PELAJARAN DI BALIK PERTANYAAN

IMG-20250603-WA0150

Oleh

Mukhtar Hadi

 

Bagi yang menggeluti bahasa pasti mengetahui adanya empat keterampilan utama dalam berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Menyimak dan berbicara disebut dengan keterampilan reseptif yakni menerima dan mengolah informasi. Sementara membaca dan menulis bersifat produktif karena  berisi keterampilan memproduksi dan menyebarluaskan informasi. Disamping keterampilan utama berbahasa tersebut ada keterampilan turunan dalam berbahasa, salah satunya adanya keterampilan bertanya.

Umum dipahami, ketika seseorang bertanya atau mengajukan pertanyaan, maka dinilai orang itu tidak tahu, yang paling ekstrim bahkan dinilai sebagai gambaran kebodohan. Padahal, pertanyaan dapat digunakan sebagai alat untuk menilai pemahaman, kemampuan berfikir dan pengetahuan seseorang. Di sisi lain banyak pengetahuan atau pengembangan ilmu pengetahuan dimulai dari pertanyaan-pertanyaan.  Dalam penelitian ilmiah, pengetahuan-pengetahuan baru dimulai dari pertanyaan masalah. Berangkat dari pertanyaan tersebut, maka pengumpulan dan analisa data dilakukan lalu ditemukan jawaban yang merupakan pengetahuan baru. Pertanyaan dilakukan manusia juga untuk memenuhi hasrat rasa ingin tahu (curiousity). Para Filosof berfikir dari pertanyaan-pertanyaan dasar tentang hakikat segala sesuatu. Jawaban-jawaban para filosof itu yang kemudian menjadi pemikiran filosofis.

Dalam khazanah pengajaran Islam, pengetahuan-pengetahuan baru tentang agama Islam banyak yang dimulai dari pertanyaan para sahabat, atau Malaikat. Bahkan Allah SWT dalam berbagai firman-Nya menyampaikan ayat dengan kalimat pertanyaan. Misalnya, ketika Allah menjelaskan tentang hari kimat dalam surat Al-Qari’ah. Allah dalam ayat 2 bertanya Mal Qari’ah (Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?). tentu yang tahu jawabannya hanya Allah SWT sendiri, tetapi dengan kalimat tanya itu manusia diajak berfikir untuk membayangkan soal hari kiamat. Di banyak ayat lain, kalimat-kalimat pertanyaan diajukan kepada manusia agar manusia banyak berfikir atau lebih perhatian terhadap persoalan yang dibahas.

Pengetahuan tentang apa itu Iman, Islam, Ihsan dan Hari Kiamat dimulai dari pertanyaan Malaikat Jibril yang datang kepada Nabi dengan menyerupai manusia dalam sebuah pertemuan yang dihadiri banyak sahabat. Gambaran itu bisa kita pahami dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, sebagaimana berikut:

“Dari Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata; pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih, dan rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya, kemudian ia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendekatkan lututnya lalu meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, seraya berkata: ‘Wahai Muhammad jelaskan kepadaku tentang Islam?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah Al Haram jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana.” Laki-laki tersebut berkata: ‘Engkau benar.’ Maka kami pun terheran-heran padanya, dia yang bertanya dan dia sendiri yang membenarkan jawabannya. Dia berkata lagi: “Jelaskan kepadaku tentang iman?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Iman itu adalah) Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk.” Ia berkata: ‘Engkau benar.’ Kemudian laki-laki tersebut bertanya lagi: ‘Jelaskan kepadaku tentang ihsan?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Ihsan adalah) Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya, sungguh Dia melihatmu.” Dia berkata: “Beritahu kepadaku kapan terjadinya kiamat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya.” Ia berkata: “Jelaskan kepadaku tanda-tandanya!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya dan jika engkau mendapati penggembala kambing yang tidak beralas kaki dan tidak pakaian saling berlomba dalam meninggikan bangunan.” Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Kemudian laki-laki itu pergi, aku pun terdiam sejenak.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku: “Wahai ‘Umar, tahukah engkau siapa orang tadi?” Aku pun menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama ini kepada kalian.” (HR. Muslim).

Diawali dari pertanyaan malaikat Jibril itulah kemudian kita mendapatkan penjelasan tentang Iman, Islam, Ihsan dan soal hari kiamat dari Rasulullah SAW. Dalam persoalan lain misalnya, mengenai amalan yang terbaik dan tentang pentingnya memiliki sikap konsisten dalam kebaikan. Pelajaran itu didapatkan  dari pertanyaan seorang sahabat bernama Sufyan bin Abdillah kepada Rasulullah. Sufyan bertanya kepada Rasulullah mengenai amalan yang merupakan inti dari ajaran Islam, lalu Nabi menjelaskan amalan itu adalah beriman kepada Allah dan Istiqomah dalam keimanan itu.

Abu Ayyub Al-Anshari meriwayatkan, ada seorang Badui yang menghadang Rasulullah di tengah jalan seraya memegang unta tunggangan Beliau. Orang itu bertanya kepada Nabi tentang amalan apa yang dapat membawanya ke surga. Atas pertanyaan itu, maka Nabi SAW menjawab: “Hendaklah engkau menyembah Allah dan tidak mempersekutukannya dengan apapun, dan mendirikan shalat, dan menunaikan zakat dan menjalin silaturahmi.”(HR.Bukhari). Dengan pertanyaan dari Abu Ayyub Al-Anshari itu maka umat Islam semuanya mendapatkan pelajaran dan pedoman tentang amalan-amalan utama yang harus dilakukan.

Banyak hal dan berbagai persoalan lainnya tentang Islam yang dijelaskan kepada kita dimulai dari pertanyaan-pertanyaan. Dibalik pertanyaan itu kita mendapatkan pengetahuan, wawasan, pelajaran dan kearifan. Sebab itu jangan meremehkan pertanyaan atau kemampuan bertanya. Bagi para pendidik, pertanyaan anak didik adalah pintu pengetahuan baru bagi si penanya, bagi yang ikut mendengarkan jawaban, dan  tentu juga bagi guru yang memberikan jawaban. Bertanya dan pertanyaan adalah awal mula pengetahuan dan sekaligus sebagai metode pengajaran. Tulisan ini juga mulai dari pertanyaan dalam hati, “Mengapa bertanya itu penting?”. (mh.03.05.25).

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.