Mamang, panggilan tukang di Payungi bercerita di Raman Aji Lampung Timur didapati lurah yang tidak ada lawannya. Akhirnya istrinya sendiri dijejer untuk menjadi lawan lurah petahana. Saya bertanya,”Mang apa kehebatan lurah itu?”
“Orangnya mengayomi semua warga, ada yang mau nyoba nyalon tapi pasti kalah karena lurah ini sudah dipercaya banyak warga.” jawab mamang dengan yakin.
Pilihan lurah Lampung Timur membuat dua tukang hari kemarin meminta libur. Mereka beberapa hari ini sedang mengerjakan anjang-anjang dari baja ringan agar Payungi makin adem kelak ada tanamam rambat di atasnya. Mamang dan Mas Eko adalah warga desa Jojog Lampung Timur. Pagi ini mereka sumringah calonnya menang dapat 1800 lebih suara melawan petahana yang hanya mendapat 400 suara.
Demokrasi di tingkat Desa memang beragam cerita. Tapi saya melihat masa depan Indonesia ada di sana. Kita bisa menebak dengan kembalinya pertanian organik, peternakan terpadu, beberapa desa juga memperlihatkan perkembangan BUMDES yang semakin maju jika cukup SDM nya mereka membuat destinasi desa. Ya demokrasi tinggal euforia, semua kepala desa yang menang tertantang untuk melaksanakan program yang lebih baik dari kepala desa sebelumnya.
Bahagia para pendukung biasanya sementara. Nanti jika lurah kurang transparan, tidak ada inovasi sosial, dan hanya sekadar menghabiskan dana desa pasti respon warga jadi sunyi. Obrolan di malam hari, di tengah sawah hanya sayup terdengar tapi tak sampai pada telinga kepala desa dan kroninya. Ewuh pakewuh demokrasi kita itu bisa dianggap adat timur bisa juga dianggap kemunduran demokrasi. Jadi tak sepenuhnya warga desa meresapi demokrasi sebagai kebebasan bicara. Memikirkan besok bisa makan saja sudah bersyukur, musim kemarau panjang membuat warga desa harus terus bekerja keras. Memberi pakan sapi pun kepayahan.
Desa butuh perhatian lebih. Orang-orang mudanya harus ajak membangun trilogi prmbangunan desa yaitu pengetahuan, potensi dan menjadi penggerak. Tapi siapa yang mau diajak mikir berat ke sana? Para pendamping desa tidak semua punya keberanian dalam memberi perspektif baru. Mereka akhirnya memilih ikut saja, mengalir apa yang yang menjadi keinginan birokrat desa. Desa kekurangan pakan sapi pun tak ada inisiatif menanam rumput odoj atau gajahan secara gotong royong. Jika alasan butuh air, dana desa cukup untuk membuat sumur agar air bisa menghidupkan rumput di area pekarangan menganggur.
Dana Desa memang menjadi perhatian banyak kalangan. Sorotan lebih banyak ke penyelewengan. Pendampingan dana desa hanya minimal, tapi upaya memenjarakan aparat desa terlihat optimal. Lalu apa peran lembaga pengawasan, pendamping desa dan para warga yang dulu riuh ikut bahagia saat demokrasi terjadi. Setelah terjadi penyalahgunaan kekuasaan, tak ada solidaritas saling membantu, mengingatkan, komunikasi dan evaluasi. Persis seperti pileg, pilkada dan pilpres. Mereka yang melakukan kritik dianggap membenci, yang milih seolah menjadi pahlawan. Ya cukup jadi pemilih, seolah demokrasi akan berjalan on the track.
Demokrasi kita sebatas memilih di kotak suara. Para pemimpin dibiarkan sendirian, tanpa dinamisasi ide-ide baru. Di level desa sampai negara kita masih begitu, ya itulah kritik dianggap tidak sopan atau malah haram bagi sekelompok kalangan agama. Dana Desa berkah sekaligus musibah. Tapi desa harus terus diperhatikan, oleh siapapun; pemimpin, politisi, akademisi, dan yang wajib adalah mayoritas warganya. Di zaman media seperti ini kita bisa melihat informasi dari youtube, instagram dan media lainnya untuk melihat desa lain. Kenapa desa lain bisa lebih baik, lebih maju dan lebih tertata?
Dharma Setyawan
Kajur Ekonomi Syariah IAIN Metro/ Penggerak Pasar Yosomulyo Pelangi