metrouniv.ac.id – 17/03/2026 – 27 Ramadan 1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)
“A printed book is a physical object, a record of a person’s life,
a repository of memories. An e-book is just a file.”
(Unknown)
Sesaat ia termangu. Di dalam tas anaknya ia melihat Sang Alkemis, novel favorit yang telah lama ia akrabi. Novel yang sudah seperti sahabat itu, selalu hadir tanpa nada menggurui. Novel yang dibelinya lebih dari dua dekade silam, dari honor kerja sampingan saat menjadi mahasiswa. Ia membelinya karena komentar seorang kawan: “Sang Alkemis adalah hiburan bagi perantau yang mengejar legenda pribadinya.” Dan begitulah, ketika punya uang lebih, ia bergegas ke toko buku, untuk membeli bacaan, hiburan, dan inspirasi menuju sebuah pengembaraan jauh.
Ia tahu, novel itu kini ada versi elektroniknya (e-book). Namun entah mengapa, ia tetap setia pada versi cetaknya (printbook). Di tengah trend dunia yang tanpa-kertas (paperless). Di tengah kenyataan bahwa ia tidak mungkin bisa menghindar dari teks-teks digital. Baginya, printbook dan e-book bekerja dengan cara yang berbeda.
Buku cetak lebih nyata (tangible) karena memberi berat di tangan, nuansa sejuk di mata, dan ritme tenang di dada. Ia bisa memaksa pembaca berlama-lama pada halaman-halaman tertentu. Ia tidak mengonsumsi baterai dan tidak memantulkan radiasi ke mata. Aksara-aksara di atas kertas itu lebih mudah mengunci perhatian. Distraksi lebih mudah dikendalikan. Dan, ini agak penting, jika di dalamnya dijumpai paragraf yang kompleks, yang idenya berat, yang disajikan dalam kalimat panjang nan berlapis, pembaca bisa memperlambat ritme, menarik nafas-dalam, memberi tanda, dan membuat catatan pinggir. Dengan begitu, ada sesuatu yang personal ketika di lain waktu kembali mengunjunginya. Ada perasaan intim setiap kembali menyentuh kertas yang semaking menguning.
Sementara itu, e-book seperti bunga yang mekar di tamannya sendiri. Ia tidak memberati tas manakala pembacaan harus melintasi banyak ruang dan waktu. Ia ringan, hingga bisa dibawa dalam jumlah banyak hanya dalam satu alat. Hurufnya bisa di-zoom. Cahayanya bisa di-adjust. Kata-kata kunci bisa di-highlight warna. Ada pencarian instan yang sangat presisi. Ia sangat menarik, meski selalu ada kemungkinan terhapus oleh virus. Ia begitu portable walaupun bisa saja lenyap karena akun yang kadaluarsa. Pengembara yang memiliki device mutakhir dan memadai, akan sangat terbantu oleh kehadiran e-book.
Syahdan, ketika buku menjadi teman duduk terbaik, e-book laksana teman yang gemar berpetualang, yang mengajak berpindah dan bergegas. Sementara printbook terasa seperti teman dengan gesture lebih bersahaja, yang mengundang untuk menetap seraya meresapi udara secara perlahan dan mendalam. Memang, ada waktu-waktu yang mensyaratkan mobilitas tinggi. Namun, menetap dan menikmati segalanya secara perlahan seringkali menjadi pilihan yang menyenangkan.
Dan begitulah, pada saat menetap, ia menemukan kembali Sang Alkemis versi cetak, dalam tas anaknya, dengan status kepemilikan baru. Sesuatu rupanya telah diambil darinya, dan ia merasa bahagia dengan itu. Toh, dia masih bisa merasakan kepingan kenangan di balik pembeliannya. Masih mengingat catatan-catatan kecil pada lembaran-lembarannya. Masih percaya jika Sang Alkemis telah mengunci ragam romansa indah masa mudanya. Dan kini itu semua diwariskan kepada si buah hati. Tak lama lagi, Sang Alkemis itu akan mengembara bersama tuan barunya.
Namun, sebelum Sang Alkemis terbang jauh, ia ingin menulis pada salah satu lembarannya: ‘Ada yang berkata: buku cetak adalah jiwa yang mewujud; rekaman dari hayat seseorang; kotak yang mengendapkan ragam kenangan. Sedangkan buku digital, ia hanyalah sebuah file. Entah siapa yang berkata begitu. Idenya tidak sepenuhnya benar. Meski ada bagian-bagian di dalamnya telah menggetarkan palung jiwa.’ Wallahu a’lam.