MENEMUKAN SUMBER KEBAHAGIAAN

WhatsApp Image 2025-07-23 at 15.50.28

Oleh

Mukhtar Hadi

 

 

Salah satu pertanyaan mendasar dalam kehidupan manusia yang sukar ditemukan jawabannya adalah pertanyaan soal kebahagiaan. Apakah bahagia itu?, Dimana sumber kebahagiaan itu berada? Bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini sangat beragam dan tergantung pada sudut pandang subyektif masing-masing.

Bagi orang miskin yang hidupnya serba kekurangan, maka ia  memahami kebahagiaan itu  apabila memiliki harta dan uang yang berlimpah. Dengan harta dan uang tersebut apapun yang ia inginkan bisa terpenuhi; makan yang enak, rumah megah, kendaraan terbaru yang canggih dan nyaman. Namun sebaliknya bagi orang yang kaya, kebahagiaan itu adalah kalau hidup itu dengan kesederhanaan, dekat dengan alam, terbebas dari rutinitas mengejar duniawi yang tidak pernah habis, punya quality time (waktu berkualitas) yang membebaskan diri dari sekedar urusan uang dan materi. Bisa jadi juga bagi orang kaya, kebahagiaan itu adalah jika memiliki kekuasaan dan jabatan. Setelah limpahan materi dalam gengamannya, mungkin ia berpikir rasanya memiliki kekuasaan dan jabatan yeng terhormat di masyarakat atau di pemerintahan.

Lain lagi, bagi orang yang sakit, kebahagiaan adalah jika ia diberikan badan dan fisik yang bugar dan sehat. Orang-orang yang sakit pasti membayangkan alangkah bahagia dan nikmatnya jika badannya sehat. Dengan badan yang sehat itu ia bisa mobilitas kemana-mana tanpa terhalang rasa sakit, dapat makan apapun yang enak-enak tanpa pantangan, berolah raga dengan gembira, bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang dengan penuh senyum dan kebersamaan.

Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern, menggambarkan bahwa kebahagiaan bagi setiap orang itu bisa jadi hanya penilaian sekilas seseorang terhadap orang lain. Kata orang Jawa kebahagiaan itu Sawang Sinawang, atau  tergantung pada orang lain melihat orang lainnya. Menurut orang miskin, orang kaya pasti bahagia karena semua kebutuhannya bisa terpenuhi. Sebaliknya orang kaya melihat orang miskin itu hidupnya lebih bahagia karena hidupnya tanpa beban yang banyak. Tidak perlu dikejar target, tidak perlu memikirkan gaji karyawan, tidak perlu membayar beban macam-macam, apakah itu beban pajak, beban hutang, dan sebagainya.

Yang lain lagi melihat bahagia jika menjadi pejabat atau pemilik kekuasaan. Kebutuhan hidupnya difasilitasi, memiliki ajudan atau pengawal, dihormati oleh banyak orang, tinggal memerintah dan menyuruh saja. Tinggal di rumah dinas, pergi  kemana-mana dengan fasilitas negara, populer dan dikenal oleh banyak orang. Namun bisa jadi, seorang pejabat juga membayangkan alangkah bahagianya jika hidup seperti orang biasa atau orang kebanyakan. Tidak dituntut untuk membuat keputusan yang memusingkan kepala, tidak perlu membuat program dan merealisasikan program yang pernah dijanjikan sewaktu kampanye atau janji sebelum menjabat. Nyaman rasanya menjadi orang biasa yang tidak banyak tuntutan dan banyak dituntut.

Terkadang orang menilai kebahagiaan itu dengan membandingkan diri dengan orang lain. Hidupnya terasa tidak bahagia dan kebahagiaan itu hanya menjadi milik orang lain. Padahal orang lain yang dikira hidup bahagia itu berfikir hal yang sama yaitu bahwa hidupnya tidak lebih bahagia daripada orang lain. Dalam psikologi bahagia itu diartikan dengan kesejahteraan subyektif, dimana bahagia itu jika seseorang memperoleh kesejahteraan subyektif yang mencakup emosi, kognitif dan sosial. Bahagia juga berwujud pengalaman positif yang mencakup kesenangan, kepuasaan dan kebahagiaan.

Demikianlah, kebahagiaan itu sangat bersifat subyektif, tergantung orang menilai dan merasakan apa yang disebut bahagia itu. Karena bersifat subyektif, maka terkadang kebahagiaan itu seperti fatamorgana. Hal-hal yang dikira sebagai sumber kebahagiaan ternyata tidak selalu di tempat itu terdapat kebahagiaan. Dengan demikian aegala sesuatu yang dikira sumber kebahagiaan itu bersifat semu. Kebahagiaan yang tidak hakiki. Lalu pertanyaannya, apakah ada kebahagiaan yang hakiki itu?.

Terhadap pertanyaan tersebut, Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitabnya Mizanul Amal, menjawab, “Ketahuilah, bahwa kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan ukhrawi. Selain itu adakalanya kebahagiaan itu hanya sebagai metafora, atau kebahagiaan yang salah seperti kebahagiaan duniawi yang tidak menolong kebahagiaan akhirat.  Atau kebahagiaan sejati, tetapi kebahagiaan akhirat lebih sejati, yaitu setiap hal yang menyampaikan kepada kebahagiaan ukhrawi. Karena sesuatu yang menyampaikan pada kebaikan dan kebahagiaan disebut dengan kebaikan dan kebahagiaan pula.”

Berdasarkan pandangan Al-Ghazali di atas, kebahagiaan yang hakiki dan sejati hanyalah kebahagiaan akhirat. Sementara kebahagiaan yang bersumber dan bersifat duniawi seperti banyaknya harta benda, jabatan dan kekuasaan, popularitas, memiliki paras yang cantik dan menawan, kehebatan, dan lain sebagainya merupakan kebahagiaan yang semu. Namun semua sumber kebahagiaan yang bersifat duniawi itu, kata Al-Ghazali, jika dimanfaatkan dan digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan kebahagiaan ukhrawi maka bisa menjadi sumber kebahagiaan yang sejati.

Pesan moralnya, harta benda yang berlimpah dapat menjadi sumber kebahagiaan  jika digunakan untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Kekuasaan dan jabatan bisa membuat bahagia jika digunakan untuk sarana kebahagiaan akhirat. Fisik yang sehat, wajah yang rupawan, juga akan menjadi sumber kebahagiaan jika dimanfaatkan untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Sebagaimana kata Al-Ghazali segala sesuatu yang menyampaikan pada kebaikan dan kebahagiaan untuk ditujukan kepada kebahagiaan yang hakiki dan sejati, maka kebaikan dan kebahagiaan itu sesungguhnya bersifat sejati pula.

Dus, dengan demikian segala sesuatu di dunia ini yang dikira oleh manusia sebagai tempat dan sumber kebahagiaan sesungguhnya hanyalah kebahagiaan sesaat, bersifat semu atau fatamorgana. Itulah sebabnya mengapa banyak orang kaya yang hidupnya tidak bahagia, penuh dengan tekanan hidup, stres, lalu sebagian lagi ada yang menghabisi dirinya sendiri. Padahal menurut kebanyakan orang seharusnya dengan hartanya ia bisa hidup bahagia. Pada tempat lain, banyak orang yang popular, menjadi public figure, dimana-mana dielu-elukan, gaya hidupnya menjadi tren setter, namun tiba-tiba terdengar berita ia bunuh diri. Padahal banyak orang yang mengira bahwa ia hidup bahagia dengan segala popularitasnya.

Begitulah kehidupan duniawi, tidak bisa dijadikan sandaran untuk memperoleh kebahagiaan yang otentik. Kebahagiaan sejati hanya diperoleh jika orang mendapatkan kebahagiaan ukhrawi. Kebahagiaan yang bersumber dari duniawi akan menjadi sumber kebahagiaan sejati jika ditujukan atau diarahkan untuk memperoleh kebahagiaan di akhirat. Mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah dan menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai ajaran-Nya pada saat kita mengarungi kehidupan di dunia ini akan mengantarkan kita memperoleh kebahagiaan. Wallahu a’lam bishawab. (mh.23.07.25).

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.