hambatan dan tentu saja bebas biaya. Lalu lintas cenderung sepi, satu dua kendaraan sesekali beriringan dan di sisi sebelahnya juga satu dua lalu lalang berlawanan arah. Di pertengahan perjalanan bis akan berhenti untuk istirahat di rest area. Di tempat itu para penziarah bisa shalat dan makan dengan menu jazirah Arab.

Suhu udara kota Madinah hampir sama dengan Mekah bahkan saat ini satu dua derajat lebih panas. Berkisar antara 42 derajat hingga 50 derajat Celcius. Sedikit berbeda dengan Mekah, kontur tanah di Madinah cenderung rata, tapi bukan berarti tidak ada bukit dan pegunungan. Madinah lebih banyak memiliki permukaan tanah yang rata dan luas dibandingkan dengan Mekah yang permukaan tanahnya cenderung berbukit naik turun kecuali di bagian lembah antar perbukitan.

Sepanjang perjalanan antara Mekah dan Madinah kita bisa menyaksikan lahan terhampar kering kerontang nyaris tanpa tumbuhan. Ada beberapa tanaman yang tumbuh bertahan hidup di tengah panas dan gersangnya Madinah. Permukaan tanah yang merupakan dataran luas itu dilapisi permukaan debu berpasir dan batu-batu kecil. Bukit dan gunung di Madinah memiliki kontur yang sedikit berbeda dengan Mekah. Jika bukit dan gunung di Mekah permukaannya dilapisi bebatuan yang besar-besar, namun di Madinah permukaan bukit dan gunung dilapisi batuan yang lebih kecil-kecil, dari jauh nampak seperti batu-batu split. Tidak persisi seperti itu, lebih tepatnya lapisan batu-batu yang ukurannya lebih kecil dibandingkan di Mekah. Pun begitu beberapa permukaan yang rata.

Perjalanan dari Mekah ke Madinah mengingatkan kita akan perjalanan Hijrah Nabi SAW dan para sahabatnya yang menjadi tonggak perjuangan dakwah Islam. Jarak yang begitu jauh dengan suhu udara yang panas, serta kondisi jalan yang tentu saja tidak sebagus sekarang ini. Terjadi pada satu setengah abad yang lalu. Dapat dibayangkan betapa beratnya perjalanan hijrah itu. Jangan dikata alat transportasi yang digunakan saat itu, tentu juga tidak seperti sekarang ini. Rasulullah SAW dan para sahabatnya berhijrah dengan berjalan kaki dan atau dengan tunggangan unta untuk mengangkut perbekalan. Melakukan perjalanan hijrah yang fenomenal itu.

Di Madinah, Beliau dan para pengikutnya disambut oleh penduduk Madinah dengan suka cita dan tangan terbuka. Penduduk Madinah itulah yang kemudian dijuluki kaum Anshor, kaum penolong atau orang-orang yang secara sukarela menolong Nabi dan sahabatnya. Nabi dan sahabatnya kemudian dijuluki sebagai kaum Muhajirin. Orang-orang yang berhijrah. Ansor dan Muhajirin kemudian bersatu, bahu-membahu, bantu membantu dan tolong menolong dalam suka maupun duka untuk perjuangan dan dakwah Islam.

Setelah beberapa waktu di Madinah, Nabi kemudian mendirikan masjid yang diberi nama Masjid Nabawi. Dibangun di atas tanah milik dua orang anak yatim Anshar bernama Sahl dan Suhail. Anak-anak itu berniat mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid, namun Nabi menghargai tanah itu dengan uang 10 Dinar. Maka dibangunlah masjid yang menjadi cikal bakal bagi perkembangan dakwah Islam.

Di Masjid inilah Nabi berdakwah, membimbing dan mendidik kaum muslimin dengan ajaran dan nilai-nilai ke-Islaman. Masjid Nabawi menjadi pusat dakwah, pusat pendidikan sekaligus sebagai pusat peradaban Islam di Madinah. Di Madinah, Nabi mendirikan untuk pertama kalinya pemerintahan yang mengatur ketertiban dan kesejahteraan kaum muslimin. Pada kemudian hari, dari Madinah inilah Islam bertumbuh dan berkembang menjadi kuat dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Nabi Muhammad SAW memberi nama bagi kota yang Beliau bangun dengan nama Madinatul Munawarah yang artinya Kota yang Bercahaya. Kota yang bercahaya itu bukan berarti kota yang memiliki banyak lampu, tetapi bermakna kota yang menjadi pusat keunggulan, pusat kebudayaan dan peradaban. Kota yang memberikan pencerahan bagi semesta alam, kota cahaya di atas cahaya. Kota yang menjadi spirit perubahan dan kemajuan. Dari kota inilah lahir tokoh-tokoh besar penggerak perubahan dan penjunjung tinggi panji-panji Islam. Mereka adalah para Khulafaur Rasyidin dan sahabat-sahabat Nabi yang mulia lainnya.

Apa yang menjadi harapan dan cita-cita Nabi kepada Madinatul Munawarah itu dari dahulu hingga sampai saat masih sangat terasa sekali. Madinah sekarang ini menjadi kota yang sangat maju. Jutaan orang setiap tahun datang ke kota ini untuk beribadah di masjid Nabawi sekaligus menapaktilasi ghirah (spirit) dan perjuangan Nabi dan para pengikutnya.

Masjid Nabawi sekarang ini dikelilingi oleh hotel-hotel berbintang dengan tata ruang berlapis-lapis dibatasi jalan ke jalan lainnya. Di bawah hotel-hotel itu berderet-deret toko-toko yang menjajakan dagangannya. Artefak sejarah kehidupan masa Nabi dan para sahabat masih dipertahankan hingga kini. Madinatul Munawarah bukan hanya sekedar pusat peradaban Islam, tapi sekarang ini betul-betul bercahaya dalam arti yang sesungguhnya yaitu lampu yang gemerlap terang benderang yang tidak ada bedanya antara siang dan malam. (MH.30.06.24).

Artikel Terkait

Haji: Sebuah Catatan Akhir

metrouniv.ac.id – 12/07/2024 – 6 Muharam 1446 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Setelah pelaksanaan puncak ibadah haji

Hijrah dan Strategi Perjuangan

metrouniv.ac.id – 12/07/2024 – 6 Muharam 1446 H Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro) Hijrah adalah

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.