metrouniv.ac.id – 10/01/2022
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan tahun 1443 H. Diperkirakan tanggal 1 Ramadhan 1443 H akan jatuh pada hari Sabtu, 2 April 2022 M. Ramadhan tahun ini sangat istimewa karena untuk perrtama kali pasca merebaknya pandemi Covid-19 pelaksanaan ibadah Ramadhan akan diberikan kelonggaran sebagaimana pelaksanaan ibadah Ramadhan sebelum Covid-19. Memasuki tahun ketiga pandemi covid-19 pemerintah nampaknya akan melonggarkan aktivitas masyarakat dalam berbagai sektor yang salah satunya adalah sektor keagamaan. Naga-naganya pemerintah akan menurunkan level pandemi covid 19 menjadi endemi saja. Hal itu berarti pembatasan-pembatasan kegiatan sosial yang selama ini diperketat akan dilonggarkan bahkan sangat mungkin akan dikembalikan lagi sebagaimana kondisi normal sebelum pandemi. Semoga saja demikian.
Seperti biasanya, bulan Ramadhan selalu disambut gegap gempita dan suka cita oleh seluruh umat Islam,termasuk umat Islam di Indonesia. Ramadhan adalah bulan yang selalu istimewa di hati kaum muslimin karena di bulan itulah segala amal ibadah dan kebaikan-kebaikan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Di bulan ini pula, orang-orang yang beriman diwajibkan melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istimewa karena di bulan inilah untuk pertama kalinya ayat Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT. Sedangkan tujuan puasa itu sendiri adalah agar manusia menjadi orang-orang yang bertakwa. (QS.Al-Baqarah: 183-185).
Bila direnungkan dan dipikirkan, ajaran Islam sesungguhnya sangat mendalam pesan spiritualnya bila dihubungkan dengan penetapan hari dan bulan tertentu yang didalamnya disyariatkan ibadah. Dalam satu hari, kita senantiasa diingatkan selama lima kali dengan kewajiban shalat lima waktu. Dalam satu minggu kita diberikan satu hari khusus yang umat Islam diwajibkan untuk beribadah di dalamnya, yaitu hari Jum’at. Penetapan satu hari dalam seminggu yang dikhususkan untuk beribadah seolah-olah seperti mekanisme untuk memberi waktu kepada manusia untuk callingdawn, merenung dan bertafakkur setelah hampir satu minggu penuh beraktivitas dalam kesibukan duniawi. Saat hari Jum’at, kita diwajibkan shalat Jum’at dan dalam rangkaian shalat itu ada Khutbah yang mengingatkan kembali manusia untuk bertakwa dan terus beramal shaleh. Jum’at seperti penyegaran rohaniah mingguan yang diberikan Allah kepada manusia agar hidupnya senantiasa dalam kontrol dan bimbingan syariat Islam.
Pun demikian, dengan Ramadhan. Allah memilihkan satu bulan dari dua belas bulan yang ada selama satu tahun sebagai wahana untuk bertafakkur, bermuhasabah dan mengkonsentrasikan diri untuk beribadah kepada Allah SWT. Setelah satu tahun penuh atau dua belas bulan full manusia beraktivitas memenuhi hasrat kehidupan duniawi. Bertebaran di muka bumi dengan kesibukan yang tanpa henti seolah-olah hidup tak akan pernah berakhir, maka Allah menyediakan satu bulan dari dua belas bulan itu untuk mengajak kembali manusia merenungi jatidirinya dan kembali mengingat tujuan hidupnya. Bulan yang disediakan itu adalah bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan itulah manusia diajak untuk merenung, melaksanakan ibadah puasa sebagai media katarsis rohani dan memperbanyak amal kebaikan agar mencapai derajat taqwa. Jika derajat taqwa itu tercapai maka manusia akan kembali menjadi fitri, suci kembali sebagaimana bayi yang baru dilahirkan.
Secara jasmaniah, puasa juga digunakan sebagai media untuk mengatur kembali ritme kerja lambung yang selama sebelas bulan penuh bekerja dengan sangat berat “menggiling” semua makanan yang dimasukkan ke dalam perut manusia. Terkadang segala yang dimasukkan itu over kapasitas dan mengandung banyak unsur yang tidak semuanya sehat sehingga kerja lambung menjadi semakin berat. Akibatnya, semua itu menjadi sumber timbulnya segala penyakit jasmani. Berpuasa selama satu bulan, dimana ritme kerja lambung diatur dan diupgrade kembali akan membuat sistem pencernaan mengalami proses peremajaan kembali atau setidaknya bisa sejenak istirahat untuk pemulihan kebugaran. Tidak salah jika kemudian, beberapa hasil riset membuktikan bahwa berpuasa dapat membuat tubuh menjadi lebih sehat.
Ramadhan Sebagai Bulan Pembakar
Kata Ramadhan sendiri berasal dari kata ramada atau ar-ramad yang memiliki arti panas yang menghanguskan atau kekeringan. Hal ini dikaitkan dengan Ramadhan yang jatuh pada bulan kesembilan dari penanggalan Hijriyah dan merupakan saat terjadinya musim panas.
Dalam beberapa perspektif, makna Ramadhan sebagai bulam pembakar dihubungkan dengan amalan dan perilaku manusia. Sebagaimana dimaklumi bahwa kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari perbuatan salah dan dosa. Selama satu tahun penuh, atau lebih tepatnya sebelas bulan dari dua belas bulan yang ada, sangat mungkin sekali manusia telah banyak melakukan perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat, baik dilakukan secara sadar maupun diluar kesengajaan. Maka Allah SWT menyediakan Ramadhan sebagai bulan yang didalamnya manusia dapat memohon ampun dari segala kesalahan dan dosa yang diperbuatnya. Dengan demikian Ramadhan adalah bulan dimana semua kesalahan dan dosa manusia akan dibakar dan dihapus oleh Allah SWT jika manusia benar-benar bertaubat kepada-Nya.
Tidak salah jika kemudian Rasulullah saw bersabda : Man shoma romadhona iimanan wahtisaban, ghufirolahu maa taqaddama min dambihi. Artinya kurang lebih “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan penuh instrospeksi, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. Dihapuskannya dosa-dosa yang telah dilakukan manusia di masa lalu artinya dosa-dosa yang telah diperbuat manusia di bulan-bulan setelah ramadhan tahun lalu hingga ramadhan tahun ini. Dengan demikian, sekali lagi, ramadhan sesuai dengan arti harfiahnya berarti bulan pembakaran dosa-dosa yang telah diperbuat manusia dari satu ramadhan ke ramadhan berikutnya.
Marhaban Ya Ramadhan, Selamat datang bulan Ramadhan 1443 H/2022 M. Penghulu segala bulan. Kami bergembira menyambutmu. Kami bersyukur masih dipertemukan denganmu. Ya Allah.. Ya Rahmaan, Ya Rahiim. Jadikanlah Ramadhan tahun ini seakan sebagai ramadhan terakhir bagi kami, sehingga kami bersungguh-sungguh dalam beribadah untuk meraup keagungan-Mu. (mh.22/03/22)