metrouniv.ac.id – 12/07/2023 – 23 Dzulhijah 1444 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Syahdan, dahulu kala ada seorang raja yang ingin menguji rakyatnya siapa yang peduli dengan persoalan-persoalan masyarakat. Pada tengah malam buta Sang Raja meletakkan sebuah batu cukup besar di tengah jalan. Ketika orang-orang lewat di jalan itu dan melihat batu itu di tengah jalan reaksi mereka bermacam-macam. Diantara mereka ada mengutuk marah-marah, siapa yang telah meletakkan batu di tengah jalan. Yang lain mengumpat, sungguh kurang ajar siapapun yang melakukan itu. Dasar begundal, tidak tahu diri, bikin susah orang, kurang kerjaan, dan macam-macam umpatan lainnya.
Puluhan orang yang melewati jalan yang ada batunya hampir sebagian besar berisi cacian, makian, umpatan, mengutuk sekeras-kerasnya siapapun yang melakukan perbuatan kurang ajar itu. Tidak banyak yang tergerak untuk mengangkat dan menyingkirkan batu itu. Hingga satu saat ada seorang yang melewati jalan tersebut dan melihat batu itu di tengah jalan. Tidak ada cacian, tidak ada umpatan atau keluhan macam-macam. Ia singsingkan lengan baju dan dengan sekuat tenaga, meskipun dengan peluh dan keringat menetes, disingkirkannya batu itu dari tengah jalan.
Ternyata, setelah batu itu diangkat, di bawahnya terdapat sekantong berlian. Sang Raja memang sengaja menaruh sekantong berlian di bawah batu itu sebagai hadiah bagi siapapun yang memiliki kepedulian terhadap persoalan yang terjadi dan mau berbuat baik untuk membantu menyelesaikan atau mencari solusi dari masalah yang dihadapi.
Pesan moral dari cerita di atas, bahwa dalam kehidupan kebanyakan orang lebih banyak mengeluh, menyalahkan dan melihat segala sesuatu dengan kacamata yang negatif, alih-alih menyodorkan saran dan memberikan solusi. Kondisi ini persis dengan sebuah kata-kata bijak: would rather light a candle than curse the darkness. Ungkapan bijak ini disampaikan oleh Adlai Stevenson di New York Times, terbitan 1962. Dalam Bahasa Indonesia, sering diterjemahkan dengan ungkapan Lebih Baik Menyalakan Lilin daripada Mengutuk Kegelapan.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia sering banyak mengeluh dan menyalahkan dari hal-hal yang kecil dan remeh temeh sampai hal-hal yang besar dan penting. Ketika panas terik menyengat, mengeluh panas, berkeringat, suntuk. Begitu hujan turun, mengeluh kebasahan, dingin, becek, rubes dimana-mana. Semua dikeluhkan. Karakter manusia yang suka berkeluh kesah ini digambarkan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an surat al-Ma’arij ayat 19-21: “Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir”.
Dalam urusan yang besar-besar, ada juga kecenderungan manusia untuk berkeluh kesah. Bukan hanya mengeluh tetapi juga menyalahkan, mengumpat, mencaci, menyerang, dan lain sebagainya. Ada sebagian orang yang dalam urusan kepemimpinan lebih banyak menyalahkan pemimpinya, dari dianggap tidak becuslah, tidak punya visi, menyalahkan kebijakan, bahkan sampai ingin menjatuhkannya. Isinya kritikan dan kesalahan melulu tidak mau melihat sisi-sisi kebaikannya, juga tanpa memberikan pemikiran yang solutif. Apalagi membantu menyelesaikan persoalan yang terjadi.
Menghadapi berbagai persoalan masyarakat, banyak yang hanya mengeluh dan cenderung menyalahkan saja. Tanpa pernah berusaha mencari jalan keluar dan mengatasinya. Kemiskinan yang terjadi hanya diratapi sembari menyemburkan kesalahan disana sini. Lingkungan yang kotor dan jorok, sampah bertebaran dimana-mana, hanya dikeluhkan, tanpa ada usaha untuk membangun kesadaran sendiri untuk berbudaya bersih dan pentingnya lingkungan yang nyaman. Apalagi sampai menggerakkan masyarakat atau yang lainnya untuk mengatasi persoalan tersebut.
Banyak yang mengumpat kegelapan daripada menyalakan lilin. Karena itu patut diberikan apresiasi bagi siapapun yang hidupnya penuh dengan pandangan yang positif. Melihat segala sesuatu dengan perspektif yang baik-baik. Mereka yang mendedikasikan waktunya untuk membantu menyelesaikan persoalan jauh lebih baik dibandingkan mereka yang hanya sekedar mengeluh dan hanya bisa menyalahkan. Kehidupan ini membutuhkan orang-orang mau menyalakan lilin meskipun nyalanya kecil daripada orang-orang yang hanya bisa mengutuk gelap. (mh.grandelty.12.07.23).