MENAKAR EKSPEKTASI DAN TANTANGAN TRANSFORMASI PTKIN DI INDONESIA

bg dashboard HD

Buyung
Syukron (Dosen pada Prodi PAI FTIK IAIN Metro)

email:
buyung.syukron@metrouniv.ac.id

 

Setelah melalui proses birokrasi yang begitu panjang dan
prosedural, akhirnya transformasi  (alih
status) beberapa Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTKIN) yang sebelumnya
berstatus Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), berbuah manis. Proses perjuangan
civitas akademika dan elemen masyarakat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah
Kabupaten/Kota
berakhir dengan di tandatanganinya Peraturan Presiden
(Perpres) terhadap 6 (enam) IAIN
menjadi UIN.
Transformasi ini tentu memunculkan berbagai
harapan
, kesempatan dan ekspektasi serta responsibiltas untuk terus bersama membangun kecerdasan anak Bangsa seiring dengan
terwujudnya transformasi tersebut. Kesemua itu menurut Penulis
tentu tidak
hanya sekedar berganti grade, nama, dan logo
semata,
akan tetapi diiringi juga dengan peningkatan kualitas di berbagai lini dan
sektor.
 

Transformasi dilingkungan PTKIN tidak bisa dikonsepsikan
dan dikonotasikan hanya pada perubahan pada sisi label Institusi semata, lebih
dari itu menurut Penulis, perubahan status menjadi tersebut harus senantiasa
mampu membangun ghirah baru sebagai sebuah institusi pendidikan berbasis
Islam yang tidak saja berdimensi pengetahuan secara umum saja, tetapi
benar-benar memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pengetahuan dan
kecerdasan spiritual manusia itu sendiri. Ini menjadi substansi dan essensi
yang amat penting sehingga PTKIN tidak kehilangan orientasi yang pada akhirnya
memperkuat justifikasi PTKIN yang kurang mampu bersaing dalam menjawab
tantangan modernitas dan kemajuan zaman. Transformasi ini juga menjadi sebuah
momentum indah di tengah  pergulatan  masyarakat 
Islam  menghadapi  berbagai 
persoalan yang berkembang yang diakibatkan oleh perbedaan  keyakinan 
dan  pemahaman yang keliru atas
kiprah dan eksistensi PTKIN di Negeri ini. Transformasi di lingkungan PTKIN
harus mampu menjawab berbagai persoalan yang terjadi baik dalam eskalasi lokal,
nasional bahkan internasional yang membutuhkan 
sebuah restorasi  dan  rekonstruksi 
pendidikan  Islam  yang berbasis 
modernisme, sekaligus menurut Penulis  

 

EKSPEKTASI TRANSFORMASI PADA PTKIN

Menjadi keniscayaan bahwa sisi dan dinamika lain yang
mengemuka dari perubahan atau transformasi yang terjadi di lingkungan PTKIN di
Indonesia tahun 2016 ini adalah besarnya harapan publik untuk bisa melihat
secara nyata perubahan yang terjadi. Implikasi terbesar atas terwujudnya
transformasi tersebut adalah bagaimana PTKIN tersebut mampu berkiprah dalam
konteks dan perspektif yang luas dalam membangun dan mengembangkan budaya
akademik, budaya penelitian, dan budaya pengabdian terhadap masyarakat.
Transliterasi atas perubahan tersebut secara komprehensif harus mampu
dibuktikan oleh PTKIN untuk secepat dan sesegera mungkin
menconstruct 
pemikiran  Islam  yang 
memiliki kesigapan dan kesiapan untuk merespon  dan 
mengembangkan  paham  ke-Islaman 
yang  mendorong terwujudnya  kemaslahatan 
publik. 
Konstruktivisme yang dimunculkan atas terwujudnya proses Transformasi
tersebut harus dikonsepsikan dalam bentuk terciptanya sebuah polarisasi dalam “frame
“ aktualisasi p
emikiran 
ke-Islaman 
yang lebih peka dalam merespons 
berbagai persoalan kebangsaan,  kerakyatan, 
dan ke
ummatan
sehingga
transformasi dimaksud tidak dipandang
sebagai sebuah perubahan yang berakhir dan
berada  di menara 
gading
semata atau dipandang sebagai “kemubaziran
akademik”
. Memang
perlu diakui Kekuatan dan kebesaran dunia akademik
, khsususnya PTKIN tidak bisa diukur dan ditentukan hanya
dengan peningkatan status PTKIN tersebut. Akan tetapi lebih dari itu, kebesaran
dan kekuatan itu terletak pada pembuktian terhadap eksistensi
dan kiprah nyata secara kelembagaannya sendiri.
PTKIN harus mampu membuktikan sekaligus membangun serta
mengokohkan diri menjadi institusi yang memiliki budaya riset, meningkatkan
frekuensi instrumen baru untuk menunjukkan reputasi PTKIN dalam mendapatkan
apresiasi masyarakat dan stakeholders pendidikan lainnya.

Ada sebuah ekspektasi lain menurut Penulis yang juga
memiliki urgensitas penting dibalik terjadinya transformasi tersebut, yaitu
PTKIN harus
menjadi trendsetter keilmuan. Memang tidak mudah untuk mewujudkan hal
tersebut, akan tetapi bukan pula hal yang tidak mungkin mengimplementasikannya.
Merumuskan paradigma trendsetter keilmuan memerlukan pemikiran yang
mendalam, berkeringat, kolaboratif, dan sharing ideas. Pertanyaannya: mengapa
ini diperlukan? Jawabannya adalah : bahwa paradigma trendsetter keilmuan
dalam konteks
PTKIN menjadi artikulasi gambaran yang
komprehensif tentang kekuatan sumber daya, visi-misi kelembagaan, mandat, skala
prioritas, distingsi, ekselensi sampai pada tataran ekspektasi itu sendiri. Dan
ini sebuah keniscayaan yang harus menjadi pembuktian atas perubahan status
tersebut.

 

TANTANGAN
PTKIN: KINI dan MASA DEPAN

Dalam konteks komprehensif, ada sebuah pernyataan yang
menggelitik sekaligus menarik: “apakah PTKIN kurang efektif dan tidak didesain
untuk membangun sebuah peradaban dunia secara andal, bahkan sebagian besar
mengasumsikan PTKIN masih berjalan dan berproses hanya atas dasar berfikir
deduktif semata
. PTKIN belum menunjukkan eksistensi sebagai
sebuah lembaga pendidikan yang berpihak kepada sains dan teknologi, tidak
mendorong bagaimana berfikir nalar kritis, bahkan PTKIN memiliki kecenderungan
dianggap sebagai institusi yang kurang bahkan sama sekali tidak fokus terhadap
skala prioritas berdasarkan kebutuhan-kebutuhan yang modern dan holistik.
Bahkan resistensi pemikiran yang muncul adalah PTKIN hanya bersifat konservatif
dan hanya memelihara “cagar budaya” ajaran-ajaran Islam yang mudah menyerah,
mudah curiga, lebih mementingkan akhirat,
protektif dan
konservatif.

Tentu tidak bisa disalahkan struktur dan karakter semacam
di atas, justru sebaliknya karakter dan struktur tersebut harus dijadikan
sebagai sebuah challenge bagi PTKIN
untuk
memberikan jawaban yang argumentatif dan realistis atas sinyalemen dan
statement tersebut. Tantangan tersebut menurut Penulis harus dijawab oleh
PTKIN
dan seluruh civitas akademika yang ada di dalamnya dengan mengembangkan pola
pikir yang strategis dengan strategi-strategi baru yang lebih metodologis,
canggih dan sustainability (berkelanjutan). Transformasi
pada PTKIN
harus dipahami secara komprehensif dan utuh, tidak hanya diartikulasikan
sebagai sebuah repons-respons atas gejala-gejala yang didasa
rkan
atas sebuah kebutuhan tanpa dasar dan penyebab, tetapi juga harus mampu
menciptakan sebuah illustrasi nyata terhadap masa depan seorang manusia dengan
spiritual, sains, dan teknologi. Jawaban ini sekaligus juga untuk membuktikan
bahwa
PTKIN tidak dan bukan hadir atas dasar yang
reaktif, akan tetapi hadir atas dasar kebutuhan yang inspiratif atas dasar
pilihan yang cerdas.

Kontribusi nyata atas proses transformasi pada PTKIN harus mampu memberikan kontribusi atas dasar keinginan
menyumbangkan peran yang nyata dalam turut membangun produktivitas Bangsa ini
kedepannya. PTKIN harus mampu “meruntuhkan” keraguan yang selama ini di
stigmakan serta dimunculkan terhadap dunia pendidikan Islam. Besarnya kapasitas
dan fungsi edukatif yang diberikan seiring transformasi
yang terjadi menjadikan lembaga yang bertransformasi memiliki
mandat yang lebih luas. Tesis ini menurut Penulis tidak berlebihan, karena
dibalik kebesaran dan keluasan kapasitas, peran dan fungsi itu sendiri
PTKIN
harus mampu menatap dan “menjejakkan” kiprah dan kontribusinya untuk menunjukkan
nalar kritis dalam menghadapi modernitas zaman. Sekali lagi, penyelenggaran
pendidikan
pada PTKIN bukan sekedar merawat “cagar budaya”
ajaran-ajaran Islam semata, tetapi yang lebih penting menciptakan output yang
memiliki daya saing tinggi dihadapan Bangsa nya sendiri dan dunia eksternal.

 

TRANSFORMASI PTKIN vs 
TRANSFORMASI PEMIKIRAN PENDIDIKAN

PTKIN di tantang untuk mampu merubah bahkan bila
perlu menghindari gaya pemikiran pendidikan yang berorientasi memproduksi
tradisi dan dogmatisme dalam pengertian yang sempit (baca:pan-Islamisme).
Tantangan
nyata PTKIN kedepan adalah bagaimana mengkontekskan
gaya pendidikan yang memiliki orientasi situasional, baik dalam skala lokalitas
maupun skala yang lebih luas lagi. Sehingga pada akhirnya
PTKIN
mampu memiliki “arkeologi” pemikiran sendiri dengan modifikasi gaya pendidikan
yang lebih konstruktif yang pada akhirnya mampu memberikan kesadaran dan
kontribusi nyata atas problem riil masyarakat saat ini. Inilah jawaban atas
tantangan perubahan pemikiran dibalik
eksistensi sebuah PTKIN
itu sendiri
.

Dengan perubahan pemikiran pendidikan ini pula diharapkan
PTKIN dapat disejajarkan dengan Perguruan Tinggi
lainnya. Perubahan Paradigma pemikiran pendidikan harus dimaknai sebagai sebuah
upaya yang mewakili cita-cita
PTKIN di seluruh Indonesia untuk
berfikir dan bertindak bersama seluruh komponen dan elemen Bangsa terkait dalam
upaya membangun dan berkontr
ibusi terhadap
berbagai fakta dan problem yang dihadapi Bangsa saat ini. Paradigma perubahan
ini bukan untuk menjadikan
PTKIN yang “dikotomik” akan
tetapi menjadi PTKIN yang “distingtif”. Perubahan Paradigma Pemikiran
Pendidikan mengharapkan modernisasi ke depan harus lahir dari dunia pendidikan
Islam
, dalam hal ini PTKIN.

Dalam konteks dan frame yang sempit, pertanyaannya
adalah: sudah siapkah IAIN Metro untuk bertransformasi dengan mempertimbangkan
berbagai ekspektasi dan tantangan di atas? Semoga saja. Aamiin.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.