Marriage Celebrant dan Buku Berstempel Siger di Canberra

24Mufliha-Wijayati
Oleh: Mufliha Wijayati (Dosen IAIN Metro, Penerima Program Beasiswa Partnership in Islamic Education Scholarships (PIES) 2018)
 
Bahagia sekali, hari ini saya diajak sillaturrahim ke kediaman salah satu sesepuh Komunitas Muslim di Canberra, oleh ibunda Siti Mahmudah. Bapak yang diberi kewenangan oleh Pemerintah Australia untuk menikahkan orang-orang dari komunitas Muslim, semacam pak modin mungkin ya….(?) Di kartu namanya tercantum profesi marriage celebrant. Saya tak tau, di kampung mana beliau tinggal, tapi rasanya tak jauh dari kampus ANU. Secara, Canberra itu kota besar yang kecil. Memasuki minggu ketiga, saya masih kesulitan mengeja nama-nama kampung di Canberra apalagi mengingatnya. Yang aku tau beliau tinggal di salah satu flat atau apartemen yang diperuntukkan bagi para pensiunan alias sesepuh.

Yang lebih membahagiakan saya adalah kedatangan kami disambut dua kepala ikan salmon yang siap dimasak sesuai selera. Apalagi ini adalah ikan salmon perdana yang akan aku cicipi. Biasanya cukup ikan teri nasi madura bekal dari kolega di Metro dan ikan teri belah dari sepupu Jambi. Beruntung Ibu baik hati yang mengajakku pergi, memilih resep tomyam yang ridak jauh-jauh sekali rasanya dari pindang plus salad jawa alias pecel siram. 

Usai makan siang, Sie Bapak menawari saya untuk memilih buku-buku koleksinya untuk dibaca dan dimiliki. Biasanya buku itu kan harta karun buat para pecinta ilmu, dan ketat sekali menjaganya. Kalau di kampung saya, untuk bisa pinjam buku aja sampai harus meninggalkan jaminan surat tanah atau BPKB, saking sulitnya buku kembali. Karena ada prinsip "hanya orang bodoh yang mau meminjamkan buku, lebih bodoh lagi sudah dipinjami kok dikembalikan."Saya adalah korban dari prinsip ini. Tapi rupanya bukan sekedar meminjamkan, sie bapak rela mewakafkannya. Barangkali agar buku itu lebih bermanfaat.

Lagi-lagi saya terkejut, di salah satu buku yang saya pilih, tertera stempel dengan gambar siger dan menyebut nama Menggala, lengkapnya "Gelar Tuan Peninggam Alam Menggala". Saya tak tau apa maknanya, tapi feeling saya pemilik buku ini adalah bangsawan Lampung. Nanti biar kawan-kawan saya yang ahli budaya Lampung bisa bantu jelaskan makna gelar tersebut. Dua jejak Lampung kutemukan di Canberra. Mengurai rasa penasaran saya, kutanyakan pada sie Bapak, siapa gerangan pemilik buku ini. Sembari memanggil ingatannya, dia ceritakan bahwa benar buku itu milik orang lampung, dulu pengajar di ANU. "Dia sudah meninggal, dan anaknya-lah yang menghibahkan ke saya", tuturnya. Dan, buku itu kini dimiliki orang Lampung lagi. Masih percaya, bahwa ini kebetulan? Banyak buku dan majalah yang saya minati, tapi membayangkan draf yang masih tak jelas itu, kuurungkan niat untuk mengambil buku banyak-banyak.

Usai pilih-pilih buku, sie bapak menawarkan pijat elektrik di sudut ruang bacanya. Durasinya 40 menit, tapi rasanya beda dengan pijat elektrik di mall-mall atau pasar grosir yang pernah kurasakan. Nikmat-Mu tak berhenti di situ, usai pijat elektrik, lanjut pijat tangan supaya ga (suka) masuk angin. 

Jelang sore, masih ditemani rintik hujan sejak dini hari tadi, kuterima kabar melalui email kampus, bahwa besok seluruh aktifitas kampus libur karena banjir. Sedikit terkejut, karena rasanya hujannya tak terlalu lebat jika dibandingkan hujan di bumi khatulistiwa. Batinku, mungkin karena alam yang berbeda sehingga hujan seperti itu bisa mengundang banjir. Bergegas kami berpamitan, dan dengan senang hati Bapak mengantarkan kami pulang dengan mobilnya. Sepanjang jalan, ada beberapa ruas jalan yang ditutup, sehingga kami harus berputar mencari jalan alternatif. Alternatif atau jalan utama bagiku tidak penting, karena sama-sama asing. Aku juga melihat beberapa mobil besar semacam mobil tangki yang membersihkan genangan air yang menurutku tak terlalu banyak. 

Menejemen bencana yang luar biasa. Hujan seperti ini, tidak lazim di Canberra, apalagi ini summer. Tapi 'Allahu yaf'alu ma yurid'. Mengantisipasi terjadinya banjir, aktifitas kampus diliburkan, informasi dan peringatan melalui web dan email students masing-masing. Jalanan di'pel', ruas jalan tergenang air ditutup -khawatir ada mobil kepeleset, polisi berjaga-jaga di banyak ruas jalan. Siaga tanpa kegaduhan dan berita-berita hoax untuk lucu-lucuan.[]

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.