Muslim-Life di Canberra

50Mufliha-Wijayati2

Penulis: Mufliha Wijayati (Dosen IAIN Metro, Penerima Program Beasiswa Partnership in Islamic Education Scholarships (PIES) 2018)

Dalam tulisan saya sebelumnya,
saya bertutur 'kepayahan' menjadi minoritas dengan menyentil kembali gagasan fiqih
aqalliyat. Tapi rupanya ada banyak bahagia yang bisa kita cecap saat menjadi
minoritas. Meminjam syairnya payung teduh, "mengapa takut pada lara,
sementara semua rasa bisa kita cipta". Ada banyak bahagia saat menjadi
bagian dari keluarga Muslim Canberra.

Pertama, adalah rasa ukhuwah yang
luar biasa kuat bisa kami rasa di sini. Muslim Indonesia yang tinggal di
Canberra berada dalam jalinan ukhuwah Australia Indonesia Muslim Foundation,
ACT (AIMF ACT). AIMF ACT adalah payung besar dari berbagai komunitas Muslim di
Canberra. Ada yang dari NU, Muhammadiyah, Komunitas Pengajian Keluarga,
komunitas student-staff ANU dan University of Canberra (UC), juga dari
keluarga-keluarga permanen-resident. Mereka semua datang dari berbagai daerah
di Indonesia. Soal jumlah tak bisa disebut secara pasti, karena sebagai student
mereka datang dan pergi silih berganti. Kami merasakan sebagai keluarga sejak
minggu pertama kami datang, diundang untuk hadir di KBRI mengikuti acara ramah
tamah dan tausiah dari Bapak Haedar Nasir, Ketua Umum PP Muhamadiyah yang
sedang berkunjung ke Australia bersama Rektor-Rektor Perguruan Tinggi
Muhammadiyah di Indonesia.

Minggu
berikutnya, kami disambut secara khusus dengan acara BBQ di Narra-Park tepi
Danau Burley Griffin. BBQ sangat Australia. Di Taman-taman kota disediakan
arena bermain dan tempat BBQ sebagai public-fasility alias gratis. Yang
penting, jaga kebersihan dan tidak buat keributan yang mengganggu kenyamanan
orang lain. BBQ itu semacam bebakaran dengan 'kompor' umum, yang dibakar bisa
daging, sosis, beef, atau apapun. Tempe atau tahu kalau mau juga bisa mungkin
ya? Kalau tradisi BBQ ala Australia, biasanya daging, sosis, beef, dan
sejenisnya bawa masing-masing. Pengundang hanya menyediakan sayuran, buah untuk
salad dan minuman ala kadarnya. Tapi untuk BBQ kemarin kami hanya bawa badan,
semua disediakan AIMF ACT.

Usai bebakaran, makan, dan
'kulaimat ahlan wa sahlan' dari perwakilan komunitas yang ada di AIMF ACT, kami
salat zuhur berjamaah di taman tersebut. Salat berjamaah di ruang terbuka di
area picnic.

Kedua, ghirah kami untuk mengaji
dan mengkaji Islam menjadi membara di sini. Ada banyak kegiatan yang dihelat
oleh komunitas-komunitas naungan AIMF ACT. Ada pengajian komunitas Khataman
Canberra, Pengajian Keluarga, kajian UC KUM, dan TPA Ceria Canberra. Bahkan
sedang digagas kajian tematik mingguan tentang tafsir dan peta pergerakan
organisasi Islam. Nara sumber untuk kajian tafsir adalah orang alim yang
beberapa waktu lalu saya kunjungi.

Sedikit cerita, untuk pengajian
khataman Canberra dikemas dengan tadarus masing-masing 1 juz yang dibaca dalam
rentang waktu 1-2 minggu sebelum acara pengajian. Pada saat pengajian, tersisa
juz 30 yang dibaca bersama-sama, dan ditutup doa khataman. Tadarus ini kemudian
menjadi media mendawamkan tilawah al-Quran. Meski tidak sampai one day one juz,
yang mungkin masih belum bisa dilakukan beberapa orang.

Usai
tadarus, dilanjut tausiah dan dialog. Pun dikemas dengan sangat interaktif,
dibuka dengan diskusi kelompok-kelompok kecil selama 10-15 menit membincang
topik, baru kemudian panggung diberikan pada nara sumber. Sesi tanya jawab
dibuka, dan nampak sekali ghirah ingin tau para jamaah dengan ragam pertanyaan
dan konfirmasi yang diajukan. Kawan PIES kami, kyai Madura didapuk sebagai nara
sumber dalam khataman bulan Maret ini.

Sambil “mesem-mesem” sendiri, terbayang
waktu di kampung halaman sering kali mangkir dari undangan pengajian dari
muslimat atau dari mushalla komplek. Selalu ada alibi, ada hal penting lain
yang harus dilakukan di waktu yang sama. Padahal keimanan itu yazid-yanqus,
pertemuan-pertemuan seperti ini sejatinya adalah moment untuk nge-charge
keimanan. Khusus khataman canberra bisa menjadi moment nge-charge ruhani
sekaligus jasmani, karena makanan yang disediakan sohibul bait dan jamaah lain
jadi pengobat rindu rumah dan perbaikan gizi bagi anak rantau seperti kami.

Tradisi kumpul-kumpul di sini
pengunjung selalu bawa makanan sendiri untuk disantap bersama, pun saat
acara-acara di kampus selalu membawa makanan masing-masing. Biasanya dalam
undangan tertulis BYO atau potluck.

Selain khataman, ada kegiatan
mingguan komunitas Muslim yang saya ikuti, yaitu TPA Ceria ANUMA (ANU Muslim
Assosiation). Pesertanya lumayan banyak, putra-putri keluarga student atau
putra-putri permanen resident usia 3-12 tahun. TPA ini diadakan untuk menjawab
kegelisahan orang tua bagaimana anak-anak kami bisa belajar agama dan al Quran
di negeri kanguru ini. Kebayang kan sulitnya akses belajar BBTQ di sini,
sementara orang tua juga harus berjuang sekuat jiwa dan raga dengan tumpukan
paper. Dengan media Iqro anak-anak dibimbing mengeja huruf-huruf hijaiyah,
diselingi hafalan surat-surat pendek, dan sirah nabawiyah. Aku berpartisipasi
di TPA ini, untuk mengenalkan huruf-huruf al Quran.

Indahnya menjadi Muslim di
Canberra…[]

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.