MAHALNYA SEBUAH JURNAL ILMIAH

86WhatsApp-Image-2020-11-19-at-02.21.05

Dedi Irwansyah

Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan IAIN Metro

 

“It’s not what happens to you, but how you react to it that matters.â€?
(Epictetus)

 

Ada kisah inspiratif dalam The Way of the Sufi  karya Idries
Shah (1968). Di awal cerita, seorang bijak bestari bernama Dhun Nun Almishri kedatangan
anak muda yang membawa skeptisme tinggi tentang ajaran sufi. Sang guru melepas
cincin dari jemari, dan memberikannya ke pemuda itu. Penuh kelembutan, ia meminta
si pemuda menjualnya ke pasar dengan harga satu keping uang emas. Di pasar, tak
ada pembeli yang sudi membayar lebih dari sekeping uang perak. Ketika si pemuda
kembali, Dhun-Nun lantas memintanya membawa cincin itu ke ahli perhiasan. Sang
pemuda tercekat ketika sang ahli menghargai cincin itu seribu keping emas. Di
ujung kisah,  Dhun Nun lalu berwejang, “anak
muda. Pengetahuanmu tentang sufi sama sedikitnya dengan pengetahuan orang-orang
pasar itu terhadap cincin saya. Jika engkau ingin bisa menghargai sebuah cincin,
engkau harus melatih dirimu sedemikian rupa agar menjadi seorang ahli.�

Syahdan, di mata kebanyakan mahasiswa pencinta drama, cincin
sang guru barangkali bernasib sama dengan jurnal ilmiah. Bahkan bagi kalangan
mahasiswa penggiat tulis-menulis, jurnal kalah populer dibanding reportase,
essai, puisi, lagu, atau karya sastra. Bagi banyak orang, bahasa jurnal
seringkali kaku dan kering secara estetika. Penggunaan kata-kata di dalamnya
kurang mengharu-biru. Pun pesan yang dibawanya jarang menyentuh palung kalbu.
Jurnal tidak seperti narasi-narasi indah yang mengandalkan kekuatan diksi dan
mampu membuncah emosi. Karena sifatnya yang obyektif, presisi, dan rasional,
menulis jurnal seperti ‘memotret sebuah objek’. Dan karena sifatnya yang halus,
afektif, personal, dan subyektif, menulis sebuah essai, narasi, puisi, dan
prosa adalah seperti melukis sebuah objek. Walhasil, harga sebuah lukisan
seringkali jauh lebih mahal bagi orang kebanyakan. Pun keindahan sebuah lukisan
lebih gampang dicerna ketimbang akurasi sebuah potret. Sebuah pameran lukisan
bahkan  kerap lebih menarik banyak
pengujung daripada sebuah pameran fotografi.

Adalah kekeliruan penulis yang mengira bahwa tradisi
memotret ‘fenomena’ melalui jurnal ilmiah murni monopoli para dosen. Dan bahwa
mahasiswa ibarat semut yang lebih mudah menggerumuni legitnya bahasa yang
tersaji dalam ‘lukisan’ narasi. Hingga tiba suatu masa, penulis mencoba menawarkan
sebuah gagasan kepada sekelompok anak muda. Bahwa banyak peristiwa-peristiwa
pembentuk peradaban itu direkam melalui karya ilmiah dan karya sastra. Bagian
yang terkait dengan rasa, estetika, dan spiritualitas cenderung lebih bernas
dilukis melalui karya sastra atau narasi indah. Bagian yang rasional, objektif,
kognitif akan lebih jernih jika dipotret melalui karya ilmiah semacam jurnal. Dan
bahwa keduanya saling menopang dan diperlukan. Sama sekali tidak bertolak
belakang. Keduanya bisa dikuasai secara bersamaan. Kepada anak-anak muda itu
diyakinkan bahwa di tengah dominasi ‘lukisan’, kita memerlukan individu yang menguasai
teknik ‘memotret’ melalui jurnal. Singkat cerita, ada yang tergoda dengan
gagasan tersebut.

Lalu, segelintir anak muda di prodi Tadris Bahasa
Inggris IAIN Metro, belajar menulis jurnal. Coaching
singkat pun digelar. Kepada mereka disajikan teknik-teknik menyusun fakta
sosial, fakta literatur, state of the
art,
kontribusi tulisan, literature
review,
metodologi, findings,
discussion, reference manager,
dan cara mencari referensi ­online. Tiba masa komponen IMRAD (introduction, method, result, and
discussion)
tersusun padu, jurnal pun di-submit ke sebuah kompetisi berskala nasional. Jurnal lalu dinilai
oleh para pakar dan akhirnya dinyatakan layak sebagai runner up. Melegakan.

Kepada segelintir mahasiswa tersebut, kami kabarkan
‘harga sejati’ sebuah jurnal. Tentang  harga personal, komunal, institusional, bahkan
mondial dari sebuah publikasi jurnal ilmiah yang dilakukan mahasiswa. Secara personal, akan ada pride manakala banyak spot
light
kampus mengarah kepada mahasiswa penulis jurnal. Akan ada reward finansial yang jumlahnya cukup
fantastis dari panitia kompetisi. Dan jika jurnal akhirnya terpublikasi, bukan
tidak mungkin ia bisa menjadi penyetara skripsi. Artinya, sang mahasiswa tidak
perlu lagi menulis skripsi. Secara komunal,
mahasiswa penulis jurnal akan berkontribusi memenuhi sebuah sel borang
akreditasi yang jarang terisi. Secara institusional,
ada sumbangsih yang akan mendongkrak citra dan bonafide kampus. Dan secara mondial,
kita berharap, jurnal yang terpublikasi internasional akan mencuatkan penulis,
prodi penulis, institusi penulis ke tangga indeksasi bereputasi dunia. Mengetahui
potensi multiplier effect sebuah
jurnal seperti tergurat di atas, kita boleh tercekat tentang betapa berharganya
sebuah jurnal yang ditulis secara baik oleh mahasiswa.

Pencapaian mahasiswa IAIN Metro pada sebuah lomba
menulis karya ilmiah nasional di UIN Mataram itu menjadi justifikasi empiris
jika  jagat jurnal telah dilirik oleh
mahasiswa. Hipotesis bahwa mahasiswa tidak berminat atau tidak mampu menulis
jurnal, menjadi terbantahkan sudah. Tinggal saat yang sama, perlu diuji
hipotesis yang diajukan oleh Epictetus: respon terhadap sebuah peristiwa lebih
penting terhadap peristiwa itu sendiri. Nah, akankah ada respon massif dan
terstruktur terhadap peristiwa kemenangan itu? Sehingga kelak akan muncul lebih
banyak mahasiswa penggiat jurnal di IAIN Metro? Akankah ada lebih banyak angin
segar bagi para ‘pemotret’ di tengah atmosfir yang masih didominasi oleh para
pelukis? Semoga.

Metro, 20 November 2020

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.