Dr. Siti Nurjanah, M. Ag. ( Rektor IAIN Metro)
Kesetaraan gender di wilayah domestik bagi suami
istri adalah dalam rangka mewujudkan keseimbangan hidup dengan pasangannya.
Demikian juga kesetaraan gender di wilayah publik juga untuk mewujudkan
keseimbangan hidup antara kamu laki-laki dan perempuan dalam memperoleh
hak-haknya dan menjalankan kewajiban-kewajiban mereka.
Ada kesalingan yang terbentuk di prilaku mereka.
Allah tidak membedakan-bedakan kesempatan hidup
bagi laki-laki dan perempuan baik di dunia dan di akhirat. Karena sesungguhnya
yang membedakan mereka di hadapan Allah hanyalah taqwanya. Jadi jangan sombong
dan angkuh dalam hidup. Manusia tidak memiliki kekuatan apa-apa di
hadapan Allah, kecuali Dia yang memberikan kekuatan itu. Jangan sia-siakan
kesempatan yang diberikan kepada kita.
Teruslah berbuat kebaikan untuk sebuah perubahan,
untuk sebuah kemajuan. Perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama
dengan hadiah akal yang diberikan olehNya dan menjadi pembeda dengan makhluk
lainnya. Akankah kesempatan itu kita sia-siakan? Selagi hayat dikandung badan
teruslah berkarya untuk kemaslahatan orang banyak.
Perempuan sebagai istri di wilayah domestik dalam
keluarga menjadi teman bagi suami dan menjadi muara kasih sayang bagi
anak-anaknya, demikian juga laki-laki. Tidak ada yang membedakan perlakuan
antara keduanya. Adanya kesalingan bagi keduanya justru akan menciptakan
keharmonisan dalam rumah tangga.
Perempuan di wilayah publik juga memiliki
kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki. Kemampuan yang dimiliki oleh kaum
perempuan harus diakui sebagai sebuah kelebihan bukan untuk menghambat
kesempatan kaum laki-laki. Adanya kesalingan dalam melaksanakan tanggung jawab
kerja menjadikan suasana kerja yang kondusif dan berkualitas.
Perempuan bisa berkarya adalah anugerah. Sebagai
bukti keberhasilan proses pendidikan di dunia. Sebagai penyeimbang keberhasilan
laki-laki. Karena kekuatan itu akan terukur ketika ada keseimbangan.
Keseimbangan itulah kemudian akan memghasilkan kekuatan baru yang harus terus
dipupuk sehingga menjadi kekuatan yang maksimal.
Perempuan harus kuat dan yakin akan kemampuan yang
dimiliki. Jangan ragu untuk melangkah ketika telah memiliki landasan kuat sebagai
dasar berbuat. Layaknya Khadijah RA istri Rasulullah yang kuat dan tegar
mengikhlaskan seluruh hartanya demi tegaknya ajaran Islam yang didakwahkan oleh
suami tercinta. Juga Aisyah RA Istri Rasulillah juga dengan gigih berjuang demi
tegaknya ajaran Islam dengan menunjukkan kecerdasanya di mata dunia. Di
Indonesia, Raden Ajeng Kartini dengan teori ”habis
gelap terbitlah terang” nya. Dewi Sartika yang juga gigih
memperjuangkan hak-hak perempuan. Juga tokoh-tokoh perempuan dunia lainnya. Ini
adalah kekuatan yang luar biasa bagi kaum perempuan.
Lalu masihkah engkau wahai kaum perempuan merasa
tidak percaya diri, merasa tidak setara dengan laki-laki, merasa lemah, dan
merasa-merasa yang lain yang menyebabkan dirimu terasing dari dunia kesetaraan
??? Tinggalkan itu semua. Sekarang sudah saatnya perempuan bangkit melakukan
pergerakan dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk mengolah dunia. Karena
manusia diciptakan di bumi ini diberi tugas untuk mengelola alam dengan baik
agar tercipta kebaikan-kebaikan, bukan kerusakan. Melakukan inovasi dan
kreatifitas untuk menjadikan alam berdaya guna dan berhasil guna sebagai sebuah
kemaslahatan. Karena sesungguhnya orang yang berhasil hidupnya adalah mereka
yang bisa menikmati kebahagiaan di dunia dan akhirat “sa'idun fi al-dunya wa sa'idun fi al-akhirah”. Dan orang yang gagal adalah mereka yang tidak
pernah merasa bahagia dan tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan
“Syaqiyyun fi al-dunya wa syaqiyyun fi al-akhirah” tsumma
na'udzubillah.
Wallahu a'lam bi al-shawwab.
Tulisan ini dibuat di hari Kartini, bakda sahur,
Rabu, 21 April 2021 M bertepatan dengan 9 Ramadhan 1442 H
Selamat Hari Kartini