PREMANISME DIGITAL

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 17/05/2022 _ 16 Syawal 1443 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Ada dua realitas sosial yang sekarang ini dihadapi. Pertama adalah realitas sosial yang sehari-hari langsung dialami, dirasakan dan ada di depan mata, kemudian yang kedua adalah realitas maya yaitu kenyataan sosial yang tidak terlihat mata namun dapat dirasakan keberadaannya melalui medium yang bernama sosial media. Terdapat perbedaan cara komunikasi manusia melalui dua realitas ini. Pada realitas yang pertama, manusia berkomunikasi  langsung secara verbal, berhadap-hadapan sehingga nada suara, gestur tubuh dan mimik muka langsung dilihat oleh masing-masing komunikan. Jarak psikologis menjadi sangat dekat karena para komunikan langsung bertemu. Namun pada realitas yang kedua, cara komunikasi manusia berjarak, non verbal, tidak berhadapan langsung dan hanya dihubungkan dengan alat yang bernama teknologi digital.

Dalam realitas yang sesungguhnya manusia cenderung berhat-hati dalam memilih kata dan diksi dengan mimik yang jelas ketika berkomunikasi. Hal ini dimaksudkan supaya maksud yang disampaikan bisa dipahami, tidak multi tafsir dan berusaha tidak menyinggung perasaan. Karena langsung berhadapan maka suasana hati pihak-pihak yang berbicara dapat langsung terlihat, baik itu  menggambarkan perasaan senang, sedih, marah, menantang bahkan bisa diketahui apakah perkataan itu serius atau guyon semata. Sebaliknya dalam realitas maya, karena medium komunikasi  sangat terbatas dan tidak berhadapan langsung maka  gestur dan mimik muka tidak kelihatan. Akibatnya orang cenderung ceroboh dalam berkomunikasi, tidak selektif dalam memilih diksi dan seringkali mengabaikan perasaan orang yang diajak komunikasi. Bahkan kadang-kadang tidak sadar bahwa pihan kata, gambar atau foto yang dikirimkannya dapat melukai perasaan orang lain atau menyerempet hal-hal sangat sensitif dan berbahaya.

Masyarakat kita sebenarnya memiliki kearifan yang diwariskan secara turun temurun melalui kata-kata bijak atau peribahasa untuk mengingatkan batas-batas norma dalam komunikasi. Kata-kata bijak itu misalnya, “mulutmu adalah harimaumu” , yang berisi pesan agar berhati-hati dalam berbicara karena kalau salah berbicara dapat membuat celaka orang yang berbicara. Kata-kata bijak yang lainnya misalnya ada dalam kalimat “memang lidah tidak bertulang”, untuk memberi pesan bahwa mulut kita harus dijaga karena akan sangat mudah terpeleset atau keceplosan berbicara yang tidak baik dan atau menyinggung perasaan orang lain. Kearifan ini sebenarnya bisa digunakan pula untuk mengingatkan norma komunikasi dalam realitas maya.  Karena komunikasi dalam dunia maya lebih banyak menggunakan tangan dan jari-jarinya, maka pengingatnya adalah ungkapan “ jari-jemarimu adalah harimaumu” suatu pesan untuk berhati-hati dalam mengirim kata-kata dan ujaran, atau menghindari diri dari memposting hal-hal yang tidak baik supaya tidak mecelakai diri sendiri.

Sebagaimana dunia  nyata, dunia maya berisi hal-hal yang baik maupun hal-hal yang tidak baik. Jika dalam dunia nyata ada praktek premanisme maka dalam dunia maya terdapat juga praktek premanisme yang disebut dengan premanisme digital.  Praktek premanisme dalam dunia nyata selalu identik dengan praktek kekerasan, kriminalitas, sikap tidak berperasaan kepada orang lain, pendzaliman, dan hal yang sejenisnya. Tidak berbeda dengan hal tersebut, premanisme digital juga berkaitan dengan perilaku kriminalitas seperti penipuan, juga berkaitan dengan sikap provokatif, agitatif dan memecah belah, olok-olok dan ujaran kebencian, serta  pornagrafi dan pornoaksi.

Premanisme digital secara faktual nampak dalam hiruk pikuk sosial media yang kita gunakan sehari-hari baik melalui aplikasi whatsapp, face book, twiter, Instagram, tiktok, dan aplikasi sosial media lainnya. Hampir setiap hari kita disuguhi dengan kata-kata umpatan, ujaran kebencian kepada seseorang atau sekelompok orang, iming-iming yang ujungnya penipuan, postingan yang tidak pantas karena mengandung kekerasan atau pornografi. Sosial media juga digunakan untuk flexing, pamer kekayaan, dan juga untuk menghujat pihak lain. Fenomena ini misalnya terlihat dalam crazy rich dan fenomena “sultan” yang gemar pamer kekayaan dan kemewahan, yang belakangan diketahui ternyata kekayaan yang dimiliki itu diperoleh melalui penipuan.

Premanisme digital diramaikan juga dengan saling hujat, saling menjatuhkan, mengolok-olok ataara berbagai pihak akibat dari residu politik. Hal yang masih sangat terasa adalah residu politik dari Pemilihan Presiden tahun 2019 yang sampai sekarang masih terasa dan  naga-naganya akan bangkit kembali menjelang pilpres 2024.  Residu politik itu adalah pembelahan masyarakat  akibat pilihan politik yang berbeda dan berlawanan yang menghasilkan istilah cebong dan kampret atau antara PKI dan kadrun (kadal gurun). Cebong adalah istilah untuk menyebut para pendukung presiden terpilih Joko Widodo dan Kampret disematkan kepada para pendukung Prabowo Subianto. PKI disematkan kepada pihak-pihak yang dianggap akan membangkitkan ideologi komunis dan merupakan pendukung pemerintah, sementara sebutan kadrun disematkan kepada mereka yang berseberangan dengan pemerintah dan berhaluan Islam garis keras atau Islam radikal.

Istilah cebong, kampret, PKI, kadrun, dan sebagainya digunakan sebagai diksi untuk saling mengolok-olok, mengujat pihak yang berseberangan, membully bahkan saling memenjarakan dengan melaporkan ke pihak berwajib jika dinilai dapat dilakukan. Kondisi ruang maya yang dipenuhi dengan premanisme digital ini sesungguhnya sangat berbahaya jika tidak diakhiri, karena akan melemahkan sendi-sendi persatuan dalam berbangsa dan bernegara. Pada tingkat yang akut dapat menimbulkan disintegrasi bangsa dan menimbulkan permusuhan serta perpecahan.

Dibutuhkan kearifan dan sikap saling menghormati, menghargai perbedaan pandangan serta pilihan hidup. Setiap diri harus mampu berkomunikasi dengan baik dalam dunia maya dan menggunakan sosial media dengan penuh kearifan dan kesadaran yang kuat akan penghormatan dan penghargaan kepada pihak lain. Hentikan saling hujat, saling mengolok-olok dan memberi gelaran atau sebutan yang tidak baik kepada pihak lain yang dilakukan dengan maksud merendahkan atau mengandung unsur kebencian.

Proses interaksi dan komunikasi antara manusia, baik dalam dunia nyata maupun dunia maya sesungguhnya tidak bisa terlepas dari peringatan Allah Swt. sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 11:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS.Al-Hujurat: 11)

Berdasarkan firman Allah tersebut, premanisme digital sebagaimana premanisme dalam dunia nyata adalah salah satu bentuk kedzaliman.  Sikap  mempermalukan orang lain, menghujat, memaki, mencela dan memberikan sebutan yang tidak baik kepada pihak lain adalah sebuah kefasikan dan perusak iman. Sebab itu dibutuhkan cara komunikasi yang baik dan bijak tidak hanya dalam komunikasi di dunia nyata tetapi juga dalam dunia maya lewat sosial media. Cara yang baik dan bijak dalam penggunaan sosial media diantaranya adalah selalu memikirkan dampak dari apa yang akan disampaikan kepada orang lain dan senantiasa melakukan cros check atau tabayyun terhadap hal-hal yang akan diposting atau dibagikan di ruang digital. (mh.14.15.22)

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.