Pemanfaatan Media Sosial Untuk Rahmatan Lil ‘Alamin

73IMG20190418114325

Media sosial berkembang begitu cepat seiring dengan arus globalisasi yang
terjadi. Semua informasi begitu cepat tersebar dan begitu mudah untuk diakses
sampai ke plosok desa, hanya dengan hitungan menit bahkan detik. Bahkan,
kebanyakan masyarakat menganggap bahwa media sosial merupakan kebutuhan yang
harus dipenuhi, sama halnya seperti sandang, pangan, papan.


Tidak bisa dipungkiri, media sosial memang sudah terlanjur melekat dengan
kehidupan masyarakat, bagaikan air yang meluap dan sulit untuk terbendung. Semua
kalangan, dari mulai anak-anak, remaja, pemuda hingga dewasa, sudah mengenal
baik seperti apa itu media sosial. Umumnya, satu orang memiliki lebih dari satu
jenis media sosial, Bisa dua, tiga bahkan empat atau lebih dari itu.


Kehadiran media sosial bisa menjadi sebuah peluang besar untuk mereka
yang bisa memanfaatkan dengan baik. Minimal, hubungan komunikasi bisa lebih
cepat terjalin hanya dengan waktu yang cukup singkat. Berbeda halnya sebelum
media sosial hadir di tengah-tengah masyarakat. Dimana komunikasi satu sama
lain menggunakan surat yang memerlukan waktu berhari-hari bahkan
berbulan-bulan. atau menggunakan jasa Wartel (Warung telekomunikasi) untuk
menghubungi seseorang yang berada di tempat jauh. Namun, dengan adanya media
sosial, semua jauh lebih mudah dan bisa dikatakan lebih hemat. Terutama hemat
dari segi waktu.


Media sosial juga bisa menjadi ladang penghasilan, bagi para pebisnis
online. Hanya dengan bermodalkan upload
produk komoditas ke media sosial, bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah, dari
nominal kecil hingga puluhan bahkan ratusan juta. Atau, bagi yang aktif di
media sosial, dan memiliki banyak teman di media sosial, menawarkan jasa endorse juga peluang yang begitu
menggiurkan. Tentu semua itu berkat adanya media sosial yang banyak kita pergunakan
saat ini.


Selain ladang bisnis, masifnya media sosial juga bisa bermanfaat untuk
mencari pengetahuan-pengetahuan baru. Baik agama, ekonomi, perkembangan
politik, sampai kehidupan sosial bisa dengan mudah diakses informasinya melalui
media sosial. Yang jelas, memudahkan manusia dalam mencari wawasan baru.


Namun, layaknya ada siang ada malam, ada gelap dan ada terang, semua yang
ada pada setiap sisi kehidupan tentu ada keseimbangan. Semua makhluk tidak ada
yang sempurna, tentu ada kelebihan dan kekurangan. Semua tergantung dari mana
kita meletakan sudut pandang. Dan alangkah lebih baik, kita meletakan sudut
pandang pada ke-dua sisi, untuk mencari keseimbangan.


Media sosial, sebagai sesuatu hal yang tidak sempurna, tentu memiliki
kelebihan dan kekurangan seperti hal nya sisi-sisi kehidupan lain. berbagai
kelebihan media sosial sedikit sudah tergambar sebagaimana yang sudah penulis
jelaskan di atas. Namun, kita tidak bisa meninggalkan bagaimana sisi negatif
dari adanya media sosial. Namun, dari hadirnya sisi negative ini, tidak menjadi
alasan kita mempermasalahkan atau menyalah-nyalahkan kehadiran media sosial.


Seperti yang sudah banyak penulis ketahui, dengan adanya media sosial,
dimana semua informasi begitu mudah masuk dalam Smartphone yang kita miliki, tentu memaksa kita sebagai konsumen
media sosial supaya lebih selektif dalam menelan informasi-informasi yang kita
ketahui. Dari mulai banyaknya informasi-informasi palsu atau hoax, pesan-pesan
yang bersifat profokatif, adu domba hingga berbagai ujaran kebencian yang
membuat kita terkadang memebenci pihak-pihak tertentu tanpa tau lebih dalam
permasalahanya.


Sikap-sikap tidak profesional juga sering penulis jumpai dalam media
sosial. Terkadang, kecanggihan teknologi membuat manusia ini seperti lempar
batu sembunyi tangan. Berani berkoar namun hanya dalam layar. Penulis sempat
sedikit mendengar pernyataan Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun,
yang penulis pahami dari pernyataanya adalah, bahwa kecanggihan teknologi yang
termasuk di dalamnya adalah media sosial, membuat seseorang sedikit kehilangan
keberanianya untuk bertemu secara face to
face
dalam berkonflik.


Bisa disaksikan bagaimana media sosial berperan menyebarkan berbagai
macam ujaran kebencian, berbagai fitnah dan statement-statement
negatif, dalam waktu dekat ini, dalam menjelang mapupun sesudah pilpres 2019.
Media sosial menyumbang berbagai gambaran carut-marutnya politik, saling fitnah
antar sesama kubu, aksi saling protes, yang tentunya akan berpengaruh bagi
masyarakat awam, secara psikis menjadi ikut-iktutan membenci salah satu pihak
tanpa mengerti duduk perkara secara jelas.


Untuk itu, lebih baiklah jika kita mengangkat lebih banyak sisi-sisi
positif dari adanya media sosial ini. Bangunlah kedewasaan dan kesiapan
intelektual dalam mempergunakan media sosial. Bergeraklah pada tataran positif
dalam bergelut dengan media sosial. Sampai pada titik dimana media sosial
menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin.


Terkadang kita perlu sama sekali tidak mempercayai media sosial pada
titik-titik tertentu. Dimana pada titik-titik yang sekiranya membuat kita tidak
lagi berfikir damai. Namun, akrablah dengan media sosial pada titik-titik yang
mendatangkan nilai-nilai bermnfaat bagi kehidupan kita. Kurangi tingkat
keterpengaruhan kita dari semua informasi yang muncul pada media sosial. Memahami
suatu duduk permasalahan jauh lebih penting dibandingkan permasalahan itu
sendiri. Jika kita tidak sanggup mencari sebuah duduk permasalahan, paling
tidak kita harus menjadi seseorang pengguna media sosial yang cerdas, dengan
tidak terpengaruh dengan pihak-pihak yang memunculkan permaslaahan untuk
memanfaatkan kekuatan masa, demi kepentingan-kepentingan terselubung, yang kita
sendiri tidak bisa memastikan bagaimana akhirnya.


Jadilah pengguna media sosial yang damai, untuk menciptakan media sosial
yang Rahmatan Lil ‘Alamin.

Penulis : WEPO


 


"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.