Membangun Keluarga yang Bertauhid

bg dashboard HD

Akhmad Syahid

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا
وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ
رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا
كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمّ
صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ
اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ
الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
, يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الحَمْدُ

Kaum muslimin yang
berbahagia

Puji syukur kita panjatkan kehadirat
Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan nikmat dan karuniaNya, di pagi yang
berbahagia ini kita masih bisa berkumpul dan melaksanakan amalan-amalan sunnah
khususnya sunnah mu’aqaddah yang berkaitan dengan hari raya idul adha, teriring
lantunan takbir, tahlil dan tahmid, sebagai symbol kebesaran Dzat Yang Maha
Besar. Kesempatan yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berikan berulang kali, bahkan puluhan kali
sampai saat ini, seyogyanya menjadikan kita lebih dekat kepadaNya. Selanjutnya,
tidak lupa kita bershalawat atas hamba pilihan, khotamul anbiya wal mursalin,
Habibullah Muhammad SAW, yang telah mengajarkan dinul haq, sehingga kita bisa
mengenal agama yang diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dihari yang berbahagia ini, khotib
mengajak kepada diri khotib dan para jama’ah semuanya,  untuk terus meningkatkan Taqwa kepada Allah ‘Azza
wa Jalla
sebagai ikhtiyar mendekatkan diri kepadaNya, sebagai ikhtiyar
mengurangi dosa-dosa yang telah kita kumpulkan, juga taqwa sebagai wujud rasa
syukur kita karena diberi hidayahNya.

 اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah shalat ‘id
yang berbahagia

Pada hari raya idul adha ini, kembali
kita mengenang kisah keluarga yang mengharukan, sekaligus keluarga yang
memiliki rasa saling perhatian antara satu anggota keluarga dengan anggota
keluarga yang lain. Setiap kali kita merayakan idul adha, kita teringat akan
kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam, sosok kepala keluarga yang
berhasil lulus dari ujian besar yang diberikan Allah ‘azza wa Jalla
kepadanya, sekaligus lulus dalam memimpin sebuah keluarga, sehingga terwujud
keluarga yang melahirkan generasi-generasi pembawa risalah Tauhid. Keberhasilan
yang dicapai oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihisholatu Was Sallam  tidak terlepas dari kuatnya Iman, kekuatan
keyakinan terhadap Dzat Yang Maha menghidupkan, Dzat yang mengatur Alam semesta
beserta isinya.

Kesuksesan yang diperoleh Nabi Ibrahim ‘Alaihisholatu
Was Sallam
 dan keluarganya
memberikan inspirasi kepada kita sebagai ummat Islam, bahwa dalam mengarungi
kehidupan dunia ini kita tidak bisa melepaskan diri dari Tauhid, bahkan harus
menjadikan tauhid sebagai perhatian utama dalam berbagai aktivitas yang kita
lakukan. Karena setiap persendian tubuh kita bisa berfungsi dengan baik sesuai
dengan kemauan kita disebabkan Allah mengizinkan persendian kita berfungsi. Terlebih
setiap persendian dan organ tubuh kita kelak akan menjadi saksi terhadap
amalan-amalan yang telah dilakukan selama di dunia. Allah subhanahu wa
Ta’ala
berfirman :

ô`tB Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4ÓsRé& uqèdur Ö`ÏB÷sãB ¼çm¨ZtÍ‹ósãZn=sù Zo4qu‹ym Zpt6ÍhŠsÛ ( óOßg¨YtƒÌ“ôfuZs9ur Nèdtô_r& Ç`|¡ômr'Î/ $tB (#qçR$Ÿ2 tbqè=yJ÷ètƒ ÇÒÐÈ  

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki
maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
(QS. An-Nahl : 97).

            Begitu pula Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihisholatu
Was Sallam
, begitu tinggi dan beratnya ujian yang diberikan kepadaNya,
tidak menurunkan sedikitpun keimanannya bahkan semakin kuat dan kokoh. Kita
semua masih ingat akan berbagai ujian berat yang menimpa beliau ‘Alaihisholatu
Was Sallam
 ; yang pertama,
Allah ‘Azza wa Jalla uji ia harus berhadapan langsung dengan ayahnya
sendiri ketika harus membersihkan kesyirikan di tengah-tengah kaumNya.

وَإِذْ
قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ
وَقَوْمَكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٧٤)

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya,
Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?
Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." (QS.
Al-an’am : 74)

Yang kedua,
ujian Nabi Ibrahim ‘Alaihisholatu Was Sallam  adalah harus meninggalakn istri dan anaknya
(Ismail ‘Alaihisholatu Was Sallam) ditengah-tengah gurun pasir yang panas
dan tandus tanpa mengetahui sebabnya dan harus berpisah dalam waktu lama, ada
yang menerangkan bahwa Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya selama 13
tahun. Ketiga, Allah berikan ujian yang tidak kalah beratnya, adalh Allah
perintahkan Ibrahim ‘Alaihisholatu Was Sallam  untuk menyembelih anaknya sendiri yaitu Ismail
‘Alaihisholatu Was Sallam . Dan masih ada lagi ujian-ujian berat lain yang
harus dihadapi oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihisholatu Was Sallam .

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Hadirin yang berbahagia

            Ujian-ujian berat tersebut
dihadapi Nabi Ibrahim dengan tegar dan sabar. Sebagai pembuktian keimanan yang
nyata, ketundukan dan kepatuhan seorang hamba terhadap sang Kholiq. Dari sini,
mari kita merenung dan istropeksi, ujian-ujian yang telah Allah timpakan kepada
kita, akankah kita mengatakan “aku sudah tidak sanggup menerima ujian ini”
atau kita mengatakan “Allah tidak sayang kepadaku” dan ucapan-ucapan
lain yang bermakna keluh kesah dalam menjalani kehidupan ini. Padahal Allah
Yang Maha Bijaksana telah menentukan perkara-perkara atas hambaNya dan tidak
ada yang melesat dari ketentuanNya. Dan Allah pun tidak akan memberikan ujian diatas
kemampuan dan kesanggupan hambaNya.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Hadirin yang berbahagia

            Disamping Nabi Ibrahim
‘Alaihisholatu Was Sallam  menguatkan
keimanan pribadinya, beliau juga menguatkan keimanan kepada istriNya. Cerminan
seorang suami yang perhatian terhadap istri, karena kunci menghadapi ujian dari
Dzat Yang Maha Tinggi adalah pada Tauhid yang kuat. Hal ini bisa kita lihat
ketika istri beliau yang bernama sarah, setelah bertahun-tahun berumah tanggah
namun Allah Subhanahu Wa Ta’ala  belum
mengizinkan mempunyai anak keturunan. Keluarga mana yang tidak merasakan sepi
dan sunyi jika dalam sebuah rumah tangga tidak ada sosok anak yang menjadi
kebanggaan orang tua. Riuh teriak dan tangis anak merupakan hiasan sebuah rumah
tangga.

Demikian pula yang beliau ‘Alaihisholatu
Was Sallam
 lakukan terhadap istri
keduanya yaitu Hajar. Tentu masih jelas dalam ingatan kita, salah satu ujian
berat yang harus dihadapi Hajar adalah harus membesarkan, mengasuh dan mendidik
anaknya yaitu yang bernama Ismail ‘Alaihisholatu Was Sallam  selama 13 tahun di tengah-tengah gurun pasir
yang tandus seorang diri tanpa ditemani suami dan tanpa kehadiran seorang pun
disana. Seandainya hal itu terjadi pada istri-istri kaum muslimin di zaman
sekarang ini, harus merawat dan membesarkan anak seorang diri ditempat yang
jauh dari masyarakat dan tidak tersedia stok makanan juga minuman. Apakah ia
akan sanggup seperti istri Nabi Ibrahim ‘Alaihisholatu Was Sallam.
Kira-kira apa yang terucap dari seorang istri demikian, atau mungkin
ucapan-ucapan orangtua, tetangga dan orang-orang sekitar.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah ‘id yang berbahagia

            Kekuatan iman juga
tertanam kuat pada pribadi Nabi Ismail ‘alaihisholatu was sallam, dengan
iman yang menghujam kuat dihatiNya, ketika ayahandanya mengutarakan perintah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala  untuk
menyembelihnya, maka dengan tenang dan tanpa rasa ragu, Nabi Ismail ‘Alaihisholatu
Was Sallam
 mengiyakan dan mendukung
perintah yang diterima ayahandanya. Hal ini tercantum dalam firman-Nya surat
Asy-Syafat 102.:

فَلَمَّا
بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (١٠٢)

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)
berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya
aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang
yang sabar".

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah ‘id yang berbahagia

            Momen
idul adha, merupakan momen yang sangat bersejarah bagi kita khususnya Ummat
Muslim sedunia, sejarah pembangunan dan peradaban Tauhid, yang mengajarkan
kepada kita, bahwa kunci dalam meraih kebahagiaan sejati dan keberhasilan
adalah ada pada kekuatan iman. Pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihisholatu
Was Sallam
 dengan bersiap-siap
menyembelih putranya, pada dasarnya bukanlah bermakna perintah mengorbankan jiwa
manusia, namun makna yang sebenarnya adalah kesediaan mengorbankan sesuatu yang
dicintai dan yang di idam-idamkan. Kita semua tahu, bahwa Ismail adalah anak
yang sangat dirindukan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihisholatu Was Sallam, dan rasa
rindunya semakin kuat ketika Dia (Ibrahim ‘Alaihisholatu Was Sallam )
harus berpisah dengan waktu 13 tahun lamanya, ketika Ismail ‘Alaihisholatu
Was Sallam
 masih kecil,
ketika rindu dan cinta menjadi satu padu dan memenuhi hati, saat itulah Allah Subhanahu
Wa Ta’ala
 menguji, apakah kecintaan
Ibrahim ‘Alaihisholatu Was Sallam  kepada anaknya bisa dikalahkan dengan rasa cintanya
kepada Dzat Yang Maha Pencipta. Melalui peristiwa tersebut, Allah semakin
bangga dan cinta kepada Ibrahim ‘Alaihisholatu Was Sallam, dikarenakan
Ibrahim ‘Alaihisholatu Was Sallam  telah membuktikan yang kesekian kalinya, bahwa
cintanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala  melebihi cintanya terhadap yang lain.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah ‘id yang berbahagia

            Dalam hadits yang
diriwayatkan oleh
Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’anhu:
Aku pernah mendengar Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَجَبَتْ
مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ
وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيّ

“Allah
Azza wa Jalla berfirman, “Wajiblah cinta-Ku bagi orang-orang yang saling
mencintai karena Aku, orang-orang yang saling bermajelis karena Aku,
orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku, dan orang-orang yang saling
berkorban karena Aku.” 
(HR. Malik dan Ahmad)

            Nabi
Ibrahim ‘Alaihisholatu Was Sallam  mengajarkan kepada kita melalui ibadah kurban,
ketika iman benar-benar tertanam kuat dalam jiwa, iman menjadi nahkoda dalam
kehidupan, dimanapun kita berada, kapan dan dalam kondisi apapun, kita akan
selalu ingat bahwa yang berkuasa atas diri kita adalah Allah SWT, sehingga ketika
Allah memanggil, maka saat itulah kita siap dan kita taat. Kerelaan Nabi
Ibrahim ‘Alaihisholatu Was Sallam  

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.