Pulang ke Hati: Makna Psikologis Mudik untuk Menyambung Silaturahmi

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 15/03/2026 – 25 Ramadan 1447 H
Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

Setiap menjelang hari raya Idul Fitri, dari jutaan orang Indonesia yaitu berbondong-bondong meninggalkan daerah tempat mereka bekerja, bersekolah, berkuliah, menyantri dan lainnya untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Jalanan dipenuhi kendaraan, terminal dan bandara ramai, bahkan kemacetan panjang seolah menjadi “ritual tahunan”. Namun, di balik perjalanan yang melelahkan itu, mudik sebenarnya bukan sekadar perjalanan fisik. Mudik adalah “perjalanan batin” yaitu perjalanan pulang menuju hati, menuju akar keluarga, dan menuju kehangatan silaturahmi di kampung halaman. Dalam perspektif psikologi, mudik memiliki makna emosional yang sangat dalam. Ia menyentuh kebutuhan dasar manusia akan rasa memiliki (belonging), kedekatan emosional, serta kerinduan pada tempat dan orang-orang yang pernah membentuk karakter dan kehidupan kita.

Kerinduan yang Menggerakkan Langkah

Sering kali seseorang tidak benar-benar menyadari mengapa ia begitu ingin pulang saat Lebaran. Padahal, di balik itu ada kekuatan psikologis berupa “nostalgia dan kerinduan emosional” terhadap keluarga, rumah masa kecil, dan lingkungan yang penuh kenangan. Bayangkan contoh percakapan sederhana si pemudik di sebuah bus atau kereta api,  “Mas, jauhkah pulangnya?” tanya seorang penumpang. “Lumayan jauh dan melelahkan, duapuluh empat jam perjalanan,” jawab yang lain sambil tersenyum. “Capek dong?” “Capek sekali, tapi kalau ingat ibu, ayah dan lainnya di rumah,  perjalanan ini dibuat enjoi saja.” Dialog sederhana ini menggambarkan bahwa mudik sering kali digerakkan oleh sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar logika perjalanan, yaitu “rasa rindu kepada orang tua dan keluarga”. Dalam Islam, menjaga hubungan keluarga adalah nilai yang sangat dijunjung tinggi. Allah berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi.” (QS. An-Nisa: 1). Ayat ini menegaskan bahwa hubungan kekeluargaan bukan hanya hubungan sosial, tetapi juga memiliki dimensi spiritual.

Silaturahmi: Obat Psikologis bagi Jiwa

Mudik memberikan kesempatan bagi seseorang untuk kembali merasakan kehangatan keluarga yang mungkin jarang dirasakan selama merantau. Dalam kehidupan diperantauan yang serba cepat dan kompetitif dan terkadang kejam dirasakaan, seseorang sering kali mengalami kelelahan psikologis dan bahkan frustasi. Ketika pulang kampung, suasana itu berubah dan terobati. “Mas, sudah makan belum?” tanya ibunya dari dapur. “Belum, Bu.”. “Ya sudah, cepat cuci tangan. Dari tadi ibu dan bapak menunggumu dengan rasa was-was kena macet.” Kalimat sederhana seperti itu sering kali menghadirkan ketenangan batin yang tidak bisa digantikan oleh fasilitas apa pun di kota. Secara psikologis, perasaan diterima dan dicintai oleh kedua orangtua dan keluarga mampu mengurangi stres, memperbaiki suasana hati, dan memperkuat kesehatan mental. Rasulullah ﷺ juga menegaskan keutamaan silaturahmi dalam sebuah hadis:

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa silaturahmi tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga membawa keberkahan dalam kehidupan seseorang.

Mudik Bukan Ajang Pamer Keberhasilan

Namun dalam realitas sosial, kadang makna mudik sedikit bergeser dari tujuan mulia yaitu menyambung silaturrahim. Ada yang tanpa sadar telah menjadikan suasana mudik sebagai ajang menunjukkan keberhasilan secara ekonomi dan hal-hal yang menghadirkan prilaku sombing. Mobil keren dan cerita-cerita heboh tentang kesuksesan di perantauan sering kali menjadi bahan perbandingan di antara teman-teman lama dan terkadang terkesang menjatuhkan mental teman yang belum sukses. Di sebuah pertemuan, misalnya, percakapan bisa saja berubah seperti ini, “Wah, sekarang kerjanya di Jakarta ya, dekan Pak Presiden Prabowo..?” “Iya, Alhamdulillah.” “Gajinya pasti besar dan dapat fasilitas mewah dong?”. Bagi seseorang yang bijak biasanya akan menjawab dengan santai. “Alhamdulillah cukupan, yang penting pandainya kita mengatur keuangan…, dan cukup untuk bertahan hidup di perantauan. Jawaban seperti itu mencerminkan kerendahan hati. Karena sejatinya, nilai mudik bukan pada apa yang kita tunjukkan, tetapi pada siapa yang kita temui dan bagaimana kita menjaga hubungan dengan mereka. Islam juga mengingatkan agar manusia tidak terjebak pada kesombongan. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36). Karena itu, mudik seharusnya menjadi momentum untuk menanggalkan ego dan kembali pada kesederhanaan hubungan keluarga.

Kampung Halaman sebagai Ruang Penyembuhan Emosi

Kampung halaman sering kali menjadi tempat di mana seseorang bisa kembali menjadi dirinya sendiri. Tidak ada tekanan status sosial, tidak ada tuntutan profesional, dan tidak ada kompetisi seperti pada hiruk pikuknya di perantauan. Seorang teman lama mungkin menyapa dengan sederhana, semisal “Eh, kamu masih ingat nggak, dulu kita main bola kaki di lapangan desa X?”. “Masih dong, dan kamu yang sering jadi kiper andalan tim kita..hebat kamu teman…,” Percakapan ini mungkin terlihat ringan, tetapi sebenarnya memiliki makna psikologis yang dalam. Ia menghidupkan kembali kenangan masa kecil yang penuh kebersamaan. Kenangan-kenangan itu membuat seseorang merasa “terhubung kembali dengan identitas dirinya”.

Pulang untuk Menguatkan Ikatan

Pada akhirnya, mari kita mafhumi bahwa ritual mudik adalah kesempatan untuk memperbaiki dan menguatkan hubungan yang mungkin sempat renggang. Ada orang tua yang menunggu kepulangan anaknya, ada saudara yang jarang bertemu, dan ada teman masa kecil yang ingin kembali berbagi cerita. Di ruang tamu sederhana sebuah rumah di kampung, sering kali terdengar percakapan hangat: “Ibu dan bapak tidak minta apa-apa, Nak. Yang penting kamu sehat dan masih sempat pulang.”. Kalimat itu sederhana, tetapi menyentuh inti dari makna mudik. Mudik bukan sekadar perjalanan pulang ke rumah. Mudik adalah perjalanan “pulang ke hati” yaitu ke tempat di mana kasih sayang, doa orang tua, dan persaudaraan selalu menunggu. Karena itu, ketika kita melangkah mudik pulang saat lebaran, luruskanlah niat. Bukan untuk pamer keberhasilan, bukan untuk membandingkan kehidupan, tetapi untuk menyambung silaturahmi dan menghangatkan kembali ikatan keluarga. Sebab pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak selalu ditemukan di tempat kita merantau, tetapi sering kali justru berada di tempat kita pulang ke keluarga dan handai taulan di kampung halaman tercinta.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ رُجُوعَنَا إِلَى أَهْلِنَا رُجُوعًا مَبْرُورًا، وَاجْعَلْ نِيَّتَنَا فِيهِ صِلَةَ الرَّحِمِ وَبِرَّ الْوَالِدَيْنِ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ، وَامْلَأْهَا بِالْمَحَبَّةِ وَالْإِخْلَاصِ.

 Artinya:

“Ya Allah, jadikanlah kepulangan kami kepada keluarga sebagai kepulangan yang diberkahi. Jadikan niat kami dalam perjalanan ini untuk menyambung silaturahmi dan berbakti kepada kedua orang tua. Bersihkanlah hati kami dari riya dan kesombongan, serta penuhilah hati kami dengan cinta dan keikhlasan.”. Amien ya Allah ya Rabbal alamien.

 

 

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.