Konon, cendikiawan muslim Muhammad Abduh begitu terpukau dengan
Paris-Perancis. Berbanding terbalik saat Muhammad Abduh tiba di Mesir dan mendapati negeri ini semrawut,
kumuh dan tidak aman. Ketika sampai di mesir seketika Muhammad Abduh menyaksikan aski pencurian.
Muhammad Abduh rindu dengan suasana Paris
yang asri, bersih dan nyaman. Beliau juga menyaksikan bagaimana di paris orang
membeli koran dipinggir jalan tanpa ditunggui penjualnya.
Tahun 2015 lalu, Maarif institute merilis riset tentang Indeks
Kota Islami (IKI). Ada tiga tolak ukur yang dijadikan indikator dalam riset
ini, yaitu: aman, sejahtera, dan bahagia. Walaupun akhirnya riset ini banyak
menuai kontroversi terkait indikator yang digunakan, tetapi setidaknya kita
tahu kota mana yang tergolong paling aman, sejahtera, dan bahagia.
Kota aman diukur dari indikator kebebasan beragama dan
berkeyakinan, perlindungan hukum, kepemimpinan, pemenuhan hak politik perempuan,
hak anak, dan hak difabel. indikator sejahtera diukur dari pendidikan,
pekerjaan, pendapatan, dan kesehatan. Sedangkan tolak ukur bahagia diukur dari
indikator berbagi dan kesetia kawanan serta harmoni dengan alam. Hasilnya mengejutkan,
tiga kota yang memiliki indeks islami paling tinggi adalah Yogyakarta, Bandung dan Denpasar yang
mayoritas bergama Hindu.
Fakta-fakta riset ini sebenarnya merefleksikan kenyataan
beragama kita. Ajaran tentang kebersihan,
keasrian dan kenyamanan lingkungan juga tidak sedikit jumlahnya. Semisal hadits
Nabi “kebersihan adalah sebagian dari iman” yang kemudian direplikasi menjadi
slogan yang ditempelkan di tempat-tempat bersuci, kiranya hanya menjadi patronase
tanpa implementasi yang ril. Masih ada tempat ibadah yang jauh dari kata bersih
dan nyaman. Bahkan kampus-kampus islam sekalipun yang notabene banyak dihuni
oleh para ahli agama.
Penulis berspekulasi. Jangan-jangan ini karena sistem
pendidikan agama kita yang hanya mengajarkan orang untuk sholat dan
melaksanakan ritual-ritual lainnya. Dalam hal muamalah pun, hanya berkisar pada
kontak-kontrak bisnis, pernikahan, dan politik. Belum menyentuh elemen-elemen
yang bermuatan kearifan lingkungan hidup (ekologi). Tetapi alhamdulillah,
akhir-akhir ini ada sinyalemen yang mengindikasikan adanya geliat untuk
mengkaji lingkungan dalam perspektif agama, munculnya term “ekoreligi” misal.
Kalau kita sedikit peka saja, sebenarnya ajaran islam banyak
mengandung muatan pendidikan ekologi. Dalam masalah etika bersuci (wudlu)
misalnya, orang tidak diperbolehkan untuk membasuh lebih dari tiga kali, karena
termasuk perbuatan isrof (berlebihan). Larangan isrof ini tidak memandang
apakah dalam kondisi air krisis atau berlimpah. Walaupun misalnya orang bersuci
di tempat yang banyak air seperti di sungai yang mengalir, isrof tetap tidak
dibolehkan, karena air adalah sumberdaya yang harus tetap dijaga kelestariannya
(sustainable).
Dalam kondisi air yang krisis sekalipun, muatan pendidikan ekologis
tetap tidak hengkang. Jika seseorang memiliki sedikit air di musim kemarau,
tetapi di satu sisi dia masih memiliki hewan piaraan yang membutuhkan minum,
maka hewan piaraan inilah yang lebih berhak atas air tersebut, sedangkan orang
tersebut diperbolehkan untuk tayamum (bersuci degan debu). Dengan demikian, populasi
hewan akan tetap terjaga kelestariannya.
Ajaran dalam qurban juga sangat menarik. Hewan yang
dianjurkan untuk dijadikan qurban adalah hewan jantan. Sehingga populasi hewan
terebut tidak cepat lenyap karena hewan betina dibiarkan hidup dan berkembang
biak.
Sebuah pesan mulia yang pernah disampaikan oleh Sayyidina Abu
Bakar RA, setidaknya juga memberikan gambaran pendidikan ekologi. Pesan yang
disampaikan saat akan mengirim pasukan dalam sebuah ekspedisi peperangan, pesan
beliau adalah (1) janganlah kalian membunuh wanita, anak-anak dan orang renta, (2)
janganlah kalian menebangi pohon-pohon yang berbuah, (3) janganlah kalian
merobohkan bangunan, (4) janganlah menyembelih hewan ternak kecuali untuk
dimakan, (5) janganlah menenggelamkan atau membakar pohon kurma, (6) janganlah
korupsi, (7) dan janganlah kalia takut.
Dalam sebuah riwayat, Nabi juga pernah memberikan sabda,
bahwa diantara pahala yang tetap mengalir meskipun seseorang telah meninggal
adalah menanam pohon kurma, menggali sumur dan mengalirkan sungai. Riwayat lain
juga menyebutkan bahwa dalam kondisi genting saat akan terjadi hari kiamat, dan
di tangan kita menggenggam biji kurma, maka kita diperintahkan untuk menanamnya
sekiranya masih sempat.
Sampai di sini sebenarnya kita bisa memahami. Kalau saja umat
ini mau sedikit peka akan ajarannya, maka fakta-fakta menyedihkan dan memalukan
seputar ekologi bisa dicegah. Bagaimana mungkin, disaat islam mengajarkan
umatnya untuk menjaga kelestarian air sekalipun untuk keperluan bersuci, tetapi
faktanya justru kita merusak sumbernya? Mengotori sungai? di saat islam
mengajurkan menanam pohon dan melarang untuk merusaknya sekalipun dalam kondisi
berperang, justru kita secara brutal menebangi pohon. Dan di saat Nabi memerintahkan
untuk menanam pohon sekalipun akan kiamat, justru kita berlomba-lomba menanam
beton.
Kita berharap, bahwa masih akan ada cendikiawan muslim yang
mau mereproduksi pengetahuan agamanya dalam ranah ekologi. Bukan hanya dalam
bidang akademik, tetapi sekaligus bisa diimplementasikan. Agar seterusnya kita
tidak hanya bisa terus mempropagandakan adagium “Rahmatal lil alamin” tetapi sungguh
memalukan saat melihat justru negeri non-muslim jauh lebih bersih, tertib, dan
asri.
Penulis: Tomi Nurrohman