socio
echo
techno
preneurship

MeTROUNIV Article

PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL DI PERGURUAN TINGGI

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

metrouniv.ac.id – 03/08/2022 – 03 Muharam 1444 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Pada hari Rabu, 3 Agustus 2022, Prof.Dr. Alimatul Qibtiyah salah seorang dari anggota Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (KOMNAS Perempuan), hadir di IAIN Metro dalam rangka melakukan Monitoring dan Evaluasi implementasi Peraturan Rektor IAIN Metro tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Seksual di IAIN Metro. Sebagaimana diketahui bahwa Rektor IAIN Metro  telah mengeluarkan Keputusan Rektor Nomor 208 tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Seksual. Komnas Perempuan memberikan apresisi kepada IAIN Metro karena merupakan salah satu PTKIN dari 26 PTKIN yang sudah memiliki komitmen terhadap persoalan kekerasan seksual di perguruan tinggi agama. Bahkan secara umum PTKIN sudah jauh lebih maju dalam soal ini dibandingkan dengan Perguruan Tinggu Umum.

Isu dan wacana kekerasan seksual sesungguhnya persoalan yang sudah cukup lama seiring dengan munculnya tuntutan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah gerakan feminisme. Dalam catatan sejarah, Gerakan Feminisme sudah muncul sejak tahun 1792 yang dimotori oleh tokoh perempuan feminis dari Inggris bernama Mary Wallsstonecraft. Mary menulis sebuah buku yang berjudul The Vindication of the Right of Woman. (Febi Nurul Safitri, Kompas.com, April 2022). Dalam buku ini, Mary menyuarakan hak-hak pendidikan bagi perempuan yang saat itu tidak memperoleh pendidikan seperti halnya laki-laki.

Apa yang dilakukan Mary di atas kemudain diikuti munculnya gerakan feminisme yang dilakukan oleh Harriet dan John Stuart Mill yang menyuarakan kesempatan bekerja bagi perempuan dan hak dalam hubungan pernikahan. Termasuk dalam menuntut hak politik perempuan. Gerakan ini kemudian memicu gerakan yang sama dari perempuan di berbagai negara seperti di Amerika, Jepang dan Jerman. Termasuk  kemudian hari sekitar tahun 1960-an juga menjalar di Indonesia. Namun di Indonesia persoalan kesetaraan ini baru menjadi isu pembangunan pada tahun 1970 hingga sekarang ini.

Meskipun gerakan ini sudah muncul lebih dua abad yang lalu persoalan kekerasan perempuan sampai sekarang masih menjadi isu dan persoalan yang belum tuntas. Atau memang tidak pernah akan tuntas. Belum atau tidak pernah tuntasnya persoalan ini dikarenakan  kekerasan seksual adalah persoalan budaya Patriarkhi yang sudah sangat berurat berakar sejak adanya manusia, dan jangan lupa sampai sekarang masih dilestarikan secara turun temurun. Budaya Patriarkhi adalah budaya yang menempatkan laki-laki lebih tinggi dan penting dibandingkan perempuan dalam relasi sosial.  Sehingga yang terjadi adalah subordinasi laki-laki terhadap perempuan. Mengurai persoalan budaya patriarkhi ini memang tidak mudah. Di satu sisi banyak laki-laki “sudah” merasa nyaman dengan budaya ini dan banyak juga perempuan yang merasa hal ini merupakan bagian dari kodratnya.

Banyak yang memahami persoalan kekerasan seksual terhadap perempuan itu hanya berkaitan dengan kekerasan fisik, seperti perkosaan atau menyakiti secara fisik jasmani. Padahal persoalan kekerasan terhadap perempuan itu bukan hanya bersifat fisik tetapi juga bersifat non fisik. Kekerasan non fisik itu diantara dilakukan secara verbal seperti kata-kata yang merendahkan, menggoda dan menyiuli, mengganggap rendah dan kurang mampu. Kasus kekerasan seksual bentuk dan ragamnya sangat banyak, termasuk membiarkan terjadinya kekerasan seksual. Catcalling (keramahan palsu) untuk menggoda secara seksual. Bahkan dalam Pasal 5 UU Nomor 12 tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), sampai harus dijelaskan tentang perbedaan antara  kekerasan seksual, ekspresi kedekatan dan juga ekspresi pujian.

Kekerasan seksual sebagaimana di atas bisa terjadi dimana saja, termasuk di lingkungan perguruan tinggi yang katanya diisi oleh orang-orang yang terdidik. Kasusnya sudah cukup banyak, baik yang muncul ke permukaan karena keberanian korban untuk melaporkannya atau yang tidak muncul kepermukaan. Bagian yang tidak muncul ini jangan-jangan sudah seperti gunung es, seperti kentut senyap, ada baunya tetapi tidak ada suaranya.

Kekerasan seksual terjadi biasanya karena adanya ketimpangan kuasa. Mereka yang memiliki kekuasaan atau posisi lebih tinggi dalam relasi sosial memiliki kecenderungan melakukan kekerasan seksual baik secara fisik maupun non fisik. Di kampus hal ini bisa terjadi antara mahasiswa senior dengan yunior, antara dosen dengan mahasiswa, antara pimpinan dengan bawahan. Sangat jarang terjadi kekerasan seksual terjadi antara yang sebaliknya. Fakta-fakta yang terjadi di berbagai kampus potretnya seperti itu.

Kehadiran sebuah regulasi pencegahan dan penanggulangan kekerasan seksual di PT tentu harus disambut baik dan disokong oleh semua pihak: dosen, pegawai dan mahasiswa. Namun yang lebih penting lagi adalah implementasinya. Jangan hanya berhenti di regulasi namun miskin kesungguhan dalam merealisasikannya. PTKIN yang civitas akademikanya setiap hari bergulat dengan persoalan ajaran agama dan ajarannya yang luhur tentang hubungan laki-laki dan perempuan sudah seharusnya lebih sensitif gender. Bentuk sensitifitas gender itu diharapkan muncul dalam hubungan dan relasi di kampus yang saling menghormati dan memahami serta memanusiakan. (mh.03.08.22).

Artikel Terkait

Simbol

metrouniv.ac.id – Ahad 15/08/2022 _ 17 Safar 1444 H Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro) “Signs

Wisata Kampung Kreatif?

metrouniv.ac.id – 14/08/2022 – 16 Safar 1444 Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi Syariah IAIN Metro)  Konon pariwisata dari bahasa Sanskerta

HIJRAH DAN SPIRIT PERUBAHAN

metrouniv.ac.id – 30/07/2022 – 01 Muharam 1444 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Pada tahun 622 Masehi,

MENGAPA MENULIS ITU PENTING?

metrouniv.ac.id – Rabu 24/07/2022 _ 24 Dzulhijjah 1443 H Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro)  “Al

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.