metrouniv.ac.id – 17/06/2023 – 28 Dzulqa’dah 444 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Semua orang pasti pernah sakit, ringan atau berat. Saya, anda, mereka, pernah merasakannya. Umumnya orang menganggap bahwa sakit itu urusannya dengan fisik jasmani. Bicara penyakit yang membuat orang sakit pasti konotasinya: penyakit yang ada pada tubuh fisik. Berobatnya kemana? Ke dokter umum atau spesialis. Jika semakin gawat, harus di bawa ke rumah sakit.
Zaman sekarang dokter-dokter ahli spesialis itu keahliannya semakin spesifik. Hampir semua bagian tubuh manusia, jika sakit, sudah ada dokter spesialisnya. Kalau anda punya keluhan soal saluran kencing dan sekitarnya, maka berobatnya ke spesialis urologi. Keluhan soal telinga, hidung dan tenggorokan, sampaikan saja sama dokter spesialis THT. Keluhan pernapasan, ke spesialis paru-paru. Keluhan kandungan dan reproduksi wanita, anda pasti tahu tempatnya, spesialis Obstetri dan Ginekologi atau dikenal juga dengan istilah Obgyn. Serta spesialis-spesialis lainnya.
Kalau sudah berhubungan dengan penyakit fisik jasmani, manusia begitu sangat serius dan peduli. Berbagai riset dilakukan untuk mengatasi dan menemukan obat yang mujarab bagi penyakit-penyakit yang menyerang manusia. Dokter-dokter didik untuk mengobatinya. Rumah sakit didirikan sebagai tempat perawatan. Mungkin karena hubungannya dengan nyawa manusia, semua itu harus dilakukan. Sangat wajar dan tidak ada yang salah.
Namun demikian, ada yang agak terlupakan atau seringkali terabaikan. Yaitu, bahwa manusia itu secara asasi terdiri dari jasmani dan rohani, raga dan jiwa, fisik dan qalbu. Sebagai dualisme sumber kehidupan yang menjadi satu kesatuan, perlakuan terhadap keduanya seharusnya adil dan berimbang. Perhatian terhadap kebutuhan jasmani sudah semestinya dilakukan hal yang sama kepada rohani. Usaha mengatasi penyakit jasmani dengan segala daya upaya, harus dilakukan hal yang sama terhadap segala penyakit rohani.
Memang rohani bisa sakit? Tentu saja bisa. Seperti halnya jasmani, rohani juga bisa menderita sakit. Sombong, iri, dengki, ria (pamer), kurang bersyukur, pendendam, pemarah, memperturutkan hawa nafsu, suka berbuat dosa dan maksiat, khianat, tidak jujur, tidak amanah, individualis, pezina, pencuri, pembunuh, dan lain sebagainya, adalah contoh-contoh dari penyakit rohani. Jumlah penyakitnya tidak kalah dengan penyakit jasmani. Kegawatan penyakitnya juga sama, ada yang ringan, sedang, dan berat.
Dalam pandangan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, pola pengobatan seorang yang terkena penyakit rohani atau penyakit hati tidak jauh berbeda dengan pengobatan yang dilakukan oleh seorang dokter. Tiga hal yang biasanya disarankan oleh seorang dokter kepada para pasiennya ketika berobat.
Menurut Ibnul Qayyim, jika seseorang berobat ke seorang dokter, hal pertama yang disarankan adalah Hifdzul Quwwah (menjaga kekuatan), yaitu saran untuk senantiasa menjaga imunitas tubuh. Pasti dokter menyarankan anda untuk istirahat yang teratur, melakukan olah raga rutin, minum multivitamin, tenangkan pikiran, jangan banyak begadang, dan sebagainya. Tujuan saran itu adalah agar anda memiliki tubuh yang sehat dan kuat sehingga dengan sendirinya sistem imunitas tubuh kita bisa menangkal segala penyakit.
Pun demikian dengan rohani dan qalbu kita, juga membutuhkan nutrisi dan asupan yang baik supaya memiliki daya tangkal terhada segala penyakit berupa dosa-dosa dan penyakit hati. Kata Ibnul Qayyim, nutrisi bagi hati adalah memperbanyak ilmu dan amal. Itulah multivitamin yang terbaik bagi rohani. Sebab itu datangilah majelis-majelis ilmu, perbanyak belajar agama dan pengetahuan lainnya, perbanyak ibadah wajib dan sunah serta amal shaleh. Semua itu dilakukan agar kita memiliki daya tangkal dan imunitas terhadap penyakit-penyakit rohani.
Kemudian saran yang kedua dari dokter adalah Al-Himayah ‘anil mukdhi (melindungi diri dari kondisi yang lebih parah). Anda akan disarankan untuk menghindari diri dari hal-hal yang akan menimbulkan penyakit baru atau dapat memperparah penyakit yang diderita. Pantangan-pantangan diberikan. Dilarang makan makanan yang akan membuat tambah parah atau memicu penyakit lainnya. Jangan banyak makan daging merah, jeroan, makanan kemasan karena akan meningkatkan kolesterol, meningkatkan tensi darah. Jangan makan sayuran A,B, C dan seterusnya karena bisa membuat asam urat naik. Tidak boleh ini itu, ini itu dan lain sebagainya.
Berlaku pula untuk pengobatan penyakit rohani larangan-larangan dan pantangan-pantangan. Pantangannya adalah menghindarkan diri dari segala maksiat dan perbuatan dosa. Jika ilmu dan amal shaleh adalah nutrisi bagi hati, maka maksiat dan dosa adalah sumber penyakit rohani dan hati. Karena itu kalau ingin memiliki qalbun salim (hati yang selamat, sehat) tinggalkan maksiat dan jangan melakukan perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada dosa.
Langkah terakhir dari seorang dokter menurut Ibnul Qayyim adalah Istifroghul mawadil fasidah, yaitu mengobati atau menghilangkan penyakitnya. Pada tahap ini dokter akan menuliskan resep dan meminta anda untuk menebusnya. Dokter memberi antibiotik, vitamin, dan obat-obat lainnya. Disarankan pula tata cara meminum dan takaran obat itu agar semua penyakit hilang, supaya anda sembuh, sehat waras wiris serta dapat pulih seperti sediakala.
Lalu apa obat bagi penyakit rohani? Menurut Ibnul Qayyim, perbanyak istighfar dan bertaubat dari segala maksiat dan dosa yang pernah dilakukan. Tidak cukup itu, karena jika dosa yang pernah dilakukan merupakan dosa yang besar, maka menyembuhkannya dengan bertaubat saja tidak cukup. Jika dosa itu berhubungan dengan kesalahan menyakiti orang lain, anda memohan maaf dan meminta keikhlasannya. Jika mengambil hak orang lain, kembalikan hak itu kepadanya, lalu bertaubat dengan sungguh-sungguh. Pada setiap penyakit rohani, bertaubat nasuha adalah obat utamanya dan diikuti dengan usaha keras untuk menggantinya dengan perbuatan-perbuatan yang baik.(mh.16.06.23)