metrouniv.ac.id – 03/02/2023 – 12 Sya’ban 1444 H
Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Wakil Dekan III FUAD IAIN Metro)
Ahmad Madkur, M.Pd (Dosen Prodi Tadris Bahasa Inggris IAIN Metro)
Mayoritas penduduk Indonesia yang bergama Islam ditambah dengan banyaknya institusi pendidikan di berbagai level yang berafiliasi dengan agama Islam dengan kurikulum yang menyakup pembelajaran bahasa Inggris, telah melahirkan sebuah populasi besar yang oleh al Faruqi (1995) disebut dengan Muslim users of the English language, atau pengguna bahasa Inggris dari kalangan Muslim. Salah satu hal yang menarik dari populasi besar ini adalah tujuan pembelajaran bahasa Inggris yang mereka miliki. Sementara sarjana Barat mengajukan kategori integratif dan instrumental untuk tujuan pembelajaran bahasa Inggris, di kalangan Muslim, pembelajaran bahasa Inggris berpotensi untuk tidak hanya terbatas pada tujuan integratif, atau untuk memahami budaya dan penutur bahasa Inggris, dan pada tujuan instrumental yang bersifat pragmatis seperti untuk mendapat pekerjaan dan beasiswa. Ada sebuah kebutuhan lain yang menjelma tujuan, yaitu untuk memahami naskah-naskah ke-Islaman yang ditulis dalam bahasa Inggris.
Karena keterkaitan-kuat antara Islam dan bahasa, naskah-naskah ke-Islaman tersebut umumnya memuat istilah yang bersumber dari bahasa Arab. Tidak semua istilah tersebut memiliki ekuivalensi yang sesuai dengan istilah dalam bahasa Inggris, terutama jika dikaitkan dengan ideologi yang terdapat di balik sebuah istilah. Kata God, misalnya, dipandang tidak ekuivalen dengan kata Allah, sebagaimana kata religion dengan kata al-dien (Elhady, 2003). Kesenjangan dalam ekuivalensi cenderung disebabkan oleh Barat yang sekuler dan Islam yang teologis.
Untuk menjembatani kebutuhan para pengguna bahasa Inggris dari kalangan Muslim tersebut, para sarjana telah mengajukan terma Islamic English sebagai varian bahasa Inggris yang membantu pebelajar untuk membangun Islamic schemata sehingga dapat memahami Islamic reading texts secara lebih baik. Fakta bahwa Islamic English belum secara luas dikaji, baik secara teoritis dan pedagogis, menjadi peluang sekaligus distingsi yang diusung oleh Program Studi Bahasa Inggrsi (S2), IAIN Metro. Diyakini bahwa Islamic English merupakan pembuka jalan untuk memahami Islamic texts dan Islamic literature yang memperkaya pengalaman peserta didik, sehingga peserta didik akan menemukan bahwa pembelajaran bahasa Inggris bukan semata sebagai sebuah intellectual journey namun juga sebagai penghela untuk sebuah spiritual journey berbasis agama Islam.
Pentingnya membangun distingsi pendidikan bahasa Inggris di PTAI juga untuk menjawab persoalan yang dialami guru-guru Bahasa Inggris di sekolah berbasis pesantren atau sekolah Islam lainnya. Salah satu temuan studi doktoral penulis, Madkur, adalah bahwa guru Bahasa Inggris di sekolah berbasis pesantren mengalami “kebingungan” dan “uncertainties” ketika memasuki dunia profesi pengajaran Bahasa Inggris di konteks sekolah berbasis pesantren. Mereka merasa bahwa pengetahuan dan pengalaman yang mereka dapatkan semasa berkuliah di program pendidikan guru Bahasa Inggris di perguruan tinggi belum mempersiapkan dan membekali mereka dengan kompetensi bagaimana mengajar bahasa Inggris untuk para santri atau peserta didik dalam konteks sekolah-sekolah Islam seperti pesantren yang tentunya memiliki karakteristik sosial dan budaya yang khas dan berbeda dari sekolah-sekolah lain. Misalnya, guru bahasa Inggris mengalami permasalahan di mana bahasa Inggris tidak memiliki posisi dan nilai urgensi yang sama dengan pelajaran keagamaan termasuk bahasa Arab yang menjadi fokus sistem pendidikan di pesantren. Hal ini kemudian berdampak kepada rendahnya motivasi dan ketertarikan peserta didik untuk mempelajari bahasa Inggris.
Berangkat dari permasalahan ini, guru bahasa Inggris perlu dibekali dengan pengetahuan dan kesadaran bahwa nilai dan budaya yang diterapkan di dalam sekolah tertentu merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi bagaimana guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Hal ini senada dengan pernyataan Ho, Holmes, dan Cooper (2004), different school cultures have different norms, attitudes, and expectations, and these differences have a significant influence on how instructional procedures should be carried out. Oleh karena itu, mengintegrasikan latar belakang sosial, budaya, bahasa serta keyakinan peserta didik kedalam pembelajaran Bahasa Inggris dapat menstimulasi mereka untuk lebih aktif terlibat dan berpartisipasi di dalam proses pembelajaran bahasa Inggris (Nam, 2020). Di sekolah-sekolah berbasis Islam, misalnya, penting bagi guru bahasa Inggris untuk mengkontektualisasikan pengajaran mereka dengan mengintegrasikan nilai-nilai atau pesan-pesan keIslaman yang tentunya dekat dengan budaya dan tradisi yang dibangun di sekolah tersebut.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki sistem perguruan tinggi Islam – baik negeri (seperti UIN, IAIN, dan STAIN) maupun swasta (seperti UNU, universitas Muhammadiyah, dan lain-lain) – yang paling luas di Asia Tenggara, dan mungkin di dunia, (Setiawan, 2020). Akan tetapi, PTKI ini belum menempatkan isu pengajaran bahasa Inggris yang sesuai konteks, khususnya konteks pesantren-based or Islam-affiliated schools di dalam program studi pendidikan Bahasa Inggris. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya guru bahasa Inggris berkualitas yang tidak hanya memiliki kompetensi pedagogik, profesional, dan linguistik yang memadai tetapi juga kompetensi kontekstual yang memahami kondisi kontekstual di sekolah-sekolah berbasis Islam. Sementara itu, jumlah sekolah di bawah naungan pesantren atau sekolah Islam lainnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Isbah (2020), semakin meningkat dan menjadi referensi bagi para orang tua untuk menyekolahkan putra putri mereka.
Hadirnya program S2 Tadris Bahasa Inggris di IAIN Metro diharapkan juga mengisi gap ini dengan menyiapkan calon-calon pendidik dan ilmuwan bahasa Inggris yang memahami teori-teori pembelajaran bahasa Inggris terkini dan memiliki paradigma culturally-responsive teaching yang mengakomodasi nilai, tradisi, karakteristik, pengalaman, dan perspektif siswa ke dalam pengajaran Bahasa Inggris yang lebih baik di konteks sekolah tertentu.
(Posting : ss_humas)