metrouniv.ac.id – Rabu, 31/05/2022 – 30 Syawal 1443 H
Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro)
“Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana” (Falsafah Jawa)
Suatu masa di langit sana. Warna-warna dunia berdebat tentang siapa yang paling penting dan paling kontributif terhadap kehidupan di dunia. Warna merah mengklaim diri terbaik karena mewarnai darah yang menjadi lambang kehidupan dan keberanian. Warna kuning merasa terbaik karena mewarnai cahaya matahari yang tanpanya gulitalah semesta. Warna hijau menyangkal asumsi kedua kompatriotnya, lalu mengaku terbaik karena mewarnai rerumputan dan pepohonan, yang tanpanya ternak punah dan manusia lemah. Pun demikian warna biru, menyebut diri mayoritas karena mewarnai langit dan samudera, yang karenanya status terkontributif layak disematkan di pundaknya.
Langit riuh dan gaduh. Keriuhan tampak selalu menjadi buah dari ego sektoral sebagaimana kegaduhan kerap menjadi muara dari klaim ana khoirun minhu (aku lebih baik dari dia). Setiap warna telah terhijab karena keyakinan-sepihak sebagai terbaik, terpenting, dan terkontributif bagi kehidupan di bumi sana.
Lagit, lalu, goyang dan goncang. Hujan luruh menderu. Halililintar bergemuruh. Dari balik awan hitam, terdengar sebuah suara: “Wahai warna, setiap kalian adalah unik dan berbeda. Keunikan adalah faktor di balik segala yang indah. Perbedaan adalah alasan di balik semua kerjasama. Cobalah berpegang tangan dan berjalan bersama.” Syahdan, warna-warna lalu bergandeng tangan dan membusurkan diri sepanjang langit. Manusia di dunia mengenal itu sebagai pelangi.
Filosofi pelangi adalah sebuah warisan kultural (legacy) di IAIN Metro. Para pendahulu, sesepuh, senior, dan pimpinan kerap menekankan dan mecontohkannya dalam unjuk nyata. Tinggal, semangat pelangi dirawat dan diproyeksikan untuk kegiatan (atau program) penyumbang kredit akreditasi.
Catatan dari kantor Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Metro, menyaran lima kegiatan yang patut berfondasikan spirit pelangi. Pertama, ada FGD Forum Rektor dan sholawat kebangsaan yang merupakan kerjasama berskala nasional sekaligus sosialisasi kampus. Kedua, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui skema akselerasi Guru Besar dan Lektor Kepala. Dosen-dosen muda perlu menyusun perencanaan matang-terbimbing. Jika tidak direncanakan sedini dan sedetail mungkin, maka boleh jadi para dosen sebenarnya sedang merencanakan sebuah kegagalan. Ketiga, ada kebutuhan untuk lebih mensolidkan kurikulum MBKM, melalui kemitraan dengan dunia pendidikan dan dengan dunia kerja/industri. Keempat, ada kebutuhan mendesak terkait ketersediaan laboratorium yang lebih representatif. Kelima, diperlukan upaya lebih intens untuk membangun atmosfir dan mendongkrak publikasi dosen serta mahasiswa. Sitasi hanyalah konsekuensi logis dari serial publikasi yang bagus.
Lima poin di atas dalah ibarat arus yang bermuara pada status akreditasi yang memerlukan bukti kerjasama tingkat nasional dan internasional, sarana-prasarana yang memadai; SDM yang berkualifikasi, kurikulum yang solid dan operasional, serta publikasi dan sitasi tinggi.
Akreditasi adalah pencapaian yang patut disuluh dengan sebuah falsafah Jawa: Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana. Adalah tutur kata yang mencerminkan kepribadian. Adalah penampilan yang mencerminkan citra diri. Dan jika boleh ditambahkan, ajining perguruan tinggi saka akreditasi. Adalah akreditasi yang mencerminkan kualitas perguruan tinggi. Akreditasi adalah prioritas. Akreditasi adalah marwah. Akreditasi adalah mahkota dan pamor sebuah pergurun tinggi.
Tentu, akreditasi lebih mudah dibincangkan daripada dikerjakan. Tetapi, kerja akreditasi bisa lebih ringan jika semua pihak terkait sudi berlapang dada untuk berdiri di atas dan bagi semua golongan (baca ego sektoral). Dan akreditasi yang lebih baik, bukanlah sebuah mimpi utopis, jika dikejar dengan semangat pelangi. Yang indah meski berbeda warna. Yang bisa jalan bersama meski tidak sama warna. (Apel Senin pagi di pengujung bulan kelima tahun dua ribu dua puluh dua.)
Hadaaniyallah wa iyyaakum, wal ‘afwa minkum.