metrouniv.ac.id – 10/07/2025 – 14 Muharam 1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Jurai Siwo Lampung)
Pada kisah Karbala yang sangat memilukan itu, adakah pesan khusus bagi para influencer?
Pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah, di sebuah tanah gersang bernama Karbala, sejarah mencatat peristiwa yang abadi dalam luka dan cahaya. Di padang itu, Sayyidina Husain bin Ali—cucu Nabi Muhammad SAW, berdiri dengan tegak, memilih jalan syahadah daripada tunduk pada kekuasaan yang zalim. Sebelumnya, Husain menolak memberikan sumpah setia (baiat) kepada Yazid bin Muawiyah, seorang penguasa yang naik takhta melalui warisan, bukan keadilan. Penolakannya bukan karena ambisi, tetapi karena prinsip: bahwa kebenaran tak boleh tunduk pada kebatilan, meski harus ditebus dengan darah.
Keputusan itu mengantarkan Al-Husain ke Karbala, bersama keluarga dan sahabat-sahabat setianya. Long story shorr, mereka dikepung, tidak mendapatkan akses air di tengah panas padang pasir. Ribuan pasukan dikirim untuk menyerang kelompok kecil keluarga dan pengikut setia al-Husain. Satu per satu mereka gugur. Hingga akhirnya, sayyidina Husain sendiri syahid. Kepalanya dipenggal, tubuhnya dibiarkan tak bernisan. Keluarganya ditawan dan diarak ke istana Yazid.
Sebelum tanah Karbala berubah menjadi ladang pembantaian (killing field), ada satu nama yang muncul di antara bayang-bayang kekuasaan: Ubaidillah bin Ziyad, seorang panglima yang dikenal lebih dulu karena ketegasannya, lalu karena kekejamannya. Kala itu, Yazid, sang khalifah yang diwarisi takhta, mulai gelisah. Ia mendengar kabar bahwa warga Kufah diam-diam menyimpan cinta dan baiat untuk Husain bin Ali. Maka, ia mengirim Bin Ziyad ke kota itu, membawa satu perintah: redam gelombang baiat sebelum ia menjadi badai penghancur status quo.
Tetapi, Kufah bukanlah tanah yang kosong dengan idealisme. Warga Kufah menolak dengan suara keras. Bin Ziyad, yang tak biasa ditentang, mulai memainkan siasat. Ia tempuh dua jalan. Yang pertama: ia panggil para kepala suku dan menawarkan janji, harta, dan kekuasaan—semua yang bisa dibeli dengan dunia. Yang kedua: ia panggil seorang penyair bernama Qois. Karena di masa itu, penyair bukan sekadar penggubah rima dan penguasa diksi. Penyair handal seperti Qois bisa mengubah arah suara rakyat. Ia bisa menjadi juru bicara takht atau nurani.
Qois tak diminta meramal atau meratap. Ia hanya diberi tugas: naik ke balkon istana, ucapkan syair, dan biarkan kata-kata itu meluncur ke jalanan, mengajak manusia untuk menunduk kepada Yazid dan melupakan nama Husain. Qois pun naik. Tapi yang keluar dari lisannya bukan perintah penguasa zalim, melainkan kecintaan pada oase kebenaran. Ia tak menyanyikan pujian untuk Yazid, justru memanggil nama Husain dengan keberanian dan kecintaan. Syairnya melawan. Lembut tapi tajam. Dan seperti kata-kata yang terlalu jujur bagi telinga para tiran, ia tak sempat turun dengan tenang. Tubuhnya dilempar dari balkon—oleh tangan-tangan kekuasaan yang tak bisa membedakan syair dari ancaman. Ia jatuh. Ia mati. Tapi pesan dalam balutan kata-katanya, barangkali, belum selesai menggema.
Syahdan, Qois lebih dari sebuah tokoh dalam kisah Karbala. Qois adalah penyair hebat. Dan penyair pada jaman Karbala, tak ubahnya dengan influencer hari ini. Memiliki peran yang sama: penyebar gagasan dan ideologi melalui kata-kata. Bagi kita para content creator atau influencer yang hendak menggunakan kekuatan kata untuk menggugah logika dan rasa, ada pertanyaan halus dari kisah Qois sang penyair: “Akankah kita menulis content yang mengbdi pada kebenaran atau mengabdi pada angka-angka?”
Qois, sang penyair dan influencer di jamannya, telah menjawabnya—dengan hidupnya sendiri. Wallahu a’lam.