Perguruan Tinggi, Inovasi dan Literasi

95ridho

Salah satu faktor yang menentukan
dalam perkembangan peradaban sebuah kota adalah peran universitas dan
belakangan komunitas-komunitas. Kehadiran belasan kampus dan puluhan komunitas
menjadi penting sebagai helix keempat (quadruple
helix
) selain triple helix
(universitas-industri-pemerintah). Dari komunitas-komunitas anak muda inilah
lahir pengetahuan-pengetahuan baru lewat interaksi para pelaku di dalamnya.

Kampung Jodipan di Malang mendadak
menjadi perhatian nasional berkat
sentuhan pengetahuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Delapan
mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses
menjadi konseptor untuk menyulap kampung kumuh di kawasan Jodipan, Kecamatan
Blimbing Kota Malang. Kawasan di bantaran sungai Brantas itu kini menjadi
menjadi destinasi wisata baru. Mereka menggandeng PT. Indana Paint
untuk menggelontorkan dana Corporate
Social Responsibility
(CSR)-nya untuk program ini "Decofresh Warnai Jodipan". Tak kurang dana sebesar Rp 200 juta
dialokasikan untuk pengecatan dan berbagai keperluan lainnya.

Sentuhan sederhana tersebut
terinspirasi dari Kawasan Izamal di Meksiko, Nyhavn di Denmark, St John di
Kanada, atau bahkan Cinque Terre di Itali. Lagi-lagi insprasi lahir dari
pengetahuan dan pengalaman.
Belakangan setelah semakin terkenal, sebuah jembatan kaca mirip di Kota
Zhangjiajie, Cina akan dibangun guna menghubungkan Kampung Warna Warni dengan
Kampung Tridi yang berada di sisi utara.

Kali ini giliran mahasiswa dari
Jurusan Teknik
Sipil UM Malang yang unjuk gigi dalam mendesain jembatan yang lagi-lagi
terinspirasi dari sebuah jembatan di Cina. Pembangunan ini
disetujui Pemerintah Kota Malang usai mendengarkan presentasi mahasiswa
tersebut. Lagi-
lagi pembangunan jembatan menggunakan dana Corporate
Social Responsibility
(CSR) dari perusahaan cat di Kota Malang. Sungguh
sebuah penerapan konsep kurang duit bisa dicari kurang akal nyusahin orang.

Jembatan yang dibangun sejak April 2017
memiliki panjang 25 meter dan membentang di atas Sungai Brantas. Menggunakan
fondasi beton bertulang, peletakkan beton cor, serta kontruksi baja castella,
jembatan tersebut sengaja dirancang bagi para pejalan kaki. Memiliki lebar 1,5
meter, baik warga maupun pengunjung kedua kampung tersebut dipastikan merasa
nyaman melaluinya meski harus saling berpapasan.

Kehadiran Kampung Jodipan
meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Kunjungan wisatawan memacu perkembangan
ekonomi masyarakat yang berdagang, menjual souvenir dan lain-lain. Kedatangan para
wisatawan juga mampu mengubah perilaku warga yang biasanya membuang sampah
sembarangan.

Warga tak menyangka kampungnya
yang dulu dikenal sebagai permukiman kumuh menjadi obyek wisata alternatif tak
hanya wisatawan dalam negeri tapi juga luar negeri. Tidak ada bangunan hebat
infrastruktur kelas dunia yang dibangun. Hanya inspirasi, imajinasi dan inovasi sederhana mampu
mengubah segala sesuatunya.

Selanjutnya saya beralih ke
Komunitas Rewo-rewo, Desa Kaliabu, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa
Tengah.Warga desa ini banyak berprofesi sebagai desainer logo perusahaan. Hasil
karya mereka kerap menjuarai berbagai kontes logo di seluruh dunia. Profesi
unik ini telah dapat mengubah taraf ekonomi serta martabat desa itu yang dahulu
terkenal sebagai desa dengan angka kriminal yang tinggi.

Komunitas Rewo-rewo begitulah nama
komunitas ini. Nama ini dipilih karena anggota memiliki latarbelakang beragam,
dari pengangguran, tukang bakso, pedagang pakaian, sopir, guru. Anggotanya kini
mencapai 250 orang dan kebanyakan hanya lulusan SMP dan SMA. Belajar secara
otodidak,
komunitas ini mampu melahirkan komunitas pemuda yang memenangi kontes mendesain
logo perusahaan di seluruh dunia, seperti Eropa, Asia, Australia hingga Timur
Tengah. Hadiah memenangkan berbagai kontes itu membuat warga bisa membangun
rumah, membeli kendaraan dan tentu saja menafkahi keluarganya.S ebuah berita
menyebut jika dikalkulasi, seluruh pendapatan warga dari memenangi kontes logo
bisa mencapai Rp 8 miliar dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Tidak heran
jika banyak warga yang beralih profesi menjadi desainer logo.

Desa Kaliabu kini tidak lagi
dikenal sebagai desa yang mengerikan tetapi berubah menjadi desa membanggakan
berkat karya-karya logo mereka yang sudah dikenal dunia. Desa ini juga akan
menjadi desa percontohan dalam hal pengembangan ekonomi kreatif dan teknologi
informasi di Jawa Tengah. Dua contoh di atas adalah contoh nyata bagaimana peran kampus dan
komunitas dalam mendorong peradaban sebuah kota atau daerah. Masih banyak
lagi contoh-contoh sukses lainnya yang tidak menyandarkan diri pada
infrastruktur modern. Mungkin Anda berpikir contohnya selalu luar negeri, maka
contoh dalam negeri perlu dikemukakan meski sesugguhnya mereka juga
terinspirasi dari negara lain.

Bagaimana Metro?

Pada Maret 2017 Deputi Bidang
Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan Kementerian Pariwisata bekerja sama
dengan Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata mengadakan Rapat
Koordinasi Nasional dengan tema "Peran Perguruan Tinggi dalam Mendukung Program
Pengembangan Pariwisata Melalui Digitalisasi, Homestay Desa Wisata, dan Connectivity".

Rakornas ini merekomendasikan
bahwa guna menciptakan perkembangan sektor pariwisata yang positif, dibutuhkan
sinergi dari lima pemangku kepentingan utama pariwisata yang disebut dengan pentahelix, yakni akademisi, pelaku
bisnis, pemerintah, komunitas, dan media.

Kehadiran belasan kampus dan
puluhan komunitas di Metro belum menjadi modal sosial yang dioptimalkan oleh
pemerintah yang bercita-cita membangun kota wisata keluarga. Kota ini menyimpan
banyak bakat, mulai dari pelukis, musisi, videografer,
desainer, penulis, komikus dan banyak
lagi lainnya.

Disisi lain riset-riset perguruan
tinggi belum banyak berkontribusi pada perkembangan kota. Riset-riset ini hanya
berakhir di laporan atau paling tinggi jurnal tanpa pernah memiliki kaki yang
cukup untuk menginjak bumi. Kondisi ini bersoal pada orientasi peneliti, ada juga yang
disebabkan tidak tersedianya ruang untuk memberikan kontribusi pemikiran pada
pemerintah.

Persoalan lainnya adalah Iklim
industri kreatif dan wisata belum tumbuh di kota ini. Ide-ide belum menjadi
inspirasi dan pemikiran pemerintah. Pemerintah lebih suka dengan apa yang
berbau pembangunan fisik dibandingkan pengembangan sumber daya manusia dan inovasi.
Tentu ada pertimbangan tersendiri mengapa orientasi ini masih terus kuat
bercokol.

Di sisi lain, saya melihat kultur
kampus dan komunitas juga harus mulai berubah dari mengharapkan bantuan dana
pemerintah menjadi kultur bersama-sama mencari dana membangun sebuah kolaborasi
untuk mengusung gagasan perubahan. Pengalaman Malang memberikan inspirasi
berharga bagi kampus-kampus di Metro.

 

Muhammad Ridho

Mahasiswa Pascasarjana IAIN Metro

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.