metrouniv.ac.id – Dr.
Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Pendemi Covid-19 sudah
berjalan kurang satu setengah tahun dan
belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat ini. Berdasarkan
pengalaman sejarah pandemi di dunia dan berdasarakan perkiraan para ahli
epidemologi, pandemi memang tidak bisa diselesaikan dengan waktu singkat, perlu
waktu antara tiga hingga empat tahun untuk menuntaskan peristiwa pagebluk
ini. Tentu kita tidak berhenti berdoa
semoga pandemi covid-19 ini akan berakhir lebih cepat dari perkiraan para
epidemolog. Dalam waktu dekat atau setidaknya tahun depan harapannya sudah
berakhir.
Sebagai orang yang beriman,
maka peristiwa apapun yang kita alami di dunia harus selalu direfleksikan
secara spiritual sebagai ketentuan dari Allah SWT. Tidak ada satupun peristiwa
di dunia ini baik berupa peristiwa yang menggembirakan maupun peristiwa yang tidak
mengenakkan yang tidak berada dalam rencana dan ketentuan Allah SWT.
Lebih-lebih peristiwa bencana, seperti covid-19 ini, banyak pesan, hikmah dan nasehat yang bisa
dipetik bagi kehidupan kita selaku individu maupun sebagai bagian dari
masyarakat. Agama Islam mengajarkan
bahwa semua yang dialami manusia merupakan cobaan dari Allah SWT untuk menguji
tingkat kesabaran manusia. Dalam Alqur’an surat Al-Baqarah (2) ayat 155 Allah
SWT berfirman :
?????????
???? ?? ????? ?????? ???? ?? ?????? ???????
??????? ???? ???????
Dan sungguh akan Kami
berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa
dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS.Al-Baqarah (2) : 155).
Persis seperti yang
diingatkan Allah kepada kita bahwa cobaan yang berupa wabah pandemi
covid-19 ini membuat manusia mengalami
ketakutan dan kekhawatiran kalau-kalau dapat menulari diri dan keluarga serta
orang-orang terdekat. Pandemi juga telah menimbulkan kekurangan bahan makanan
bagi sebagian besar orang karena banyak diantara mereka kehilangan pekerjaan,
kehilangan penghasilan dan tumbangnya sistem produksi dan sumber-sumber
ekonomi. Diantara kita yang memiliki penghasilan tetap dan sumber pemasukan
yang banyak mungkin tidak begitu berpengaruh, namun bagi yang selama ini
mengandalkan dari usaha dan jasa harian
boleh jadi sekarang mereka mengalami himpitan eknomi yang luar biasa dan
sebagian lagi mungkin sudah pada tingkat kelaparan. Pandemi ini juga telah
menghilangkan banyak nyawa saudara kita, teman-teman dekat, orang-orang hebat
dan terkenal, para umara, ulama, artis dan banyak lagi yang lainnya. Dalam
beberapa hari ini isi berita di televisi dan sosial media berseliweran berita
tentang kematian saudara-saudara kita itu tanpa berhenti.
Semua itu dinyatakan oleh Allah SWT sebagai cobaan
hidup bagi manusia. Diantara segala cobaan itu, maka Allah berikan apresiasi,
penghormatan dan kegembiraan bagi siapapun yang bisa bersabar. Bencana, dengan demikian
dimaksudkan oleh Allah SWT untuk menguji kesabaran manusia. Siapa yang diuji
kesabarannya? Jawabnya, mereka orang-orang yang beriman. Allah berfirman dalam
kalam-Nya yang mulia bahwa jika seseorang mengaku beriman, ia tidak akan lepas
dari ujian, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut (29) ayat 2
:
????
????? ?? ?????? ?? ?????? ????? ??? ?? ??????
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan
dibiarkan (saja) mengatakan “Kami telah beriman,” sementara mereka tidak diuji
lagi? (QS. Al-Ankabut
(29) : 2).
Sebagai ujian keimanan, maka
lazimnya ujian ada yang lulus dan ada yang tidak lulus. Hanya Allah yang Maha
Agung yang tahu siapa yang lulus ujian keimanan dan siapa yang tidak lulus
ujian keimanan. Namun dari isyarat dan ajaran-ajaran-Nya parameternya bisa
diketahui. Orang-orang yang sabar dan penuh keikhlasan dalam menghadapi bencana
seraya ikut membantu siapapun yang kesusahan karena akibat-akibat yang
ditimbulkan dari bencana serta berusaha terus ikut mengatasi bencana sesuai
dengan kemampuannya, mareka itulah orang-orang yang lulus dari ujian Allah SWT.
Sebaliknya mereka yang ketika tertimpa bencana malah berkeluh kesah, menyesali
ketentuan Allah, mengingkari bahwa wabah adalah konspirasi bahkan memprovokasi
dan melemahkan upaya-upaya menolong dan menyelesaikan bencana, boleh jadi
mereka itu adalah orang-orang yang tidak lulus dalam ujian. Wallahu a’lam bishawab, hanya Allah
sebaik-baik hakim yang menilai dan memutuskan.
Mengikis Sikap Takabur
Semua bencana dan untuk
ujian yang terjadi di muka bumi ini merupakan ketentuan Allah SWT untuk
menunjukkan kepada kita kebesaran-Nya dan supaya manusia tidak merasa angkuh
dan sombong karena dengan musibah itu manusia menjadi tidak ada artinya
dihadapan Allah SWT. Dalam Surat Al-Hadid (57) ayat 22 Allah SWT berfirman :
??
???? ?? ????? ?? ????? ??? ?? ?????? ??? ?? ???
?? ??? ?? ?????? ?? ??? ??? ???? ????
Tiada suatu bencanapun yang
menimpa di bumi dan (tidak pula) pada
dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya
yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS. Al-Hadid : 22).
Bukan sebagai sesuatu yang
kebetulan jika bencana non alam seperti wabah covid-19 ini terjadi di saat
manusia membanggakan beberapa temuannya yang dinilai spektakuler.
Kebanggan tentang era digital, era industri 4,0, serta perkembangan teknologi Artificial
Intteligent (AI) yang dinilai bisa mengubah dan menyelesaikan semua
persoalan manusia. Temuan di bidang robotik yang dimasa depan bisa menggantikan
kerja manusia, kendaraan autonom, teknologi ruang angkasa, perekonomian
digital, dan lain sebagainya, telah menjadikan manusia seolah-olah bisa
menggantikan posisi Tuhan. Manusia seolah merasa menjadi Tuhan itu sendiri.
Lalu Allah uji dengan menurunkan pasukan yang tidak kelihatan karena sangking
kecilnya berupa pasukanvirus yang kemudian disebut dengan virus corona. Apakah
semua teknologi yang dibanggakan itu bisa mencegah kehadiran pasukan virus?
Atau setidaknya menghambatnya sajalah, supaya tidak menyebar? Ternyata, tidak.
Virus tetaplah virus buatan Allah SWT yang kemudian merangsek dan membunuh
jutaan manusia, merepotkan milyaran manusia yang katanya hebat itu.
Ternyata manusia itu lemah,
sebagaimana kodratnya. Manusia itu dari tadinya tidak ada dan suatu saat akan
tiada kembali keharibaan Allah SWT. Tidak selayaknya ia menyombongkan diri atau
bersikap takabur. Keagungan dan kebesaran adalah hanya milik Allah Sang
Pencipta, karena itu manusia tidak selayaknya menggunakan “jubah dan pakaian”
Allah SWT. Bencana berupa wabah pandemi covid-19 ini sudah cukup menjadi
pelajaran bahwa dalam kehidupan ini tidak boleh ada kesombongan dalam diri kita
manusia, baik kesombongan yang diakibatkan, karena harta yang dimiliki, pangkat
kedudukan yang diperoleh, kemolekan dan ketampanan tubuh jasmani, ilmu
pengetahuan yang didapatkan, teknologi yang ditemukan, bahkan karena ibadah
yang dilakukan. Karena semua itu tidak ada artinya dihadapan Allah SWT, Yang
Maha Kuasa dan Maha Agung.
Manusia Diuji dengan manusia
lainnya
Sesungguhnya manusia itu diuji dengan manusia lainnya.
Ujian orang tua adalah anak-anaknya demikian sebaliknya ujian anak-anak adalah
orang tuanya. Ujian suami adalah istri dan ujian istri adalah suami. Ujin guru
adalah murid-muridnya dan ujian murid adalah para gurunya. Ujian pemimpin
adalah rakyatnya dan ujian rakyat adalah para pemimpinnya. Demikianlah
kehidupan manusia itu sebenarnya saling menguji antara yang satu dengan yang
lainnya. Dan lagi-lagi Allah mengingatkan bahwa segala ujian itu dalam rangka
menguji kesabaran. Allah SWT berfirman :
??? ?????? ???? ??
???????? ??? ???? ??????? ?????? ?????? ??
??????? ?????? ????? ???? ???? ??????? ????
??? ?????
Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad) melainkan
mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan
sebagian kamu dengan sebagian lainnya sebagai ujian, Maukah kamu bersabar? Dan
adalah Tuhanmu maha Melihat. (QS.
Al-Furqan (25) : 20).
Para guru yang menghadapi murid dengan berbagai latar
belakang kemampuan sehingga tidak semuanya
mudah dididik dan diajar, maka bersabarlah karena itu ujian. Para orang
tua yang kewalahan mendidik anak-anaknya, maka besabarlah karena itu ujian bagi
orang tua. Para pemimpin yang sibuk dan letih melayani masyarakat, itupun
terkadang masih dicaci dan dibully, oleh
orang-orang yang dipimpinya, ketahuilah itu adalah bagian dari ujian. Begitu
sebaliknya, karena manusia itu berada dalam pusaran menguji dan diuji, diuji
dan menguji.
Hatta, meskipun demikian, kesabaran karena ujian itu
bukanlah kesabaran sebagaimana pandangan faham kaum jabbariah yaitu
sabar dengan menerima secara ikhlas tanpa usaha untuk memperbaikinya. Ini bukan
kesabaran seperti mayat yang diam saja meskipun dibolak balikkan. Kasabaran
dalam Islam adalah kesabaran yang dinamis dan progresif. Sabar dengan
senantiasa terus berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelesaikan segala
persoalan yang dihadapi. Sebagaimana ajaran Rasulullah tentang tawakkal. Suatu
saat ada seseorang meninggalkan begitu saja unta yang baru saja dikendarainya,
lalu ditanya Rasulullah mengapa tidak ditambatkan, ia menjawab karena sudah ia
serahkan nasib untanya kepada Allah SWT. Rasulullah kemudian mengingatkan agar
unta itu diikat dulu baru kemudian
bertawakkalah kepada Allah.
Di masa pandemi covid-19 ini, ujian kita yang dalam
sehat wal afiat adalah saudara-sudara kita yang terpapar dan terdampak
pandemi covid-19. Tidak cukup kita bersabar tanpa melakukan apapun bagi mereka.
Maka wujud kesabaran kita dalam menghadapi ujian ini adalah membantu dan
menolong mereka sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Bagi kita yang
memiliki kelebihan rezeki, sisihkan sebagiannya untuk mereka, yang kuat dan
punya kemampuan mitigasi bencana, jadilah volunteer untuk membantu mereka.
Termasuk bentuk kesabaran kita adalah menerapkan protokol kesehatan 5 M : Mencuci tangan dengan air yang
mengalir, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi
mobilitas. Termasuk juga bentuk kesabaran kita menghadapi pandemi adalah tidak
menyebarkan dan mempercayai berita-berita yang tidak benar seputar covid-19
kecuali dari para pengambil kebijakan dan pihak yang otoratatif. Ikutlah vaksin
karena vaksinasi adalah usaha untuk mencegah kebinasaan jiwa yang lebih parah
sebagai salah satu bentuk perwujudan dari maqasidus syari’ah yaitu
melindungi jiwa manusia. (mh.15.07.21)