Tercatat
terdapat banyak lembaga pendidikan yang berbasis Islam di negara ini, baik dari
tingkat dasar sampai lembaga pendidikan tinggi. Dari sanalah peran Islam dalam
lembaga pendidikan dimulai untuk memberikan sumbangsinya terhadap negara dan
agama, tentunya untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkompeten.
Mencerdaskan anak bangsa merupakan budi luhur, menjadi amanat yang harusnya
dijalankan tanpa pamrih. Lembaga pendidikan saat ini menjadi satu tempat
potensial untuk memberikan pembelajaran kepada generasi akan datang.
Dahulu
pendidikan dimulai dengan kelompok-kelompok belajar, tentunya non formal.
Pendidikan formal baru dicanangkan setelah dirasa perlu dilakukan. Dulu kita
kenal dengan Sekolah Rakyat. Sekolah yang dicanangkan untuk kegiatan belajar
anak, dari sana bermunculan seorang pemikir-pemikir yang terlibat dalam gerakan
pensejahteraan bangsa. Sekolah Rakyat dahulu banyak kita jumpai di daerah Jawa,
yang sekarang ini banyak bergeliat dibidang pendidikan dan pariwisata. Misal
saja Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi ikon Kota pendidikan. Bahkan
terbentang dari timur ke barat, Jawa menjadi jawara bidang pendidikan, bahkan
pariwisatanya.
Bandung,
salah satu kota di Jawa Barat, menjadi kota dengan segudang kreatifitas
mahasiswa dan warganya. Mengembangkan ekonomi kreatif adalah pilihan dari kota
yang memiliki predikat kota tersejahtera karena indeks kebahagiaan kota Bandung
sangat tinggi. Kreatifitas tidaklah didapat dari intuisi atau instan, namun
jalur pendidikanlah yang menjadi motor penggeraknya, baik formal maupun non
formal. Dua daerah tersebut menjadi kiblat daerah-daerah penyangganya dan
daerah luar Jawa yang dapat mengkolaborasikan antara pariwisata dan pendidikan.
Dari pendidikan yang benar dan berstandarkan Nasional bahkan Internasional,
maka moral bangsa akan terangkat, ke depan merekalah menjadi generator
penggerak roda perkonomian dan persaingan di pasar nusantara dan global.
Pendidikan
menjadi satu faktor yang sangat vital digalakkan, ketika Indonesia ingin
bergeliat dan merangsak ke dalam persaingan global. Tentunya juga dengan
memanfaatkan potensi sumber daya alamnya. Perlu kita ingat
eksploitasi-eksploitasi yang dilakukan oleh negara adidaya di dunia atas Papua,
Freport. Penulis mencatat bahwa hal itu terjadi karena tidak terpikirkannya
cara pemanfaatann dan mengolahnya. Freport menjadi lumbung kehidupan untuk
Perusahaan milik Amerika yang sejak awal menancapkan kakinya di Papua untuk
mengambil sebagian besar sumber daya alam yang tersedia.
Bab-bab
kesengsaraan akan terulang kembali setelah masa penjajahan telah usai, karena
masa kekelaman akan segera hadir kembali ketika sumber saya alam direlakan
untuk dieksploitasi oleh segelintir orang, mungkin nantinya bukan hanya orang
dalam negeri saja, bahkan luar negeri. Maka beberapa hal perlu dilakukan,
bukanlah memperbaiki sistem pemerintahan dan regulasi. Tidak jauh dari hal itu,
melainkan generasi milenial lah yang harus disiapkan untuk bersiap diri memikul
tantangan-tantangan dalam dirinya yang
bersifat personal dan global.
Pendidikan
dan Ajaran Islam
Negara
ini dahulu di dominasi oleh pondok pesantren, perlu penulis ingatkan. Pondok
pesantrenlah yang memiliki sumbangsi terhadap negara untuk memberikan
pencerdasan kepada anak bangsa. Sebenarnya negara ini berjuang tidak hanya
harus melawan kekuatan penjajah, namun juga melawan kebodohan. Negara ini tidak
akan bisa merdeka jika bodoh dalam mengambil moment, tidak tepat. Pemersatuan
bangsa hanya dengan teks proklamasi adalah kesuksesan dalam melawan kebodohan,
serta pancasila itu adalah merupakan kecerdasan-kecerdasan yang harus banyak
dimiliki oleh generator negara ke depan. Maka pengembangan sumber daya manusia
melalui pendidikanlah yang akan sangat membantu dalam melawan lupa dan
intelektual barat.
Al-Ghazali
dalam bidang pendidikan menyimpulkan bahwa tujuan dari pendidikan adalah
keutamaan dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Berapa banyak ilmu yang di
dapat ketika tidak ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka
Al-Ghazali menyepakati bahwa pendidikan tersebut telah gagal. Biyarpun beragam
metode, ilmu dan lamanya proses belajarnya, ketika tidak dinisbahkan kepada
pendekatan kepada Illah, pendidikan tersebut telah gagal, telah gagal
menjalankan amanah Allah SWT atas manusia.
Anak
yang terlahir di dunia dengan keadaan yang suci akan tumbuh kembang dengan
bantuan orang-orang disekitarnya. Baik-buruknya anak akan bergantung kepada
pendidikannya, baik di lingkup keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan
formal maupun non formal. Selain itu budaya dan pergaulan anak juga akan mempengaruhi
perkembangan pola pikir dan kepribadian anak. Penting bagi orang tua
memperhatikan hal-hal tersebut. Al-Ghazali menyatakan bahwa anak lahir di dunia
seperti halnya kertas yang putih bersih. Maka, perkembangan si anak akan sangat
bergantung kepada pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya dan lingkungan.
Perkembangan
anak akan bertumbuh pesat dengan bimbingan orang tuanya sejak kecil hingganya
ia dapat mengenal beberapa fenomena-fenomena alam, seperti halnya perbedaan
keyakinan, pendapat, budaya, suku, dan ras, bahkan pendapatan. Sejauh ini
banyak generasi mileneal mengkesampingkan beberapa gerakan pemasifan pendidikan
berbasis Islam. Bahkan, fenomena remaja saat ini sangat berbeda jauh
dibandingkan dengan remaja sebelum masa orde baru. Kehidupan yang melenceng
dari ajaran agama menjadi fenomena yang penting untuk diperhatikan, karena
nasib negara ini akan sangat bergantung kepada remaja saat ini. Moral anak akan
terjaga dengan ajaran Islam, karena Islam akan memberikan proteksi atas
kepribadian anak.
Dahulu
gerakan berbasis pondok pesantren sangat masif dan mempunyai kompetensi dengan
gerakan-gerakan konvensional masyarakat. Lembaga pendidikan berbasis Islam
mempunyai peranan yang sangat penting untuk menyelamatkan kepribadian Islam di
negara ini. Lembaga pendidikan berbasis Islam akan mmberikan perannya dalam
menyelamatkan anak bangsa dari serangan kemodernan dunia. Kolaborasi antara
pendidikan Islam dengan ilmu pengetahuan akan menciptakan kemampuan diri yang
baik, karena dilatarbelakangi oleh kebaikan-kebaikan.
Fenomena
yang jomplang tersebut menjadi peristiwa pengikisan kepribadian Islam di dalam
diri generasi masa depan. Kenapa harus mengaitkan dengan kepribadian Islam? Hal
itu dikarenakan Islam akan membentengi intuisi-intusi yang didapatkannya dari
Illah dan mengembangkannya dengan mengkolaborasikan dengan ilmu pengetahuan
(sain). Proteksi-proteksi akan hal-hal negatif yang bersifat personal maupun
komulatif akan sangat berperan kepada daya tangkap, serap, dan kemapuan
berpikir anak. Dan lembaga pendidikan lah yang saat ini menjadi pemeran utama
untuk mengembalikkan fenomena ini kepada jalan yang lurus, jalan yang telah
diberikan kepada manusia selayaknya khalifah fil ardhi.
Kenapa
demikian? Karena saat ini si anak dapat menilai apa yang enak dan tidak, bukan
lagi baik atau tidak. Hal itulah yang akan merusak moral bangsa dan mencederai
ke-Imanan dan ke-Islamannya. Kelak ramalan-ramalan yang buruk terhadap negara
ini akan terjadi, bahkan kehancuran negeri ini bukan lagi disebabkan oleh negara
penjajah seperti pada saat Belanda, Inggris dan Jepang berkuasa, melainkan
karena rusaknya moral anak bangsa hingga tidak dapat bersaing dengan
promotor-promotor negara lain.
Dengan
dibebaskannya segala akses keluar masuk negara melalui jejaring sosial, maka si
anak yang baru tumbuh akan mengasimilasi dan mengaplikasikan budaya dan
kepribadian beberapa orang yang dianggapnya menjadi panutan ke dalam
kehidupannya, padahal sosok panutan (uswatun hasanah) umat muslim tidak lain
dari Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut saat ini banyak dilakukan dan dipraktekkan
oleh banyak remaja Indonesia.
Dimana
tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru yang pernah diungkapkan oleh
dari Ki. Hj. Dewantara, merupakan sebuah pembelajaran kepada semua orang bahwa
semua tempat merupakan sekolah yang digunakan untuk belajar dan semua orang
adalah guru, menjelaskan bahwa semua orang dapat belajar kepada siapapu, bahkan
kepada anak kecil. Namun pembatasan-pembatasan atas kebebasan harus dilakukan,
bukan lagi membiarkan pergaulan si anak, dan disinilah peran pendidikan dan
Islam. Maka ketika lembaga pendidikan dan Islam dapat berkolaborasi bukan tidak
mungkin Indonesia memiliki generasi masa depan yang baik dan berkompeten dalam
dunia global.
Seperti
halnya Plato yang menyatakan bahwa pendidiakan itu bersifat life-long (seumur
hidup), maka aktivitas pendidikan tidaklah harus berhenti sampai pada gelar
yang disandang, melainkan terus berlanjut sampai kematiannya. Plato kemudian
menjelaskan bahwa pendidikan tidak harus memberikan pengetahuan dan kemampuan
berpikir, akan tetapi juga memberikan nilai, insting, membina tingkah laku dan
sikap yang benar. Seperti halnya pendidikan yang dilakukan oleh Imam Syafii
yang tak pernah puas atas pengetahuan yang dimilikinya dan selalu berganti-ganti
guru dan tidak membatasi pengetahuannya. Hegemoni yang memenjarakan si anak
pada kekerdilan berpikir tanpa kreasi akan membawa kepada sekat pengetahuan
anak. Hasilnya si anak akan tidak mampu berpikir ke depan, bahkan hanya akan
berhenti pada pengetahuannya yang tidak berkembang.
Rusaknya
moral anak bangsa akan banyak diakibatkan oleh ilmu pengetahuan yang tidak
benar dan pengaruh budaya yang tidak baik. Lain hal, negara ini membutuhkan
seorang pemikir yang jernih yang mau dan mampu memikirkan bangsa tanpa
mencederai amanat yang diberikan. Lembaga pendidikan dan Islamlah yang dapat
membatasi dan memberikan pemahaman atas kehidupan yang benar, akhirnya
pemikiran yang bermuara atas kepentingan bersama akan tercipta dan
kesejahteraan bangsa akan terwujud. Hanya saja negera ini berkeinginan atau
tidak untuk dapat membatasi kepribadiannya dengan ajaran agama.
Metro
dan Lembaga Pendidikan Islam
Metro
dengan visi kota pendidikan dan sebagai tempat pariwisata keluarga memiliki
peranan yang sangat penting dalam mengembangkan dan menelurkan pemikir-pemikir
bangsa. Visi tersebut diwujudkan dengan banyaknya lembaga pendidikan dan pondok
pesantren yang bergeliat dalam memberikan pencerdasan kepada generasi masa
depan. Tidak heran ketika Metro dinobatkan sebagai kota yang Islami ke-7 se
Indonesia, seperti yang dilansir oleh maarif institute pada 17 Mei 2016, dengan
indikator banyaknya lembaga pendidikan berbasih Islam yang berkolaborasi dengan
lembaga pendidikan yang umum. Tercatat, Metro dengan wilayah yang tidak lebih dari
68,74 km² memiliki lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan
tinggi serta pondok pesantren yang dapat dibilang tidak sedikit, terlebih 4
perguruan tinggi terbesar di Metro adalah lembaga pendidikan yang berbasis
Islam, yaitu Universitas Muhammadiyah, IAIN Metro, IAI Agus Salim dan IAI
Maarif.
Terdapatnya
pondok pesantren dan lembaga perguruan tinggi yang berbasis Islam di kota ini
menjadi modal utama dalam menciptakan generasi milenial yang berkompeten.
Dengan visi kota yang demikian, maka Metro harus berbenah dan mengembangkan
lembaga pendidikannya kepada ranah yang lebih baik. Beberapa hal yang dilakukan
oleh dinas kepustakaan daerah kota Metro saat ini akan sangat membantu dalam
menciptakan budaya literasi di kota ini, menjadi penolong utama atas kebodohan
yang ada di kota ini, serta budaya diskusi-diskusi yang dilakukan oleh
komunitas-komunitas, nantinya akan mengentaskan kepada hal yang keliru. Budaya
komunitas yang menjadikan setiap saat untuk belajar (diskusi) akan menyempitkan
tugas dari lembaga pendidikan. Dan budaya tersebut akan mengimplementasikan apa
yang pernah dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara tempo lalu.
Diskursus
yang paling penting adalah kolaborasi antara lembaga pendidikan dengan budaya
nyantri. Budaya pondok pesantren akan membawa kepada kebaikan-kebaikan dalam
berpikir. Budaya Islami yang dibawa oleh pondok pesantren haruslah menjadi
landasan berpijak pendidikan manusia. Ketika budaya dan pola pikir nyantri
diimplementasikan kepada lembaga pendidikan maka bukan tidak mungkin perluasan
pengetahuan dapat tercapai. Seperti halnya yang dilakukan oleh Imam Syafii
tempo lalu dan asumsi Plato bahwa pendidikan tidak terbatas kepada pengetahuan
yang saat ini, melainkan jenjang pendidikan harus dijalankan sampai kepada
dipanggilnya untuk menghadap sang khalik.
Ketika
kolaborasi tersebut dapat dilakukan maka ilmu pendidikan dan kemampuan berpikir
tidak hanya terpenjara. Budaya nyantri akan memangkas tugas lembaga pendidikan
untuk membina tingkah laku dan sikap yang benar dari manusia. Lembaga
pendidikan ke depan hanya perlu memberikan pengetahuan yang tidak memetakan
pengetahuan, melainkan memberikan yang seharunya diberikan. Ke depan perlu
meningkatkan akselerasi dari anak didiknya untuk dapat berekspresi dengan tidak
hanya terkotakkan pada lembaga tersebut.
Penulis:
Dwi Nugroho (Pegiat Ekonomi Islam Metro Lampung)