metrouniv.ac.id – 24/02/2023 – 04 Sya’ban 1444 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Sekedar ngudar rasa, belakangan ini saya banyak merenung. Sudah lama sebenarnya, tepatnya sejak mulai massifnya teknologi informasi yang ditandai dengan penggunaan sosial media dan digitalisasi berbagai lini kehidupan. Tentu di dalamnya termasuk digitalisasi dalam dunia pendidikan. Sebagai pendidik, merangseknya teknologi informasi dalam dunia pendidikan ini yang cukup menggelisahkan.
Teknologi informasi yang memberi dampak positif bagi dunia pendidikan sudah sama-sama dipahami. Tidak jadi persoalan. Namun dampak negatifnya bagi dunia pendidikan patut untuk menjadi pemikiran para praktisi pendidikan.
Sekarang ini sudah biasa dan lazim, ketika mahasiswa diberikan tugas untuk membuat karya tulis ilmiah, baik untuk kepentingan perkuliahan di kelas maupun karya penelitian untuk tugas akhir banyak mahasiswa menempuh cara yang instan. Kebanyakan mereka tidak mau bersusah payah dan bertungkus-tungkus untuk membaca buku, menelusuri literatur lalu menuangkan gagasannya dalam sebuah tulisan ilmiah. Cara instan dan pragmatis ditempuh, yaitu menelusuri internet, mencari artikel yang diinginkan, mendownload lalu mengcopy paste. Jadilah karya ilmiah yang diajukan untuk kepentingan akademik dan mendeclare sebagai karyanya. Persetan bahwa itu karya orang lain atau entah siapa yang mengunggah pertama.
Sebagai pendidik (dosen) saya bukan tidak tahu bahwa karya itu sebenarnya karya akademik yang di copy paste dari karya orang lain. Namun ketika karya itu ditolak dan mahasiswa disuruh membuat karya orisinal alasannya macam-macam. Banyak dosen dicap killer jika terlalu ketat secara akademik. Jika toh mahasiswa kembali dengan karya yang lain, karya itu juga dari hasil ngunduh copy paste tadi. Begitu berulang-ulang, dan akhirnya dengan pertimbangan untuk penyelesaian studi mahasiswa, kondisi itu ditoleransi. Jadilah dosen dengan sangat terpaksa terjebak dalam pragmatis akademik seperti itu. Semua terjebak dalam lingkaran setan pragmatisme tersebut. Semakin dalam dan dalam, entah sampai kapan bisa keluar.
Tarik menarik antara idealisme dan pragmatisme dalam dunia pendidikan sebenarnya bukan hal baru. Barry Sandy Sadewo (www.qureta.com) menyatakan bahwa pendidikan memang selalu menjadi instrumen penting dalam sejarah kehidupan. Dahulu pendidikan dikuasai oleh para filosof (Thales, Socrates, Plato, Aristoteles,dll). Kemudian pendidikan dikuasai oleh para raja (Alexander Agung, Marcus Aurelius,dll). Pendidikan juga pernah dikuasai oleh para kaum Agamawan (Yesus, Nabi Muhammad, Aquinas, dll). Pendidikan pernah dikuasai oleh para saintis (Guternberg, Newton, Einstein,dll). Dan sekarang pendidikan dikuasai oleh para kaum kapitalis liberal yang berideologi Pragmatisme.
Benar tidaknya bahwa sekarang orientasi pendidikan hanya untuk kepentingan kaum kapitalis dan kaum pragmatis, tentu kita semua bisa menilainya.
Arus besar pragmatisme yang melanda dunia pendidikan ini menjadi pekerjaan rumah kita semua. Khususnya bagi yang berada dalam rumah besar pendidikan. Kampus perguruan tinggi yang selama ini menjadi garda terdepan menjaga idealisme akademik tidak boleh larut dalam kenyataan ini. Semoga kegelisahan saya ini juga menjadi kegelisahan kita semua.
Ditengah sayup-sayup suara master ceremony memanggil mahasiswa untuk diwisuda, saya membayangkan wajah-wajah bahagia yang semu. Toh demikian, doa tetap dipanjatkan semoga mereka semua memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara. Tabik.. (mh.23.02.23), (Posting ss_humas).