Memoar Purna Tugas

15. PAK Sukardi_Memoar_02092025.Cover Artikel 2025

metrouniv.ac.id – 2/09/2025 – 9 Robiul Awal 1447 H

Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Jurai Siwo Lampung)

“…jika berkaitan dengan hak, kami sangatlah membara. Dan jika itu tentang kewajiban, kami kerap lupa cara untuk menyala.”

Sukar untuk tidak menulis memoar tentang beliau. Tetang pendapat dan pengalaman pribadi penulis tentang tokoh ‘beliau’. Karena pada beliau, ada suara yang lahir dari kesunyian. Sejak beliau yang tidak berceramah. Bahkan cenderung diam dalam banyak bekerja. Kinerja yang beliau tunjukkan dalam diam itu, telah ‘membunyikan’ pesan nyaring tentang etos kerja. Tentang kedisiplinan, ketekunan, kejujuran, dan tanggung jawab. Sementara kami, kerap membunyikan etos itu dengan suara nyaring. Kerap pula rapuh mempraktikkan etos yang kami wartakan. Sedangkan beliau, berhasil menggemakan nilai-nilai baik dalam kesunyian. Membawa pesan-pesan tak beraksara dari sudut ruang yang jarang terlihat, dan pada lintasan masa yang seringkali lengang.

Sukar untuk melupakan respect yang beliau tunjukkan. Tidak hanya kepada kami yang lebih muda. Namun juga terutama terhadap pekerjaan yang beliau lakukan dengan baik sejak pagi-pagi buta. Tidak sekalipun, seingat kami, beliau berkeluh tentang fasilitas kerja. Juga tidak tentang tuntutan-tuntutan yang sesekali kami taburkan ke udara. Tidak jua beliau pernah berkata: give respect to get respect. Tetapi perilaku beliau telah menggaungkan pesan implisit: bahwa orang bisa dihormati karena terlebih dahulu menghormati; dan bahwa orang, pertama-tama, perlu menghormati pekerjaannya, sehingga pekerjaannya itu menghantarkannya pada tempat yang terhormat.

Sukar untuk tidak berbicara baik tentang beliau. Banyak kolega akan rela bersaksi tentang itu. Dari impresi secangkir kopi, hingga kinerja yang melampaui ekspekstasi. Di kala muda kami membaca kutipan Bunda Teresa, “Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.” Saat menua dan menyaksikan kiprah beliau, kami teryakinkan: bahwa individu yang melakukan hal-hal (yang cenderung dianggap) kecil dengan kecintaan yang besar, akhirnya akan menjadi dan dikenang sebagai pribadi yang besar.

Sukar untuk tidak mengakui dedikasi beliau yang bekerja tanpa menuntut perhatian. Seolah perhatian tak perlu diundang. Seakan-akan citra bisa menyeruak tanpa harus dirancang. Namun di titik itulah paradoks sungguh terjadi. Mereka yang bekerja tekun dalam diam tanpa menuntut perhatian, cenderung berakhir menjadi pusat perhatian. Mereka yang berkarya dalam cinta tanpa memusingkan pencitraan, akhirnya menjadi citra yang mencerahkan. Dan tampaknya, semesta ini membayar apa yang telah kita lakukan, bukan pada perhatian yang berhasil kita dulang, pun tidak pada citra yang sukses kita konstruksi. Dan barangkali itulah dedikasi: kesanggupan bekerja dan berkarya tanpa perlu diawasi.

Sukar untuk mengikuti jejak langkah yang beliau tinggalkan. Terutama bagi kami yang masih gemar talk more do less, yang banyak bicara tapi minim karya nyata. Yang pandai berwacana, tapi sulit memujudkannya; yang luar biasa di media sosial, namun biasa-biasa saja di kehidupan sosial; yang mahir membaca actions speak louder than words, namun kerap salah mempraktikkannya menjadi ucapan lebih berharga daripada tindakan nyata. Kamilah generasi yang gemar menuliskan kata ‘hak’ di hadapan kata ‘kewajiban’. Sehingga kami menjadi begitu membara manakala berbicara tentang hak, dan acapkali redup ketika menunaikan kewajiban.

Purna tugas mungkin saja menjadi garis formal antara kita kini. Namun purna tugas dan pelajaran kehidupan bukanlah dua bandul yang bergerak saling berjauhan. Ada yang terasa lebih dekat setelah berjauhan dan terasa lebih menggema dalam kesunyian. Meski tidak mudah menjadi seperti beliau, kami ingin tidak hanya membara berbicara tentang hak, namun juga menyala dalam menunaikan kewajiban. Dan seperti beliau, kami ingin melakukan pekerjaan ini dengan cinta, dalam diam, dan penuh respect kepada kolega sejawat. Matur sembah nuwun Pak Sukardi untuk segala wejangan yang hampir-hampir tanpa aksara itu. Wallahu a’lam bishawab.

 

 

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.