Sekolah menjadi salah satu tempat pembentukan
kepribadian dan pengembangan intelektual anak. Sekolah bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya proses
pembelajaran, tetapi juga proses pendidikan. Dalam pembelajaran, terjadi
interaksi guru-siswa dan siswa-siswa. Pada lingkungan sekolah, interaksi
tersebut terjadi lebih luas lagi, yaitu: guru-siswa, siswa-siswa, guru-kepala
sekolah, guru-pegawai, siswa-kepala sekolah, dan siswa-pegawai.
Sayang, belum semua sekolah menjadi tempat belajar
yang baik bagi siswa. Secara sengaja atau tidak disengaja, ada sebagian sekolah
melakukan kekerasan kepada siswa, terutama kekerasan yang bersifat samar
(kekerasan simbolik). Guru yang seharusnya menjadi pendamping siswa dalam
belajar, tempat berlindung dan mengadu siswa, tempat siswa mendapatkan kasih
sayang yang mungkin kurang di rumah, sebagian justru membelenggu perkembangan
siswa, mendeskreditkan siswa, membuat siswa kehilangan rasa percaya diri.
Sebagian sekolah justru menjadi tempat yang menakutkan bagi siswa.
Apa
itu kekerasan simbolik?
Barangkali kita masih ingat kasus kekerasan di
kalangan anak-anak ketika tayangan "smack down" marak ditayangkan oleh televisi.
Ada anak yang mengalami patang tulang, ada pula yang babak belur karena
di-"smack down" teman sepermainannya. Tayangan kekerasan yang dikemas sebagai
tontonan yang indah dan menarik dan berakibat buruk pada karakter anak-anak di
atas itulah yang disebut sebagai praktik kekerasan simbolik. Apakah yang
dimaksud dengan kekerasan simbolik? Kekerasan simbolik adalah makna, logika dan
nilai yang mengandung bias tetapi secara halus dan samar dipaksakan oleh
komunikator kepa-da pihak lain (Bourdieu, 1994; Roekhan, 2007 dan 2009; Fashri,
2007).
Kekerasan simbolik itu dilakukan berlandaskan adanya
kepercayaan, loyalitas, kesediaan untuk menerima, dan perasaan berhutang budi
pihak yang menjadi sasaran kekerasan simbolik (Thomson, 2007). Harapannya
makna, logika, dan nilai yang mengandung bias itu diterima oleh pihak yang menjadi
sasaran kekerasan sebagai makna, logika, dan nilai yang benar, baik, dan dapat
dipercaya.
Kekerasan simbolik menyembunyikan kekerasannya
sehingga tidak dikenali dan tidak dirasakan kekerasannya oleh pihak yang
menjadi sasaran kekerasan. Dengan menyembunyikan kekerasannya, diharapkan kekerasan
simbolik tersebut justru diterima oleh pihak yang menjadi sasaran kekerasan
sebagai hal yang wajar (periksa Bourdieu, 1994; Rusdiarti, 2003; Fashri, 2007;
Piliang, 2001; dan Foucault, 1971).
Bentuk
kekerasan simbolik di sekolah
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Roekhan (2011)
Ada beberapa bentuk kekerasan simbolik yang mungkin dilakukan guru di kelas
atau di sekolah, kekerasan simbolik itu diantarnya adalah: pertama, guru tidak akomodatif
terhadap pandangan, pendapat, harapan, dan keinginan siswa, misalnya: siswa
membentuk peraturan kelas dan kelompok kerja tanpa memperhatikan keinginan dan
harapan siswa, menolak pendapat siswa yang tidak sesuai dengan pendapat guru,
membagi hasil ulangan tanpa membahasnya lebih dulu, melak- sanakan ulangan atau
memberi pelajaran baru tanpa menyiapkan siswa lebih dulu, dan lain-lain.
Kedua, guru bersikap permisif terhadap sikap,
perilaku dan ucapan siswa di kelas yang tidak atau sesuai dengan peraturan sekolah,
moral, dan agama, misalnya siswa keluar-masuk kelas ketika pelajaran
berlangsung, siswa mengganggu siswa lain ketika pelajaran berlangsung, siswa
bermain-main di kelas ketika pelajaran berlangsung, siswa melaksaan pekerjaan sekolah
ala kadarnya, dan lain-lain. Ketiga, guru bersikap dan berperilaku yang tidak
atau kurang sesuai dengan aturan sekolah, moral, dan agama di kelas, misalnya merokok di kelas, duduk di meja selama
mengajar, memukulkan penggaris keras-keras untuk menenangkan siswa, memberi siswa
label negatif, dan lain-lain.
Dampak
kekerasan simbolik
Kekerasan simbolik tidak jelas pengaruhnya pada
sikap dan perilaku anak dalam jangka pendek. Akan tetapi dalam jangka panjang,
kekerasan simbolik terbukti mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan
sikap dan perilaku anak.
Panjangnya masa timbulnya pengaruh kekerasan
simbolik terhadap pembentukan sikap dan perilaku (karakter) anak karena
pengaruh itu terjadi secara bertahap. Pertama, anak menerima pajanan
nilai-nilai negatif di sekitarnya secara terus-menerus. Kedua, siswa
mempersepsi nilai-nilai negatif tersebut sebagai nilai-nilai yang positif dan
layak untuk ditiru. Persepsi positif ini akan semakin kuat kalau penerapan
nilai-nilai negatif tersebut dilakukan oleh orang dewasa yang mereka teladani,
seperti guru dan orang tua.
Ketiga, anak memasukkan dan menyimpan nilai-nilai
negatif tersebut menjadi bagian dari nilai-nilai positif dalam dirinya. Dengan
kata lain, nilai-nilai negatif tersebut dipersepsi dan diterima oleh siswa
sebagai nilai yang positif (baik). Keempat, siswa menerapkan nilai-nilai
negatif tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik di sekolah maupun di
luar sekolah. Pada tahap inilah nilai-nilai negatif yang disalurkan melalui
kekerasan simbolik tersebut telah menjadi bagian dari karakter siswa.
Penulis: Tomi Nurohman
(Mahasiswa IAIN Metro)