Pesantren dan Modernitas

93tomi

Menilai perkembangan pesantren dari dulu hingga
sekarang merupakan perkara yang agak sulit. Sulit karena tidak ada satu pun
panduan baku yang dijadikan tolak untuk menilai kemajuannya. 

Ya, pesantren dibiarkan bebas menonjolkan ciri-cirinya sendiri sesuai dengan
jargon ilmu yang mendominasi muatan pengajarannya. Tidak ada lembaga supervisor
macam badan akreditasi yang bertugas menilai tingkat kelayakan dan ranking
sebuah pesantren.

Jika dihadapkan dengan perkembangan zaman yang makin mengarah pada modernisasi,
hampir dipastikan, kita akan semakin bingung lagi. Manakah pesantren yang
paling bagus dan ideal? Apakah pesantren yang berhasil melakukan adaptasi
dengan modernitas? Atau pesantren yang masih konservatif dalam mempertahankan
tradisi dan sistem pengajaran klasik (wetonan dan sorogan), sehingga masih
murni?

Dalam era milenium ini, masih ditemukan pesantren salafi. Seorang kiai yang
yang mengasuh pondok pesantren tersebut mewajibkan santrinya untuk mengikuti
tarekat dengan menolak segala peralatan modern seperti alat speaker. Di satu
sisi, kita juga bisa menemukan pesantren yang sudah melakukan kolaborasi dengan
memasukan unsur-unsur pendidikan umum yang sudah modern.

Berhadapan dengan realitas demikian, Nurcholis Madjid (dalam Aphasia, 2006)
menjelaskan bahwa kalangan pesantren terpolarisasi ke dalam empat kelompok.
Pertama, adalah kelompok yang merupakan bagian yang terbesar, yaitu kelompok
pesantren yang menyadari dirinya, apakah bernilai baik atau kurang baik. Mereka
menganggap bahwa apa yang telah terjadi adalah terjadi begitu saja, tanpa ada
persoalan serius yang menyangkutnya.

Kedua, adalah kelompok yang fanatik, yakni kelompok yang menilai begitu saja
dengan segala aspeknya adalah positif dan mutlak harus dipertahankan. Ketiga,
adalah kelompok yang terhinggapi perasaan rendah diri dan justru menumbuhkan
sikap dangkal dalam mengejar ketertinggalan zamannya, sehingga akhirnya merusak
dirinya sendiri dan identitas keseluruhannya. 

Keempat, dan ini merupakan paling sedikit jumlahnya, adalah pesantren yang
sepenuhnya baik dalam hal berkaitan dengan segi-segi positifnya maupun
negatifnya, sanggup melihat dengan jernih mana yang harus diteruskan dan mana
yang harus ditinggalkan dan karenanya mereka memilki kemampuan adaptasi pada
perkembangan zaman dan masyarakat.

Apa yang disampaikan oleh Nurcholis Madjid, dalam pandangan Aphasia bukanlah
sesuatu yang mengada-ada. Masih adanya pesantren yang terkesan konservatif
dalam memandang perkembangan dan perubahan zaman. Menurutnya, fenomena ini bisa
dibedah dengan menelisik akar sejarah dan epistemologis nalar orang-orang di
dalamnya. 

Dalam aspek sejarah misalnya, kentalnya nuansa sufisme dan tarekat pada awal
perkembangan pesantren, yang menjadikan seorang kiai sebagai tokoh sentral yang
titahnya harus ditaati seutuhnya, sehingga bukan perkembangan di luar yang
dijadikan ‘cermin’, namun kiai yang memimpinnya. 

Tidak hanya itu, secara epitemologis, kitab semacam “Ta’lim Muta’alim” dan
kitab lain yang senada dengannya praksis mempunyai andil yang besar dalam
membentuk semangat penghormatan yang tinggi terhadap kiai dan semua
keluarganya.

Penyebab sikap apatis pesantren terhadap modernitas juga ungkap oleh El shirazy
(2006). Beberapa alasan reaksi mereka antara lain karena kemunculan modernitas
dari barat tidak bisa dilepaskan dari dunia barat itu sendiri. Modernisasi
dicurigai sama dengan westernisasi. Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan
yang pesat di barat telah menyebabkan ketimpangan yang luar biasa antara
masyarakat islam dan modern. Islam dan modern dianggap sebagai sesuatu yang
kontradiktif.

Namun demikian pendapat kalangan pesantren, modernisme tetap memiliki implikasi
dalam kehidupan sosial dan beragama. Ada beberapa beberapa fenomena seperti
yang dieksplorasi oleh A. Malik Fadjar (dalam El-shirazy, 2006) yang bisa
diungkap mengenai implikasi modernisme. 

Pertama, berkembanganya budaya massa karena pengaruh kemajuan media. Hal ini
akan berdampak pada tatanan nilai yang dianut masyarakat. Kedua, tumbuhnya
sikap yang lebih terbuka terhadap segala bentuk perubahan, termasuk dalam
beragama. Ketiga, tumbuhnya sikap hidup rasional. Dan keempat, tumbuhnya sikap
orinatasi hidup pada kebendaan atau sikap hidup materialistik.

Implikasi modernisme terhadap perubahan realitas sosial dan beragama, oleh
sebagian kalangan pesantren lainnya ditanggapi dengan paradigma yang lebih
moderat. Gaung kejayaan modernitas yang ditawarkan tidak serta merta membuat
pesantren gagap dan gegabah untuk segera menelan mentah-mentah tradisi
moderintas itu. Dengan berpegang teguh pada adagium “Al-muhafadzhoh ‘ala qadimi
shalih wal ahdlu bi jadidil ashlah” kalangan pesanten mulai menerima modernitas
dengan mengutamakan sikap selektif dalam memilih mana unsur modernitas yang
patut diambil dan mana yang tidak. Di satu sisi, penerimaan ini diimbangi
dengan sikap menjaga tradisi yang dianggap masih cukup baik.

Sebagai bukti empirik yang bisa dilihat sekarang adalah banyaknya pesantren
yang menggunakan sistem klasikal, serta pengaturan kurikulum. Bahkan sebagai bentuk
negosiasi, kebanyakan pondok pesantren menggunakan dua sistem pembelajaran
sekaligus. Sistem klasikal yang disesuaikan dengan kurikulum pemerintah yang
dilakukan pada jam sekolah biasa, dan selebihnya adalah pengajian wetonan pada
waktu-waktu ba’da shalat, seperti shalat ashar hingga subuh.

Lebih dari itu, beberapa pondok pesantren bahkan mulai menerapkan sistem
pembelajaran modern secara penuh, di mana pola pembelajaran semaan ta’lim,
wetonan, dan sorogan ditiadakan sama sekali. Contoh pesantren jenis ini
seperti: Pondok Pesantren Gontor, Walisongo Ngabar Ponorogo, Al-zaitun, dan
lain-lain.

Terlepas dari semua fenomena dan beraneka ragam jenis pesantren, kita sepakat
bahwa pesantren telah memberikan kontribusi terhadap proses transformasi
sosial, perkembangan kenegaraan dan khususnya pendidikan di tanah air, yang
dimotori oleh tokoh-tokoh nasional sekelas Gus Dur, Cak Nur, Wahid Hasyim,
Ahmad Dahlan, dan tokoh-tokoh lainnya.

Dengan demikian, dalam konteks pelebaran akses pendidikan di segala lapisan
sosial masyarakat, peran pesantren tidak hanya perlu ditegaskan, tetapi
mendesak untuk dilibatkan secara langsung.

Penulis: Tomi Nurrohman

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.