Penulis: Mufliha Wijayati (Dosen IAIN Metro, Penerima Program Beasiswa Partnership in Islamic Education Scholarships (PIES) 2018)
Judul ini saya kutip dari tema Pengajian bulanan Khataman Komunitas Muslim Canberra Periode April 2018. Pengajian memang tak selalu harus mendaras tentang ayat-ayat Qauliyah, tapi mengaji ayat kauniyah-Nya dengan kemasan apik membuat pengajian terasa lebih hidup dan menyegarkan. Berlokasi di Moncrieff, Suburb baru di tepian Canberra, komunitas Pengajian Canberra menghelat nobar film 'The Sultan and The Saint".
Masih dengan rundown acara yang sama, 1 juz dibaca masing-masing di rumah selama durasi 1 bulan, membaca juz 30 secara bersama di lokasi pengajian dan dipungkasi dengan doa khotmil Qur'an. Bertepatan dengan mi'raj nya Nabi Muhammad, ada tambahan agenda tawassul yang membuat 'aroma' Islam Nusantara terasa di Canberra. Setengah berbisik, kolega di samping saya bilang, "koyok jaman nang pondok". Aku balas dengan anggukan tanda setuju, sembari memori menerawang ke masa-masa 20-an tahun lalu. Aroma coto makasar dan camilan jajan pasar yang tersaji, semakin menguatkan aroma Nusantara di perantauan.
Film dokumenter ini menarasikan sepenggal kisah Perang Salib yang berjilid-jilid. Satu babakan yang diceritakan adalah perang Salib V dengan locus Mesir masa kekuasaan Sultan al-Kamil. Perang yang sejatinya tidak melulu bermotif agama, tapi ada motif ekonomi Mesir sebagai pintu masuk jalur perdagangan di area Timur Tengah. Energi teologi menjadi bahan bakar yang menyulut api peperangan dengan korban jiwa yang jumlahnya ribuan.
Di tengah narasi peperangan yang sarat dengan kekerasan, dendam, saling bunuh, ada mesej yang saya tangkap dari film ini bahwa ada "pertemuan iman" yang ditunjukkan antara Sultan Kamil dan Rahib Katolik saat Sang Rahib melakukan perundingan di Camp tentara Muslim. Sang Rahib menyaksikan bagaimana tentara-tentara Muslim berdialog dengan Rabb-nya, melalui sembahyang lima waktu. Rahib menyadari bahwa setiap makhluk memang harus 'sembahyang'. Sama dengan yang dilakukan umatnya. Sang Rahib juga merasakan penghormatan dan welas-asih yang diberikan Sultan al-Kamil yang sejatinya ‘tak menghendaki peperangan yang telah mengorbankan nilai kemanusiaan. Sama dengan pesan damai dan kasih sayang yang diembannya sebagai umat suci. Ada perjumpaan dari ajaran-ajaran agama yang sejatinya memang berada dalam aras besar Agama Ibrahim.
Saya luput menyaksikan ending filmnya seperti apa, karena saya gagal focus pada camilan yang hilir mudik tiada henti di hadapan saya. Ada tahu goreng ala sumedang yang rasanya nendang. Ada juga kue jajan pasar yang biasa kubeli di pasar pagi dengan harga 500 perak, terbuat dari tepung ketan dengan isi kacang hijau, saya lupa namanya. Tapi karena ini bukan film laga saya pastikan endingnya tidak tentang kemenangan di pihak tokoh protagonis dan kekalahan telak di pihak antagonis.
Dalam ulasan review film, salah satu jamaah menyampaikan bahwa persepsi tentang agama lain sebagai liyan yang berbeda telah terbatinkan sejak kita berusia kanak-kanak. Analogi dalam kumpulan bilangan matematika, bahwa jenis lain itu bukan bagian dari jenis kita membuat kita berjarak dengan agama lain. Dan itu sangat mempengaruhi bagaimana kita berelasi. Pikiran saya tiba-tiba menerawang pada pengalaman masa kecil. Dulu sekali di usia teenager, saya pernah ikut lomba paduan suara di ibukota kabupaten yang jaraknya 60 km dari rumah (jadi ketahuan kalo orang ndeso). Karena posisi sebagai dirijen, saya perform membelakangi audience. Kami perform dengan excellent, meski hanya juara dua karena juara pertama jatah tuan rumah. Pada saat hormat usai bernyanyi, saya berbalik arah untuk memberikan senyum paling manis pada audience. Di situ saya sangat terkejut bahwa lomba paduan suara ternyata dilakukan di sebuah Gereja. Ntah apa yang saya pikirkan, tapi Mufliha kecil saat itu merasa sangat "berdosa". Satu contoh persepsi bahwa di luar kita adalah liyan yang tertanam sejak kita usia dini. Bersyukur persepsi ini terkikis seiring dengan perjumpaan dengan banyaknya keragaman. Milliu tempat tinggal masa kecil yang memang beragam, juga bertemu dengan para guru (lahum al fatihah) yang mengajarkan akan beda, toleransi, dan keterbukaan.
Lalu, jika memang beda itu niscaya mengapa kita masih sibuk mencari-cari perbedaan, yang itu membuat kita semakin berjarak?? Bukankah lebih baik kita cari 'sama' yang kita punya agar harmoni itu bisa kita rasa. Selalu tebar damai dan kasih sayang, karena sejatinya hidup indah itu saat kita hening dalam kedamaian, bukan hingar bingar karena "kegaduhan" yang setiap saat dicipta tanpa jeda.
Film ini sarat makna, sayang tak sanggup kurekam banyak. Hanya sepenggal, dan semoga bermanfaat.