metrouniv.ac.id – 27/11/2023 – 13 Jumadil Awal 1445 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Beramal shaleh dan dakwah Islam, mengajak kepada amar ma’ruf nahi munkar itu harus dilaksanakan dengan gembira, artinya tidak boleh bersedih, putus asa (nglokro), tidak semangat dan yang penting sekali dilaksanakan dengan hati yang ikhlas. Banyak orang yang mengajak kepada maksiat dan keburukan saja melakukannya dengan senang hati dan gembira (berpesta dan berfoya-foya), masak yang mengajak kepada kebaikan kalah dengan mereka. Harus senang dan gembira juga seharusnya, tidak boleh kalah.
Dahulu, para wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa yang dikenal dengan nama Wali Songo mendakwahkan Islam dengan cara menggembirakan dan persuasif. Caranya dengan modal makanan dan kesenian. Medianya makanan berupa kupat, sayur opor, berkatan, dan macam-macam janana. Media lainnya adalah kesenian, diajak solawatan dengan tabuhan rebana, gending dan beduk. Kupat adalah simbol makanan dan beduk adalah simbol kesenian. Siapapun yang diajak berkumpul sambil makan dan berkesenian pasti akan gembira. Disela-sela itu dakwah Islam dilakukan.
Menyampaikan ajaran dan mengajak orang beribadah dan amal shaleh tidak boleh memaksa dan menakuti. Sentuh hatinya dengan rasa dan banyak menyampaikan kabar gembira. Allah SWT dalam berbagai firman-Nya sebagaimana tercantum nash Al-qur’an, menyampaiakan ajaran syariat Islam itu dengan dua acara, yaitu dengan memberi kabar gembira (Al-Wa’du) dan memberi kabar buruk/ancaman (Al-Wa’iid). Dalam ilmu keguruan dan pendidikan, alat pendidikan itu diantaranya adalah memberi reward dan punishment, atau memberikan hadiah dan hukuman.
Dakwah Islam jangan hanya berkutat untuk memperbanyak menyampaikan hal-hal yang berisi ancaman/punishment (Al-Wa’iid), tetapi perlu memperbanyak menyampaikan janji Allah yang menggembirakan atau memberi kabar gembira, menyenangkan dan menjanjikan hadiah atau ganjaran. Terlalu banyak menyampaikan ajaran yang berisi ancaman atau hukuman tanpa diimbangi kabar gembiranya akan terasa beragama itu menjadi berat, menjadi beban, yang justru bisa saja membuat orang lari. Menjauh dari ajaran agama.
Allah SWT itu Maha Rahman ( pengasih) dan Maha Rahim (penyayang). Allah SWT juga Maha Pengampun atas segala dosa-dosa manusia (Innallaha Ghofurrur Rahiim) . Manusia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah SWT. Bukti bahwa Allah Maha Rahman dan Rahim sangat banyak sekali. Berikut ini diantaranya.
Asmaul Husna, berisi nama-nama Allah yang baik yang berjumlah Sembilan puluh sembilan nama itu, ada nama-nama yang menggambarkan sifat Allah yang penuh Rahmat: Arrahman (Maha Pengasih), Arrahiim (Maha Penyayang), Al-Ghofur (Maha Pemberi ampunan), Allathif (Maha Lembut), Al-Hakiim (Maha Bijaksana), dan lain sebagainya. Sudah sepantasnya kita sebagai hamba-Nya mengikuti dan meneladani sifat-sifat Allah yang mulia itu. Kalau Allah memiliki sifat Rahman dan Rahim, sudah sepatutnya sebagai hamba kita juga memiliki rasa kasih sayang kepada sesama. Kalau Allah Maha Pengampun, sudah seharusnya juga kita memiliki sifat-sifat pemaaf. Allah Yang Maha Lembut dan Bijaksana, mengapa tidak, kita juga menjadi orang yang berlemah lembut dan memiliki sikap yang bijaksana.
Banyak riwayat yang berisi kisah-kisah orang yang berlumur dosa namun akhirnya diampuni oleh Allah dan dimasukkan ke dalam surga karena rahmat dan ampunan-Nya. Kisah seorang Pekerja Seks Komersial yang pernah dikisahkan oleh Nabi SAW dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari (hadits nomor 3321) dan Muslim (hadits nomor 2245). Suatu hari seorang perempuan pekerja seks komersial berjalan melewati padang pasir yang panas dan gersang. Dia melihat seekor anjing kehausan dan menjulurkan lidahnya ke sebuah sumur untuk menggapai air sumur untuk diminumnya. Namun beberapa kali mencoba anjing itu gagal mendapatkan air. Lalu bergegas perempuan ini melepas sepatu dan dengannya ia mengambil air kemudian diberikan air itu kepada anjing malang yang kehausan itu. Maka kata Rasulullah perempuan pekerja seks komersial ini diampuni oleh Allah dari segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya.
Ada lagi kisah yang juga diceritakan oleh Nabi SAW yaitu tentang seseorang dari Bani Israel yang tenah membunuh Sembilan puluh sembilan orang dan ingin bertaubat. Maka didatangilah seorang Rabi (ulama) dari kaum Bani Israel. “ Saya telah membunuh 99 orang manusia, kalau saya bertaubat sudikah kiranya Allah menerimana taubat saya”? Jawab Ulama itu “ dosamu sangat besar. Betapa banyak nyawa yang kau hilangkan hak hidupnya. Tidak. Allah tidak akan menerima taubatmu”. Ia terkejut atas jawaban itu dan dengan sangat emosional ia menghunus pedangnya. Ia bunuh Rabi itu. Genaplah 100 korban pembunuhan pria itu. Keesokan harinya ia bertanya lagi kepada ulama yang lain. “Saya telah membunuh 100 nyawa, menurut anda mungkinkah Allah menerima taubat saya”? Ulama itu menjawab “Selagi nyawa belum sampai ditenggorokan, pintu taubat masih terbuka. Tetapi ada syarat yang harus kamu penuhi, kamu harus pindah ke desa sebelah. Desamu pusat dosa dan kriminalitas, kalau tetap disana, kamu akan kesulitan menjaga diri. Sedangkan desa sebelah adalah pusat kesalehan kalau kamu tinggal disana banyak perbuatan baik yang akan menarikmu ikut”.
Singkat cerita, pembunuh yang ingin bertaubat itu lalu menuju desa yang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang shaleh. Namun di tengah perjalanan ia meninggal dunia. Para Malaikat berdebat soal layak diampuni atau tidak pembunuh seratus nyawa itu. Maka disepakati diukur perjalanannya, dan ternyata sudah lebih dekat menuju ke desa yang dipenuhi orang shaleh tersebut. Allah dengan rahmat-Nya mengampuni dosa orang ini karena ia tulus untuk memohon ampunan dari segala dosa yang pernah dilakukannya meskipun dosa itu sangat besar sekali.
Demikianlah Allah dengan rahmat dan kasih sayangnya kepada hamba-hamba-Nya yang ingin bersungguh-sungguh untuk memohon ampunannya. Namun mengapa ada manusia yang terkadang susah sekali memaafkan. Mengajarkan agama tapi hanya menggambarkan yang ancaman-ancaman. Agama seolah hanya berisi gambaran dosa dan neraka saja. Sementara banyak ajaran agama yang juga mengajarkan kemudahan-kemudahan dalam beragama, kabar baik dan gembira, tentang kebahagian surga dan segala kenikmatan bagi yang senantiasa berbuat kebajikan. Dakwah mengajak kepada kebaikan membutuhkan keluasan dan keluesan. Dari situlah beribadah dan beramal shaleh akan terasa ringan dan menggembirakan. Wallahu’alam bishawab. (mh.27.11.23- post:ss_humas).