metrouniv.ac.id – 9/03/2026 – 19 Ramadan 1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)
“Qayyidul ‘ilma bil kitab.”
Preserve knowledge by writing.
Menulis adalah cara terbaik merawat pengetahuan.
(Prophetic Tradition)
Membaca kian terasa seperti pengalaman mahal. Bukan karena buku sulit dibeli. Bukan juga karena perpustakaan sukar diakses. Melainkan karena perhatian kita diperbutkan setiap detik. Gadget dan media sosial bekerja tanpa jeda. Notifikasi datang tanpa permisi. Potongan video dan serpihan informasi mengalir tanpa henti. Padahal, membaca yang sesungguhnya membutuhkan nafas panjang; membutuhkan interval, jeda dan kesabaran. Ia juga membutuhkan alat tulis untuk menandai, membuat catatan pinggir, dan berdialog dengan teks.
Ibarat piramida tiga lapis, membaca berada di lapis tengah. Di lapis bawah adalah kecerdasan linguistik, dan di lapis paling atas adalah kemampuan menulis. Orang berkata, mempelajari ilmu adalah keharusan. Mendalaminya lewat pembacaan intensif adalah kebajikan. Merawatnya lewat riset dan tulisan bermutu adalah amal jariyah. Tetapi tahap terakhir sering macet. Banyak yang berhenti tengah jalan karena larut pada potongan video dan serpihan informasi pendek. Walhasil, orang tetap membaca, tetapi tidak mendalami. Tetap mendapat informasi, tetapi tidak menembus makna.
Membaca di era digital adalah fenomena lain. Digitalisasi membawa akses bacaan yang mencengangkan, sekaligus ancaman terhadap kebiasaan dan kemampuan membaca. Membaca di layar tidak otomatis lebih buruk daripada membaca di kertas. Tidak ada klaim yang tunggal yang benar untuk semua orang. Namun membaca di layar jelas menuntut disiplin yang lebih keras karena distraksi begitu dekat. Informasi yang sepotong-potong, video pendek, dan notifikasi itu tidak seitiap waktu bisa dikendalikan. Ketika distraksi gagal dikelola, fokus berkurang dan kemampuan membaca menurun.
Dampaknya merembet ke kemampuan menulis. Charles Kuralt pernah berkat, “I believe that writing is derivative. I think good writing comes from good reading.” Menulis itu turunan. Ia hasil. Ia buah. Pembacaan yang dangkal menghasilkan tulisan yang prematur. Tulisan yang kacau balau adalah buah dari pembacaan yang pendek. Membaca itu soal bahan bakar. Membaca yang panjang, fokus, dan meluas berarti memiliki bahan bakar berlimpah. Membaca seperti ini memberi kosakata, pola kalimat, dan gaya bahasa. Ia juga menunjukkan cara paragraf berdiri, cara logika disusun, cara premis dibangun, dan cara konklusi ditarik. Tanpa itu, menulis mudah tergelincir menjadi aktivitas mengisi halaman. Panjang tapi tidak lagi substantif. Tebal tetapi kurang berbobot.
Sementara itu, ada banyak kelas dan pelatihan menulis. Jika hasilnya belum sesuai ekspekstasi, penyebabnya mungkin bersifat mendasar: kurang cukup membaca. Membaca perlu Latihan. Membaca pelan. Membaca ulang. Menandai kalimat kunci. Berdialog dengan teks. Membaca untuk merangkum. Membaca untuk menulis. Karena menulis bukan sekedar mengetik.
Syahdan, gempuran ‘bacaan’ media sosial yang singkat, cepat, dan ‘permukaan’, seringkali menghibur sekaligus melenakan. Tradisi membaca satu buku dan jurnal ilmiah secara utuh, perlahan tersisih. Padahal, dari sanalah ilmu pengetahuan berkembang dan selanjutnya dikembangkan melalui tulisan.
Pada akhirnya, selalu ada keinginan untuk mengikat ilmu. Cara yang paling logis adalah dengan pembacaan intensif yang dipungkasi tulisan. Dengan begitu pengetahuan telah ditulis, bukan sekedar disalin. Di mana ada keyakinan tentang tulisan yang solid selalu lahir dari pembacaan yang intensif dan ekstensif, di situlah kebiasaan, pelatihan, dan kemampuan membaca menjadi kian krusial. Wallahu a’lam.