Penulis: Mustika Edi Santosa (Reporter Metrouniv.ac.id)
Kemiskinan merupakan fenomena yang
begitu mudah dijumpai. Terutama di Indonesia, dimana kemiskinan masih menjadi
momok terbesar bagibangsa ini. Sebab kemiskinan yang terjadi tidak hanya dialami
oleh warga pedesaan saja, tetapi juga warga perkotaan.
Berdasarkan data Badan Pusat
Statistika (BPS), pada September 2017 tercatat bahwa jumlah penduduk miskin di
Indonesia mencapai 26,58 juta orang atau 10,12 persen dari jumlah penduduk
Indonesia. (bps.go.id, 13/7/2018) Nilai ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan
dengan negara Malaysia ditahun yang sama, dimana Menteri Komunikasi dan
Multimedia Datuk Seri Salleh Said Keruak menyatakan bahwa jumlah penduduk
miskin di negara tersebut sebesar 3,8 persen. (malaysiakini.com, 13/7/2018) Melihat
tingginya angka kemiskinan di Indonesia tersebut, menandakan bahwa masih banyak
warga Indonesia yang hidup dalam ketidak layakan.
Sedangkan di sisi lain,
potensi-potensi alam yang terhampar diseluruh wilayah nusantara pada dasarnya belum
mampu dimaksimalkan secara mandiri oleh warga lokal. Alih-alih pemerintah ingin
manfaatkan potensi tersebut dengan cara mendatangkan para investor dari dalam
dan luar negeri, nyatanya malah semakin menambah polemik baru bagi warga.
Masalah lingkungan, sosial, ekonomi,
serta culture menjadi serangkaian
polemik komplek yang diakibatkan oleh perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh
para investor. Seperti ulah perusahaan kelapa sawit yang membuang limbah kelapa
sawit secara sembarangan, melakukan pencaplokan lahan perkebunan warga, dan
pembakaran hutan secara sengaja untuk kepentingan corporation; Pabrik semen yang berdiri di Pati, Jawa Tengah yang
mengakibatkan pencemaran udara dan menelan banyak lahan pertanian warga; dan
Rencana reklamasi di Bali yang dapat mengancam mata pencaharian para nelayan di
Bali. Tentu fenomena ini sangat merugikan warga lokal dan hanya menguntungkan
segelintir elit investor belaka. (WatchDoc Documentary)
Dalam pandangan ekonomi kapitalis,
problem ekonomi yang terjadi saat ini disebabkan oleh adanya kelangkaan barang
dan jasa, sementara populasi dan kebutuhan manusia terus bertambah. Akibatnya
sebagian warga terpakasa tidak mendapat bagian, sehingga terjadilah kemiskinan.
Sebaliknya, Islam memandang terjadinya
kemiskinan disebabakan karena buruknya pendistribusian kekayaan yang terjadi di
masyarakat. Artinya, sumberdaya (kekayaan) yang ada, pendistribusiannya mandek
dan hanya dikuasai oleh kaum borjuis yang memiliki modal besar. Imbasnya, warga
yang tidak memiliki modal besar tidak memiliki kesempatan lepas dari belenggu
kemiskinan.
Dalam mengentaskan kemiskinan, pada
dasarnya dapat dilakukan melalui pemberdayaan kepada warga. Hal ini dirasa
tepat, dikarenakan banyak potensi yang dapat digali dari warga. Terutama kepada
warga pedesaan yang masih kental dengan tradisi bergotong royong. Selain itu,
pemberdayaan yang dilakukan mulai dari daerah pedesaan dikarenakan masih banyak
potensi alam yang dapat dimaksimalkan untuk dikelola dengan bijak.
Menurut Dharma Setyawan, penggerak
gerakan #AyokeDamRaman yang melakukan pemberdayaan warga untuk mengelola
potensi dari Dam Raman Kota Metro, Lampung, Dalam kultur masyarakat desa
pemberdayaan dapat dilakukan dengan dua hal. (nuwobalak.id, 13/7/2018) Pertama, memberdayakan potensi warga
yang ada untuk digerakkan. Kedua,
dengan membawa tim atau orang-orang dari luar untuk membersamai masyarakat
desa.
Berdasarkan dua cara pemberdayaan yang
dapat dilakukan, pemberdayaan warga secara kolektif atau besama, dirasa akan
lebih cepat efeknya dalam memaksimalkan potensi yang ada. Dengan adanya
pemberdayaan warga secara kolektif akan mempermudah dalam proses pemberdayaan
itu sendiri karena kita dapat mengajak anak-anak muda yang masih memiliki
semangat dan kreatifitas tinggi. Selain akan membantu dalam hal-hal teknis di
lapangan, anak-anak muda tersebut juga akan mempercepat gerakan yang perlu
dilakukan.
Hasil dari pemberdayaan warga secara
kolektif ini dapat dilihat dari keberhasilan warga setempat Dam Raman yang
berhasil mengubah wajah Dam Raman menjadi objek wisata warga yang murah meriah
dan menjadikannya sebagai tempat untuk meningkatkan penghasilan warga yang
menjajakan makanan lokal di sana. Selain itu, kita juga dapat melihat
pemberdayaan yang dilakukan warga desa Ngadiprono, kecamatan Kedu, kabupaten
Tumenggung yang dibantu oleh sekelompok anak-anak muda untuk membuat Pasar Papringan.
Dimana berhasil menyulap tempat sampah menjadi pasar yang menjajakan makanan
lokal, kerajianan lokal, kesenian lokal, dan permainan tradisonal anak-anak,
serta perpustakaan. Meskipun hanya dibuka dua kali dalam satu bulan berdasarkan
penanggalan Jawa, pasar Papringan ini mampu meningkatkan penghasilan warga
sekitar.
Pada dasarnya, setiap warga memiliki
potensi yang dapat dikembangkan sebagai modal untuk mengentaskan mereka dari
kemiskinan. Melalui gerakan-gerakan pemberdayaan secara kolektif, maka akan
mempermudah dalam mengarahkan warga untuk dapat memanfaatkan potensi-potensi
yang ada secara arif. Sehingga, ketika pemberdayaan ini berhasil, maka akan
meningkatkan produktifitas dan penghasilan warga untuk mentas dari kemiskinan.
——–
Diedit oleh: Tomi Nurrohman