Pemfosilan Pemikiran Hingga Gagalnya Pembentukan Indonesia Yang Sosialistik

16IMG20190418113803

Kemerdekaan bukan tujuan dari  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  Namun, kemerdekaan yang lama diperjuangkan adalah sebagai jembatan emas untuk menuju tujuan NKRI. Hal ini
yang kemudian harus dipahami. Janganlah menjadi nasionalis yang hanya
menghantarkan Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Namun jadilah
nasionalis yang revolusioner dengan menjadikan kemerdekaan sebagai jembatan
emas, untuk menuju Indonesia yang adil dan makmur.  


Konsep yang matang serta dengan disesuaikan pada situasi dan kondisi
Indonesia perlu di rumuskan agar kemudian setiap tindakan pembangunan yang
terjadi tidak bertentangan dengan keadaan masyarakat Indonesia. Maka dari itu,
perlu pengamatan dengan teliti apa yang harus dilakukan untuk menuju Indonesia
yang adil dan makmur.


Ir-Soekarno sebagai pimpinan besar revolusi serta sebagai penyambung
lidah rakyat Indonesia, ia menginginkan kondisi yang adil dan makmur.
Menurutnya hal itu dapat dicapai dengan  berdikari secara ekonomi. Berdikari secara
ekonomi dapat dilakukan dengan tetap menguasai alat-alat produksi sendiri serta
tidak bergantung kepada korporasi kapitalis. Meskipun dengan kemampuan yang apa
adanya, itu lebih baik asalakan untuk kemakmuran masyarakat Indonesia sendiri
dan tidak memberikan kesempatan bagi masyarakat dari luar Indonesia menjadi
imperialisme dan kapitalis ekonomi di Indonesia.


Sebagai manusia yang dilahirkan di tanah Indonesia, tentu menjadi
nasionalis dan menjadi agamis adalah hal akribsi baginya. Namun, menjadi Maxis
adalah sebagai pilihan dalam melaksanakan langkah politiknya dengan tidak
meninggalkan nasionalis dan agamisnya. Biar begitu, Soekarno bukan hanya sekadar
nasionalis dan agamis, namun Soekarno adalah seorang agamis dan nasionalis yang
revolusioner. Soekarno begitu setia dengan ideology dan gerakan revolusinya,
yaitu untuk terus menjadikan Indonesia sebagai negara dengan masyarakatnya yang
sosialistik tanpa ada imperialisme dan kapitalisme.


Sebagai seorang Marxis, tentu soekarno tidak absen dalam mengutip ajaran
Marxis dalam setiap tindakannya. Dengan terus berupaya menginfiltrasikan
Marxisme pada setiap langkah politiknya, namun dengan disesuaikan pada situasi
dan kondisi yang ada di Indonesia. Konsep marhaenisme misalnya. Marhanisme
adalah bentuk penyederhanaan yang dilakukan oleh Soekarno dari konsep Marxisme,
agar dapat diterima oleh masyarakat kecil.


Marxisme punya proletar, disini dengan konsep yang sama, yakni dengan
melakukan pembagian golongan masyarakat kedalam kelas-kelas, akhirnya Soekarno
menemukan Marhaenisme. Hanya saja, jika proletarnya Marxisme adalah dia korban
kapitalis, kolonialisme atau imperialisme dimana dia adalah kelompok lemah yang
distatuskan sebagai buruh oleh pihak yang lebih kuat (kapitalis) pada masa itu.
Proletar tidak memiliki harta yang berlimpah dan juga tidak memiliki sama
sekali alat-alat produksi, sehingga dia menjadi buruh di perusahaan-perusahaan
kapitalis, dan menggantungkan hidupnya kepada kapitalis.


Marhaenisme, sama halnya dengan proletarnya Marxisme, yakni mereka yang
lemah, tidak memiliki harta yang berlimpah, dari kalangan masyarakat kelas
bawah, namun yang menjadi pembeda dengan proletar adalah, bahwa marhaenisme ini
mereka yang mempunyai alat-alat produksi miliknya sendiri. Meskipun kecil,
namun tetap bisa berdikari dan tidak menggantungkan hidupnya kepada kapitalis.


Konsep Marhenisme yang lahir dari Soekarno adalah kekuatan utama dalam
rangka mendorong revolusi Indonesia. Penulis melihat, Marhenisme adalah konsep
kemandirian yang sama sekali tidak bergantung kepada kapitalis. Marhaen mampu
membersihkan diri dari status buruh pada kapitalis yang layak dilakukan oleh
proletar pada Marxisme. Maka dari itu, memang cukup logis apabila marhaenisme
adalah kekuatan untuk mendorong revolusi Indonesia. Indonesia yang berdikari
dalam perekonomiannya, membiarkan pabrik, alat produksi, kekayaan alam dan
sumber daya lainnya yang ada di Indonesia, dimiliki dan dikelola secara
kolektif dari, oleh dan untuk masyarakat, meskipun dengan apa adanya dengan
terus berupaya membangun intergitas Sumber Daya Manusianya.


Melalui Marhaenisme, pembentukan Masyarakat yang sosialistik adalah
keinginan pergerakan politik Ir. Soekarno. Dimana, Indonesia harus mencapai
keadaan adil dan makmur. Adil dan makmur adalah tidak adanya kelas-kelas
masyarakat. Kepemilikan pabrik yang kolektif, adanya distribusi yang kolektif,
adanya produksi yang kolektif, serta adanya industrialisasi yang kolektif,
Semua itu adalah syarat sosialisme untuk terciptanya kesejahteraan sosial dan
kemakmuran bersama menurut Soekarno. Dengan sosialisme, maka rakyat yang
mayoritas berkuasa dan bekerja dengan semangat gotong royong, Menolak yang
namanya imperialisme dan kapitalisme


Namun, semenjak masuknya orde baru semua pemikiran dan cita-cita
sosialisme sebagai pergerakan politik Soekarno telah hilang. Bukan hanya itu,
semua gagasan penting Soekarno tentang sosialisme yang cenderung berdekatan
dengan Marxisme seolah diredam dan tidak pernah terdengan suaranya. Sejak saat
itulah Soekarno dikenal sebagai Bapak Revolusi Indonesia, namun tidak pernah
dipahami Revolusi seperti apa yang diinginkan Soekarno. Justru, Indonesia
setelah tahun 1965-saat ini 2019, Indonesia semakin jauh dari sosialisme dan
tumbuh bersama kapitalisme. Rakyat sama sekali tidak berkuasa secara mayoritas,
sebaliknya semua banyak dikuasai oleh manusia-manusia kapitalis dari luar
Indonesia. Rakyat Indonesia berhenti pada status buruh di rumah sendiri


Soekarno begitu mendambakan sistem sosialisme untuk Indonesia. Karena
menurutnya, dengan bsosialisme maka Indonesia dapat berdikari dalam bidang
ekonomi, berdaulat dalam bidang politik serta berkepribadian dalam bidang
budaya. Sosialisme paling tidak mengajarkan agar Indonesia tetap menjaga
kemandiriannya, tidak bergantung banyak kepada kapitalis. Penulis rasa Marhaen
adalah percontohan dari kemandirian yang diinginkan oleh Soekarno untuk
Indonesia.


Dengan kemandirian yang tercipta, maka Indonesia dapat benar-benar
berdikari dalam bidang ekonomi sampai pada akhirnya semua sumber daya yang ada
di Indonesia benar-benar dikuasai oleh orang Indonesia sendiri dengan tidak
menerapkan sistem kapitalisme.


Semua cita-cita Soekarno itu kemudian harus sulit berkembang di
Indonesia. Belum lagi, pemfosilan terhadap pemikirannya semakin banyak orang
tidak mengenal bagaimana pemikirannya. Penggagalan tentang pembentukan Indoensia
yang sosialisme juga menjadi hal yang membuat kapitalisme berkembang mudah di
Indonesia.

Penulis : WEPO


 


 


 


 


"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.