Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi
Syariah IAIN Metro)
Mari mengulas
kegelisahan para sarjana yang akan berniat pulang ke desa. Konkritnya begini,
ada dua problem yang bisa dianalisis sementara. Pertama pengetahuan, dimana para sarjana harus terus merawat
budaya intelektual di tengah kerja-kerja praksis di masyarakat. Kedua jaringan,
dimana para kaum sarjana sangat minim kawan pemberdayaan atau jejaring SDM yang
membantunya dalam project-project pemberdayaan masyarakat desa.
Bagaimama ini
bisa dijembatani oleh perguruan tinggi tempat para sarjana sebelumnya belajar?
Bagaimana transformasi pengetahuan dan jaringan berlanjut agar para sarjana
yang berikhtiar membangun desa tidak dibiarkan sendirian? Pertanyaan di atas
levelnya ditujukkan bagi para aktivis. Perguruan Tinggi belum cukup membuat
para sarjana menjadi aktivis penggerak, jamak diketahui level penggerak tumbuh
dar basis ideologi organisasi atau komunitas.
Perlu dipetakan
bahwa perguruan tinggi punya beberapa instrumen untuk berkomunikasi dengan
masyarakat. Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)
adalah dua instrumen untuk menjadi pintu masuk sekaligus estafet gerakan
pemberdayaan desa. Apakah hanya itu? Tentu banyak, jika dosen memang terbiasa membawa
mahasiswa ke ruang-ruang sosial dan mengurangi interaksi di ruang kelas.
Prinsipnya ruang kelas tetap dibutuhkan sebagai bentuk refleksi bersama dan
bertukar pengalaman.
Selain itu
pengembangan teknogi menjadi penting agar database alumni dari tahun ke tahun
dapat di update dan tentu penting mengetahui peta jumlah SDM yang bergerak.
Upaya ini bisa juga ditopang oleh upaya pemerintah desa, pengusaha lokal dan
aktivis penggerak desa. Kolaborasi selalu menjadi hal penting di era media
digital. Tidak mungkin perguruan tinggi akan melakukan gerakan ini dengan
mengandalkan SDM internal, apalagi di luar sana banyak lembaga-lembaga yang
lebih berperan dan cukup signifikan jika melakukan sinergi.
Jejaring alumni
yang terus memperbaharui gagasan juga harus difasilitasi melalui Focus Group
Discussion (FGD), berjumlah maksimal 25 penggerak desa dan dilakukan periodik.
Selama beberapa hari berdiskusi intensif dan bermusyawarah memetakan kembali
langkah-langkah taktis di lapangan. Mereka akan bertukar pikiran, saling
belajar dan tentu saling membantu dalam praktik-praktik di masyarakat. Dalam
FGD ini, mereka semua adalah pemateri dan Perguruan Tinggi sebagai fasilitator
dan hasilnya sebagai pembaharuan kurikulum pemberdayaan, sebagaimana kelas
merdeka yang diharapkan menteri Nadiem Makarim.
Terakhir yang
tentu saja penting adalah manajemen ekonomi para penggerak desa dan sekaligus performance komunitas pemberdayaan.
Pembahasan ini memang yang paling sulit, tidak mungkin pelaku pemberdayaan mau
melakukan pemberdayaan jika dirinya sendiri belum berdaya. Tidak realistis
seorang sarjana menganggur berbicara peningkatan ekonomi warga. Maka pulang ke
desa bagi seorang sarjana bukanlah hal yang tabu, pulang harus dilakukan
sebagai penggilan untuk kembali ke desa (tempat lahir). Disanalah dia belajar
sejak kecil, terbiasa bekerja sebagaimana laku budaya setempat, dan mengenal
pribadi-pribadi di desa tersebut. Refleksi pengetahuan dan gerakan yang harus
ditanamkan. Mengapa demikian? karena penggerak tidak boleh larut dalam iklim
konflik yang terjadi di dalam sebuah entitas masyarakat.
Jika seorang
anak muda pergi merantau kuliah, tentu pulang berlibur adalah kesempatan
dirinya untuk menyapa, menggerakkan, mengajarkan apa yang didapat di luar sana
dan mengubah pola pikir generasi muda yang ada di desa tersebut. Perguruan
Tinggi adalah tempat untuk menempa skill manajemen dan marketing potensi desa.
Mengapa cara pandangnya ekonomi minded? Disitulah pokok inti masalah desa harus
diselamatkan. Melalui budaya, ruang pendidikan alternatif, basis spiritual,
pertanian dan peternakan yang ditinggalkan, destinasi desa yang harusnya terus
digali, semuanya bermuara pada kesanggupan desa mempertahankan dan mencukupi
kesejahteraan desa. Bohong kalau kita anti ekonomi. Maka yang harus kita tolak
adalah penguasaan desa dikuasai oleh segelintir kelompok dan warga desa lain
menjadi buruh di rumah desanya sendiri.
Saya juga baru
menyadari selain materi sosial maping, trilogi pembangunan, community
apparoach, ekonomi desa dan materi praktik , penting juga menambahkan
geo-politik desa. Para generasi muda menguasai peta politik desa dengan harapan
mengerti bagaimana penguasaan desa oleh anak-anak muda. Mereka yang peduli
dengan pemberdayaan dapat memenangkan kontestasi politik desa. Jadi desa menjadi
baromater mikro, bagaimana pembangunan ekonomi berbasis pemberdayaan masyarakat
dapat diukur bersama-sama melalui pengetahuan dan perencanaan yang matang.
Perguruan Tinggi melalui pusat studi, penggerak desa, pemerintah desa dan
kelompok swasta membangun kolaborasi untuk kemajuann desa.