socio
eco-techno
preneurship

MODERASI BERAGAMA SEBAGAI GERAKAN

MODERASI BERAGAMA SEBAGAI GERAKAN

Moderasi Sebagai Gerakan Buyung Syukron

metrouniv.ac.id – 10/02/2022

Buyung Syukron, S.Ag. SS, MA (Dosen IAIN Metro)

 

Memahami Moderasi Secara Kontekstual

Moderasi sebagai sebuah gerakan dipicu oleh isu keilmuan tentang pengakuan adanya dialektika antara wahyu, akal (maslahat), dan realitas. Sikap seorang yang mengakui adanya sentralisasi teks sebagai satu-satunya sumber pemahaman dalam mekanisme ijtihad, pada akhirnya melahirkan sebuah kehampaan yang tidak mengandung ide moral. Maka, ketika ini yang terjadi, tentu saja ia akan berpotensi untuk memproduk pemahaman keagamaan yang bernuansa radikal. Sebagai sebuah gerakan, literasi moderasi tentu saja menghendaki hasil  ijtihad yang tidak bersumber dari pemisahan teks dari ide moral yang dikandungnya, yaitu kemaslahatan, keadilan, persamaan, kerahmatan. Hadirnya literasi moderasi mencoba memberikan makna dan warna baru dalam stigma pengetahuan ummat muslim, bahwa semua tata laku dan pola hidup tidak boleh melepaskan diri dari unsur-unsur nilai humanistik, dan hanya dipenuhi oleh nilai ketuhanan.

Dalam tulisan ini, sengaja penulis tidak menggunakan agama tertentu dalam upaya membangun moderasi sebagai sebuah gerakan. Karena moderasi sebagai sebuah gerakan, muncul karena dilatarbelakangi oleh sikap dan pemahaman terhadap doktrin keagamaan yang keliru, dan itu bisa terjadi pada semua ummat beragama yang ada dimuka bumi ini. Munculnya gerakan moderasi berakar dari permasalahan yang muncul dari konflik dan kekerasan yang mengatasnamakan agama (baca: radikalisme dan terorisme). Hadirnya moderasi sebagai sebuah gerakan menurut Jhoni Tapingku (Rektor IAIKN Toraja, 2021) adalah usaha kreatif untuk mengem­bangkan suatu sikap keberagamaan di tengah pelbagai desakan ketegangan (constrains), seperti antara klaim kebenaran absolut dan subjektivitas, antara interpretasi literal dan penolakan yang arogan atas ajaran agama, juga antara radikalisme dan sekularisme. Komitmen utama moderasi beragama terhadap toleransi menurut penulis, menjadikannya sebagai cara terbaik untuk menghadapi radikalisme agama yang mengancam kehidupan beragama itu sendiri dan, pada gilirannya, mengimbasi kehidupan persatuan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Embrio dari moderasi sebagai sebuah aktualisasi gerakan adalah membangun keberpihakan dengan cara memberikan ruang yang proporsional bagi tumbuhnya nilai-nilai kemaslahatan manusia yang disebabkan oleh ekstrem dan radikalnya manusia dalam memahami dan menerapkan pesan-pesan agama. Moderasi sebenarnya bukan istilah baru, akan tetapi sebagai sebuah gerakan, moderasi nampak seperti sebuah istilah current (kekinian), apalagi jika dikorelasikan dengan berbagai kejadian dan dinamika negatif yang mengatasnamakan agama tertentu khususnya di Indonesia saat ini. Munculnya prilaku hidup yang mengedepankan pola-pola kekerasan dengan membawa agama ke dalam pusaran konflik di Indonesia saat ini seolah menjadi sebuah alat justifikasi. Kesemua ini pada akhirnya memberikan gambaran dan illustrasi yang jelas kepada kita bahwa saat ini kita membutuhkan sebuah pola pendekatan pemahaman yang terintegralistik. Pemahaman yang memadukan antara teks-teks suci sebagai sumber ajaran dengan implementasinya yang bersifat kontekstual. Kekerasan yang bermuara pada munculnya gerakan radikalisme dan terorisme yang mewarnai proses keberagamaan di Indonesia saat ini menjadi alasan besar mengapa perlu adanya sebuah pengakuan terhadap sebuah keseimbangan antara tekstual (isi ajaran) dengan posisi realitas kehidupan (kontekstual) yang lebih dinamis, fleksibel, dan harmonis. Dan untuk memaknai semua ini, maka moderasi menjadi key word (alat) yang tepat untuk menjembatani keduanya.

 

Agama sebagai Doktrin vs Gerakan Moderasi Beragama

Dalam konteks di atas, penulis melihat gerakan moderasi yang saat ini digaungkan oleh Pemerintah, harus didukung oleh kesiapan dan  kemampuan ummat beragama untuk secara kaffah melibatkan segala realitas kehidupan (kontekstualisasi) dalam proses pembacaan atau pemahaman teks-teks suci dimaksud atau bisa juga sebaliknya. Dalam paradigma “kontekstualisasi” tersebut dikonsepsikan dan dikonotasikan dalam bentuk zaman, tempat, kondisi dan orang. Pada dimensi lain gerakan moderasi memunculkan sebuah kesadaran besar dalam diri seorang yang beragama untuk memahami dengan baik dan benar zaman yang ia jalani saat ini termasuk keragaman dan kondisi keberagamaan manusia yang ada pada saat ini.

Sebenarnya banyak pemahaman yang keliru, sempit dan terkesan konservatif terhadap realitas kontekstualitas keragaman yang ada pada saat ini, yang pada akhirnya memunculkan pentingnya gerakan moderasi. Sejarah mencatat kekeliruan terhadap pemahaman kontekstualitas dalam perspektif nilai dan ajaran Islam misalnya pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW. dalam memahami dan menerapkan pesan teks-teks suci ketika Abdullah bin Umar dan anaknya Bilal, tentang larangan perempuan ke masjid. (Muhammad Mustafa Shalabi, Ta’lil al-Ahkam). Diceritakan dalam kitab tersebut tentang kemarahan Ibnu Umar karena Bilal berani menggugat teks Nabi sebagai sumber primer. Bagi Ibnu Umar, tidak ada argumen yang bisa digunakan di depan sebuah teks. Bertitik tolak dari penjelasan yang sudah dikemukakan sebelumnya, maka dapat dikatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar adalah bagian dari pemahaman atau sikap yang tidak mencerminkan moderasi. Penyebabnya adalah ia tidak mencoba mengungkap realitas kontekstual sosial pada saat hadis (teks) itu dituturkan oleh Nabi.

Oleh sebab itu menurut penulis, memahami gerakan moderasi sebagai sebuah gerakan adalah bagaimana kita menghadirkan agama untuk semaksimal mungkin menarik manusia dari sikap ekstrim yang berlebihan dan memposisikannya pada posisi yang seimbang. Maka dalam ajaran-ajaran agama manapu untuk mencapai titik keseimbangan tersebut terdapat unsur-unsur kombinasi antara rabbaniyyah (ketuhanan) dan Insaniyyah (kemanusiaan), kombinasi antara  Maddiyyah (materialisme) dan ruhiyyah (spiritualisme), kombinasi antara wahyu (revelation) dan akal (reason), antara maslahah ammah (al-jamaaiyyah) dan maslahah individu (al-fardiyyah), dan lain-lain sebagainya. (Hamzah Harun Al-Rasyid, Moderasi Islam dan Kesuksesan Gerakan Dakwah). Menurut penulis, ada sebuah ekspektasi dan konsekuensi positif yang dapat diraih dari moderasi sebagai sebuah gerakan, adalah ketika seluruh kombinasi di atas dapat dilakukan, tidak satupun unsur atau hakikat-hakikat yang disebutkan diatas mengalami kerugian, baik dalam konteks dan perspektif internal dan eksternal keberagamaan maupun dalam bentuk dan corak serta keragaman (pularistik) yang ada, khususnya  di Indonesia.

 

Kesimpulan

Pengetahuan atas keragaman memungkinkan seorang pemeluk agama akan bisa mengambil jalan tengah (moderat) jika satu pilihan kebenaran tafsir yang tersedia tidak memungkinkan dijalankan. Sikap ekstrem biasanya akan muncul manakala seorang pemeluk agama tidak mengetahui adanya alternatif kebenaran tafsir lain yang bisa ia tempuh. Dalam konteks inilah moderasi beragama sebagai gerakan menjadi sangat penting untuk dijadikan sebagai sebuah cara pandang (perspektif) dalam beragama. Dari berbagai uraian dan perspektif serta kontesk tulisan di atas, dari sudut pandang agama manapun, keragaman adalah anugerah dan kehendak Tuhan; jika Tuhan menghendaki, tentu tidak sulit membuat hamba-hamba-Nya menjadi seragam dan satu jenis saja. Tapi Tuhan memang Maha Menghendaki agar umat manusia beragam, bersuku­-suku, berbangsa-bangsa, dengan tujuan agar kehidupan menjadi dinamis, saling belajar, dan saling mengenal satu sama lain. Dengan begitu, bukankah keragaman itu sangat indah? Kita harus bersyukur atas keragaman yang ada pada bangsa ini. (BS/1/1/22)

Artikel Terkait

Cinta dan Pengorbanan

metrouniv.ac.id – 12/06/2024 – 5 Dzulhijjah 1445 H Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro) Kamu tidak

Haji dan Kepekaan Sosial

metrouniv.ac.id – 12/06/2024 – 5 Dzulhijjah 1445 H Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro) Pada saat

Sepakat Dalam Perbedaan

metrouniv.ac.id – 11/06/2024 – 4 Dzulhijjah 1445 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Berkumpulnya umat Islam dari

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.