Pendidikan Lokal dan Digitalisasi

13IMG-20190917-WA0010
Metrouniv.ac.id-Tadi malam ngobrol sampai jam 01.30 malam dengan Om Robert Edy Sudarwan CEO GreatEdu dan Wartawan Gatra Ahmad Jilul Qur'ani Farid. Perkembangan dunia digital menarik perhatian, GreatEdu mengembangkan aplikasi pendidikan yang mendekatkan Guru dengan murid.  Dunia digital memang sangat membantu promosi gerakan ekonomi.  Kita bisa mengabarkan ke banyak orang apa yang sedang kita kerjakan melalui media digital.  
Problem besar kemudian bukan pada tampungan big data.  Dengan aplikasi kita bisa menyelamatkan itu. Pertanyaan yang muncul,  bagaimana menjamin berlangsungnya system budaya masyarakat yang semakin tergerus?  Orang-orang lokal dihantam oleh keseragaman pendidikan kaum urban.  Pendidikan versi negara menjadikan cara berpikir seragam. Skill orang lokal menjadi tidak relevan oleh arus modernisme.  Maka orang lokal seperti saya dan orang lainnya mimpi akan terus kerja di Kota dan menjadi kaum urban baru.  
Jilul punya keresahan yang sama.  Wartawan yang fokus lingkungan hidup dan gerakan anak muda bertani makin redup.  Isu politik tentu lebih menarik,  soal konflik, cari sensasi dan perdebatan ringan menjadi seolah urgen.  Konsep hidup suku lokal,  mata rantai nilai terputus,  dan kebudayaan menjadi terseragam dengan konsepsi pendidikan modern.  Obrolan kami mengalir sebenarnya, tak ada yang dibatasi tak ada yang kemudian saling bertabrakan karena narasi orang kampung seperti saya dengan kawan yang membelah batavia ini dengan kenekadtan. 
Dua kawan ini mengatakan, kewarasan daerah penting untuk didengar ibukota. Saya menjawab,"kami di daerah ini sebenarnya juga sudah lama mabuk batavia,  metropolitan dan hal ihwal kaum urban." Payungi sebenarnya resah dengan gejala keseragaman.  Sebuah system masyarakat yang seragam itu akan membuat pikiran-pikiran mentok. Coba kita bayangkan bagaimana menariknya bangsa kita memiliki keanekaragaman kuliner,  pakaian adat, arsitektur, tarian, lagu, dan lainnya.  Kita tahu kebudayaan ini mendapat dua ancaman sekaligus di sekolah.  Pertama,  kurikulum yang teoritis dan tidak mengakomodir lokalitas. Kedua, pengajaran teologi di sekolah-sekolah  yang menghardik budaya bangsa,  karena arus kebudayaan agama lain.  
Wacana kami sepakat untuk mengembalikan itu.  Apakah @GreatEdu bisa memfasilitasi konsep pendidikan orang lokal ini.  Jika selama ini Guru mengajar teori ke anak-anak supaya nilai mata pelajaran bagus, maka harus ada kesadaran baru yang lebih mengakomodir pengetahuan lokal.  Jika anak-anak bisa dipaksa menghafal rumus-rumus karena beban soal ujian sekolah. Dan sains diajarkan dengan tanpa menyentuh aspek sosial.  
Contoh,  orang mau belajar menenun, membatik, membuat makanan khas daerah tertentu, menari, maka GreatEdu dapat memfasilitasi mereka yang mau menyelamatkan pengetahuan lokal ini.  Pendidikan lokal di digitalisasi, diajarkan sebagaimana rumus-rumus mata pelajaran yang selama ini diwajibkan di sekolah-sekolah.  Apakah itu mungkin?  Di Batavia apa yang tidak mungkin.  
Dharma Setyawan
Kaprodi S-1 Ekonomi Syariah IAIN Metro.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.