NAIK HAJI DI MASA LALU

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 22/05/2024 – 14 Dzulqa’ah 1445 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Masa lalu yang dimaksud dalam tulisan ini adalah masa kolonial Belanda hingga sampai masa awal kemerdekaan Indonesia. Bagaimanakah gambaran haji di masa lalu? Pemaparan yang komprehensif untuk mengetahui naik haji di masa lalu di Indonesia ada dalam sebuah buku yang terdiri dari tiga jilid  sedang. Buku yang dimaksud adalah berjudul Naik Haji di Masa Silam yang disusun oleh Henri Cambert Loir dengan beberapa kontributor. Buku ini diterbitkan oleh Kepustakaan Popular Gramedia dan terbit pertama tahun 2013. Jilid pertama buku menjelaskan kisah perjalanan naik haji masa-masa zaman Hindia Belanda antara 1842-1890. Buku Jilid kedua berisi catatan perjalanan haji beberapa tokoh dan penulis penting seperti R.A.A. Wiranatakusuma, Dja Endar Moeda,  Hamka, dan lain-lain yang berkisar antara tahun 1900-1950. Sementara jilid ketiga menceritakan pelaksanaan haji antara tahun 1954-1964.

Pada masa Hindia Belanda, perjalanan haji dilaksanakan dengan durasi waktu kurang lebih enam bulan dengan menggunakan kapal laut milik perusahaan Belanda. Enam bulan itu tidak semuanya pelayaran di laut, tetapi dengan durasi waktu singgah di beberapa pelabuhan yang dilewati. Kapal terkadang harus transit di beberapa pelabuhan yang lamanya terkadang beberapa hari  dalam satu kali transit. Lamanya waktu perjalanan haji membuat setiap orang yang berhaji harus menyiapkan bekal dan uang yang cukup untuk hidup selama kurang lebih satu tahun. Dalam beberapa catatan sejarah banyak yang mereka menunaikan ibadah haji tidak langsung kembali pulang, namun berkelana atau langsung menempuh pendidikan di Mekah atau Madinah.

Disamping soal lamanya waktu, perjalanan Haji di masa Belanda digambarkan sebagai perjalanan yang berbahaya karena kondisi pelayaran yang luar biasa buruk. Kapal yang digunakan bukan kapal penumpang tetapi kapal barang (kargo). Jamaah diberi tempat dalam ruang gudang (palka) yang tidak terlalu luas, masing-masing mendapatkan 1 atau 1,5 meter persegi. Dapat dibayangkan bagaimana ratusan orang dapat bertahan selama enam bulan dengan tidur, kamar mandi, buang air atau memasak dengan berdempet-dempet demikian. Kondisi kebersihan dan kesehatan sangat memprihantinkan. Dengan kondisi di kapal yang buruk seperti itu maka sangat sering mewabah penyakit menular seperti cacar, gatal-gatal, pes, dan sebagainya.

Bahaya lain dari perjalanan haji di masa Hindia Belanda adalah perjalanan yang digambarkan penuh dengan kriminalitas. Pemerasan, penipuan, konflik antar jama’ah, mewarnai perjalanan jamaah haji dari sejak berangkat hingga sampai di Mekah Arab Saudi. Para jamaah haji Indonesia saat itu menjadi sasaran empuk pemerasan dan penipuan karena tidak menguasai Bahasa Arab dan tidak mengetahui dengan baik mana yang menjadi syarat, rukun, dan wajib haji. Apalagi mereka sering naif dan mudah percaya. Mereka cenderung mengagumi segala hal yang berbau Arab sehingga dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Pada awal abad 20, gambaran beratnya perjalanan naik haji orang-orang Indonesia belum juga mengalami banyak perubahan. Dja Endar Moeda dalam memoarnya “Perjalanan ke Tanah Suci” (1903), menceritakan bahwa dari tanah Hindia untuk sampai ke Mekah bisa melalui dua jalan, yaitu menumpang dengan kapal Inggris dari Penang, dan kedua menumpang dengan kapal Belanda dari Padang. Ia sendiri menumpang kapal Belanda yang dinilainya lebih baik dengan makanan yang cukup. Ia menggambarkan bahwa di dalam kapal itu ada kurang lebih 1000 orang bumi putra yang hendak pergi ke Mekah dan kebanyakan dari bangsa Jawa.

Sementara kalau menumpang kapal Inggris, para calon jamaah haji itu membawa bekal sendiri berupa beras, bumbu-bumbu, sayuran, bahan lauk pauk dan sebagainya. Mereka memasak sendiri di kapal. Pada saat memasak itu acapkali terjadi keributan dan perkelahian sebab banyak yang dahulu mendahului, berebut tempat memasak tersebut.

Sebagaimana di atas, Dja Endar Moeda menggambarkan bahwa jamaah haji seringkali menjadi sasaran penipuan dan pemerasan. Beratus-ratus penipu katanya hendak menipu daya jamaah haji. Penipuan itu mulai di kapal, di pelabuhan tempat transit hingga sampai ke Mekah dan Madinah. Ketika menceritakan hal ini, ia sampai mohon maaf supaya orang jangan salah sangka seolah-olah ia hendak mencela kota Mekah dan Madinah. Hanya untuk diketahui saja dan menjadi pelajaran bagi yang mau berangkat haji.

Pada awal kemerdekan, tepatnya setelah lima tahun kemerdekaan yaitu  1950, jamaah haji sudah lebih baik setidaknya mereka dapat mengurus dan mengelola sendiri perjalanan naik haji atas kewenangan pemerintah. Hamka dalam tulisannya “Mandi Cahaya di Tanah Suci” (1950), menceritakan lika-liku perjalanan haji pada pasca kemerdekaan. Hamka menceritakan bagaimana ia ditunjuk untuk menjadi Majelis Pimpinan Haji oleh pemerintah di kapal Kota Baru yang bertolak dari Tanjung Priok dengan rombongan jamaah haji Indonesia yan berjumlah 970 orang. Disamping kapal ini ada delapan kapal lainnya yang masing-masing dengan pemimpinnya.

Tahun 1950 adalah tahun pertama kemerdekaan Indonesia diakui di tengah bangsa-bangsa di dunia. Juga tahun pertama urusan haji dipegang oleh pemerintah Republik Indonesia. Belum sepenuhnya sempurna tetapi tidak lagi tergantung kepada kebijakan pemerintah kolonial Belanda.

Masih soal masalah klasik jamaah haji Indoensia. Di atas kapal Hamka menghadapi masalah tingkat pendidikan para jamaah yang umumnya masih rendah. Kebanyakaan jamaah adalah orang dusun yang tidak mempunyai kesadaran kesehatan dan tidak mengindahkan aturan apapun. Dipasang aturan dan rambu tidak bisa dibaca dan kalaupun dibaca tidak dimengerti. Ada yang membuang air dimana-mana, ada yang merokok di polka, ada laki-laki mandi di telanjang di kamar mandi wanita, dan macam-macam lainnya. Namun yang menarik, di tengah perjalanan panjang naik haji itu ada saja yang kemudian menikah di dalam kapal, atau setelah nanti turun kapal. Pertemuan banyak suku bangsa dari berbagai latar belakang rupanya juga menjadi ajang pencarian jodoh.

Demikianlah gambaran perjalanan naik haji bangsa kita di masa lalu. Tidak banyak cerita senang atau bahagianya. Namun naik haji dari dahulu hingga sekarang selalu menjadi impian bagi setiap muslim, sehingga sesusah apapun tetap saja ditunaikan dan dirindukan. Berbahagialah generasi sekarang yang bisa menunaikan ibadah haji tidak sesulit jamaah masa lalu. Mungkin hanya masa tunggu saja yang lama. (mh.21.05.24).

(posting: ss_humas)

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.