metrouniv.ac.id – 22/04/2022 – 20 Ramadhan 1443
Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi Syariah IAIN Metro)
Lebih dari 1 bulan ini saya belajar tentang pemberdayaan masjid, baik bertemu dengan para pemakmur masjid atau berselancar di youtube tentang manajemen Masjid. Kisah Jogokariyan Jogja, Al Falah Sragen, Masjid Kapal Munzalan Pontianak patut di apresiasi. Namun saya juga tertarik dengan konsep Surau BMC (Berkah Madani Center) terletak di Way Kandis Bandar Lampung. Saya datang mendengar dengan serius bagaimana mereka mengambil nama surau sebuah bangunan ibadah di desa yang sangat lekat dengan tradisi melayu.
Surau BMC kecil tapi penuh dengan kegiatan. Dengan dimulai usaha sentra masjid menyediakan kebutuhan karpet, jam digital, kubah masjid dan lainnya mereka mengubah paradigma 35 Karyawan menjadi santri karya. Mereka dimutabaah (chek kewajiban rutin seperti bangun sholat malam, baca quran, duha, puasa, sodaqoh, sampai aktivitas mau tidur lagi). Tidak mudah tapi mas Bayu pimpinan BMC punya komitmen dari Surau semua dikembalikan. Surau adalah awal dan akhir dari semua aktivitas santri karya.
Biasanya setiap usaha sukses, mereka membangun masjid. Punya kantor besar, bangun mushola kecil atau masjid. BMC adalah upaya sadar bahwa Surau lah yang memiliki usaha, memiliki fasilitas mobil dan asset usaha lain. Kelak ketika pengurus meninggal surau harus tetap kokoh berdiri sebagaimana Kerajaan Demak sudah tumbang, masjid demak tetap ada berdiri. Masjidil Haram punya lebih dari 2.000 karyawan, jadi jangan heran kalau Rumah Allah bisa mensejahterakan dan memuliakan orang di dalamnya. Jika ada takmir tidak mau digaji itu artinya kebaikan hati Takmir, tapi mengapa Al Falah Sragen Imam digaji 10 juta per bulan? Kenapa Masjid Munzalan mobil masjidnya sekelas Alphard, Pajero dan setiap bulan menyalurkan 800 ton beras? Kenapa semakin banyak masjid mulai sadar mengembangkan manfaat untuk sekitar dengan berbagai aspek kegiatan bukan hanya ibadah ritual?
Masjid Makan-Makan (3M) sudah tidak heran lain. Jogokariyan 3000 piring setiap hari di Ramadhan. Al Falah setiap hari di luar Ramadhan 300-500 piring, semua gratis untuk siapapun. Tentu faktor ketokohan dan inovasi pengurus sangat penting. Masjid punya satpam, punya kamar penginapan, pagi tamu ditanya mau sarapan nasi goreng atau bubur ayam. Sandal sampai motor hilang di Jogokariyan insyallah diganti. Takmir adalah orang yang fokus ngurus rumah Allah bukan sambilan atau bahkan membuat jamaah pada lari bukannya bertambah.
Kami Mushola Sabilil Mustaqim mulai berbenah, kami menyiapkan rencana kegiatan sebagai upaya mengejar ketertinggalan. Apalagi kami bukan masjid, kami Mushola yang juga ingin menjadi yang terbaik dalam melayani para jamaah. Kami menyiapkan website yang terintegrasi dengan website www.payungi.org kami tambahkan domain di depannya menjadi www.mushola.payungi.org sebuah ikhtiar mengusung tagline Mushola Sabilil Mustaqiim; Bersama Mushola Kita Bahagia.
Ada 4 Tema Prioritas dengan berbagai kegiatan di kemudian hari yaitu pendidikan Mushola, Mushola Bahagia, Ekonomi Mushola, dan Fasilitas Mushola. Sebagai Mushola yang terus belajar kelak kami akan memanen banyak kebaikan dari kegiatan yang kami kerjakan. Kami juga sudah kerjasama dengan Bank Syariah Indonesia dan Bank Rakyat Indonesia dalam menyediakan layanan donasi melalui QRIS, tapi yang jelas tidak boleh di lupakan kami sudah memulai pemberdayaan ekonomi berbasis mushola dengan adanya Payungi (Pasar Yosomulyo Pelangi) dan banyak gerakan pengetahuan transformatif di komunitas selama 3,5 tahun ini. Semoga Mushola terus tumbuh dalam gagasan dan gerakan. Meskipun bukan masjid, semoga Mushola kami dalam berlomba-lomba dalam kebaikan.