socio
echo
techno
preneurship

MeTROUNIV Article

PRODI ILMU AGAMA DI PTKIN

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

metrouniv.ac.id – 16/07/2022 _ 16 Dzulhijah 1443 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Hari ini (15/07/22), saya mengikuti rapat evaluasi dan koordinasi Penerimaan Mahasiswa Baru di IAIN Metro. Materi yang dibahas sekitar progres penerimaan mahasiswa baru dan target kuota yang diharapkan. Terjadi pasang surut, ada prodi yang semakin diminati dan ada prodi yang tadinya diminati semakin tidak diminati. Hal itu biasa, setiap tahun memang seperti itu. Namun dari data-data yang disampaikan tentang  peminat atau pendaftar khususnya prodi-prodi ilmu agama kondisinya boleh dikatakan mengalami stagnasi, meningkat tidak, tren semakin menurun ya. Stagnasi yang dimaksud: selalu berat mendapatkan mahasiswa lebih dari satu digit, terkadang bisa dua digit itupun dua digit yang kurus. Di PTKIN lain, dugaan saya hampir serupa jika berbicara soal prodi ilmu agama, kecuali pada PTKIN besar yang memang sudah mapan.

Dalam beberapa tahun ini keberadaan prodi-prodi ilmu agamadi PTKIN seperti Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, Ilmu Tasawuf, Bimbingan Penyuluhan Islam, Bahasa dan Sastra Arab, Hukuman Tata Negara Islam, Filsafat Islam, dan yang sejenisnya memang mengalami kondisi “sepi peminat”. Sudah berbagai cara sosialisasi di tempuh, bahkan diming-imingi dengan beasiswa penuh bagi yang mengambil prodi-prodi ini, namun pendaftarnya tetap kurang. Fakultas yang menaungi prodi-prodi ini tidak se-semarak fakultas lain, kecil dan kadang termarginalkan.

Padahal, prodi-prodi ilmu agama inilah yang dahulu menjadi keunggulan dan trade mark IAIN, sebelum ada tranformasi STAIN dan UIN. Banyak lahir cendekiawan muslim dan ulama dari rahim prodi ilmu agama ini. Mereka adalah para ulama dan pemikir muslim yang masuk dalam golongan yang disebutkan dalam al-Qur’an sebagai orang-orang yang Tafaqquh Fiddin yakni orang-orang yang memahami dengan baik dan mendalam ilmu agama Islam. Saya nukilkan kembali ayat yang dimaksud.

۞ وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ ࣖ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah [9]: 122).

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah mengatakan bahwa kata liyatafaqqahu terambil dari kata fiqh, yang berarti pengetahuan yang mendalam akan hal-hal yang sulit dan tersembunyi. Sedangkan penambahan huruf ta pada frasa liyatafqqahu mengandung makna kesungguhan upaya, yang dengan keberhasilan upaya itu para pelaku menjadi pakar-pakar dalam bidangnya. (Tafsir al-Misbah,Vol,5, Juz 15, hlm.289).

Dengan demikian jelas, bahwa prodi-prodi ilmu agama di PTKIN memang dimaksudkan untuk menjadikan mahasiswa sebagai lulusan yang ahli dan pakar di bidang ilmu agama Islam. Sungguh berat. Sebab itu mahasiswa yang memilih prodi ini harus betul-betul pilihan sendiri dan berdasarkan hati nurani serta memiliki kemampuan ilmu dasar yang kuat. Jangan lagi ada calon mahasiswa “dipaksa” masuk prodi ini hanya karena tidak diterima di prodi lain. Bisa dibayangkan, calon mahasiswa kuliah di prodi Bahasa dan Sastra Arab, namun baca tulis al-Qur’an (arab) saja belum mapan, namun tetap diterima karena untuk memenuhi kuota dan di prodi lain sudah tidak diterima.

Menurut hemat saya, tidak perlu memaksakan untuk menerima banyak mahasiswa di prodi ilmu agama jika memang secara kelayakan tidak memenuhi persyaratan. Kasihan pada mahasiswa dan pada dosennya pada saat nanti di proses perkuliahan. Toh kalau membaca ayat al-Qur’an di surat at-Taubah ayat 122 di atas, anjuran untuk adanya orang-orang yang menekuni ilmu agama secara mendalam lebih bersifat fardhu kifayah. Silahkan yang lain berjuang mempelajari ilmu-ilmu lainnya yang banyak dan beragam, namun harus tetap ada yang menekuni ilmu agama supaya menjadi orang-orang yang tafaqquh fiddin.

Bukan berarti mengabaikannya atau membiarkannya mati. Justru sebaliknya prodi-prodi ilmu agama di PTKIN harus tetap maju dan berkembang, karena ia adalah ruh dari PTKIN. Kalau ruh ini mati maka matilah perguruan tinggi agama. Perguruan tinggi agama tanpa ciri kedalaman ilmu agama tidak akan ada bedanya dengan perguruan tinggi umum. Meskipun begitu keberadaan prodi ilmu agama harus berkualitas dan betul-betul menjadikan lulusannya sebagai ulama dan cendekia di bidang ilmu agama.

 

Antara idealisme dan Pragmatisme

Masyarakat umumnya bertanya, jika memilih dan masuk pada prodi tertentu, apa dan mana lapangan kerja yang nanti bisa dimasuki. Sangat mudah bagi kita untuk menjawab jika prodi-prodi itu dibawah fakultas tarbiyah (pendidikan), yaitu lulusannya akan menjadi calon guru di sekolah dan madrasah. Kalau lulusan ekonomi syari’ah, tentu saja lulusannya akan mengisi lapangan pekerjaan di lembaga-lembaga keuangan syaria’h maupun non syari’ah. Sangat jelas lapangan pekerjaannya.

Persoalannya, jika mereka bertanya kalau anak saya lulus dari prodi Bahasa dan Sastra Arab, akan menjadi apa dan bisa bekerja dimana. Dijawab: akan menjadi penterjemah dan guide tour bagi wisatawan arab, atau jadi penulis. Jawaban ini tentu akan diterima dengan mengernyitkan dahi. Dalam hati nggak jelas atau lapangan kerja yang abu-abu. Apalagi jika mereka bertanya lagi, lulusan prodi Filsafat Islam akan bekerja di mana?. Jadi Pemikir?. Semakin susah menjawab dan menjelaskannya. Kita menyebutnya, masyarakat semakin pragmatis. Semua diukur dengan tujuan materi. Tetapi siapa sih yang tidak pragmatis di dunia ini? Maka sebagai pengelola prodi tidak perlu menyalahkan masyarakat, mungkin kitapun akan berfikir begitu.

Pada tataran ini bisa dipahami, bagi mereka yang memilih prodi-prodi ilmu agama maka semangatnya adalah idealisme keilmuan bukan hanya sekedar soal kalau lulus mau kemana dan bekerja dimana. Menjadi pemikir, ulama, filosof, cendekiawan hanya dipahami oleh mereka yang memiliki idealisme akademik dan tidak akan bisa dipahami oleh mereka yang melihat ilmu dari kebutuhan pragmatisme ansich. Orang-orang yang memiliki idealisme itu akan terus ada dan bermunculan walaupun tidak sebanyak yang berfikir pragmatis. Jangan lupa! Menjadi ulama, atau pemikir itu bukan berarti tidak dapat memberi kehidupan secara duniawi. Banyak mereka yang menjadi ulama atau pemikir yang hidupnya tetap terjamin, bahkan banyak juga yang malah lebih baik kehidupannya.

Pesan moralnya, eksistensi prodi ilmu agama di PTKIN harus tetap dijaga dan dikelola secara serius. Jika susah mencari mahasiswa, cukup pada setiap prodi ilmu agama ada calon mahasiswa yang memenuhi satu rombongan belajar. Syukur bisa lebih akan lebih baik. Namun demikian mereka yang diterima adalah yang benar-benar memiliki minat yang tinggi dan memiliki dasar keilmuan Islam yang baik. Tidak perlu memaksakan calon mahasiswa untuk masuk di prodi ini jika kelayakan dasarnya tidak terpenuhi.

Pada prodi ilmu agama proses perkuliahannya harus dikelola secara serius dan padat keilmuan sehingga lulusannya betul-betul menjadi ahli di bidang ilmu agama. Dengan lulusan yang tafaqquh, maka mereka nanti akan menjadi referensi dan rujukan dalam hal ilmu agama oleh masyarakat. Menjadi pemikir Islam yang memproduksi dan mengembangkan keilmuan Islam, sehingga dari para lulusan inilah PTKIN akan mendapatkan reputasi dan rekognisi. Wallahu a’lam bishawab. (mh.15.07.22).

Artikel Terkait

Simbol

metrouniv.ac.id – Ahad 15/08/2022 _ 17 Safar 1444 H Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro) “Signs

Wisata Kampung Kreatif?

metrouniv.ac.id – 14/08/2022 – 16 Safar 1444 Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi Syariah IAIN Metro)  Konon pariwisata dari bahasa Sanskerta

HIJRAH DAN SPIRIT PERUBAHAN

metrouniv.ac.id – 30/07/2022 – 01 Muharam 1444 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Pada tahun 622 Masehi,

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.