metrouniv.ac.id – 22/03/2025 – 22 Ramadan 1446 H
Saipullah, M.A. (Mudir (Kepala) Ma’had Al Jami’ah IAIN Metro)
Puasa ramadhan bukan hanya ibadah vertikal yang hanya menghubungkan manusia dengan tuhannya, melainkan juga instrument efektif dalam pengembangan diri, pembentukan karakter, dan peningkatan fungsi kognitif. Bila diterapkan dalam pendidikan, puasa bisa menjadi sarana untuk membentuk generasi yang disiplin, sehat, cerdas, dan berakhlak mulia.
Saat puasa, kadar BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor) meningkat, mendukung fungsi kognitif dan neuroplastisitas sehingga dapat membantu meningkatkan fokus dan kejernihan berpikir. Puasa juga dapat mengatur pola makan dan waktu makan sehingga sistem saraf menjadi lebih stabil yang dapat megurangi stres dan kecemasan.
Ilmuwan psikologi seperti Walter Mischel telah melakukan sebuah penelitan melalui “Marshmallow Test” menunjukkan bahwa anak-anak dengan kemampuan menunda kepuasan cenderung memiliki prestasi akademik lebih tinggi. Mengapa demikian karena orang yang berpuasa melatih dua hal dalam dirinya yaitu Puasa melatih self-regulation (pengendalian diri) dan delayed gratification, dua hal penting dalam dunia pendidikan.
Puasa melatih self-regulation (pengendalian diri): Saat berpuasa, seseorang secara sadar menahan lapar, haus, emosi, serta perilaku negatif (seperti berbohong, marah, atau bergosip), walaupun ada dorongan kuat untuk melakukannya. Latihan ini secara langsung memperkuat mekanisme pengendalian diri di otak, khususnya di bagian prefrontal cortex, yang juga berperan dalam proses belajar, pengambilan keputusan, dan kontrol impuls. Latihan pengendalian diri lewat puasa membantu siswa mengembangkan sikap disiplin dan tangguh dalam menghadapi tantangan pendidikan.
delayed gratification adalah kemampuan untuk menahan kesenangan atau kepuasan sesaat demi memperoleh hasil yang lebih baik di masa depan. Ini adalah fondasi penting dari kesabaran dan perencanaan jangka panjang. Korelasi antara delayed gratification adalah Saat puasa, seseorang menahan diri dari makan dan minum sampai waktunya berbuka. Ini adalah contoh nyata praktik menunda kepuasan. Tidak hanya itu, puasa mengajarkan bahwa kesabaran dan pengorbanan sementara akan berbuah manfaat spiritual dan kesehatan di kemudian hari.
Dengan berpuasa, seseorang belajar mengontrol dorongan sesaat (self-regulation) dan terbiasa menunda kepuasan (delayed gratification) demi hasil yang lebih baik. Kedua keterampilan ini sangat penting dalam dunia pendidikan karena Membantu siswa tetap fokus, disiplin, dan tangguh. Membentuk mental yang siap menghadapi tantangan dan berorientasi pada tujuan jangka panjang.
Maka dari itu puasa memililik 4 manfaat dalam dunia pendidikan yaitu disiplin diri dan control diri, fokus & kognisi, pendidikan karakter, dan pembelajaran holistik. Wallahualam bishoab.