metrouniv.ac.id – 17/03/2024 – 6 Ramadhan 1445 H
Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro)
Islam adalah agama universal. Ia diturunkan Allah SWT kepada seluruh umat manusia dalam rangka menyejahterakan, mendamaikan, dan menyelamatkan manusia. Islam hadir untuk menciptakan suasana sejuk dan harmonis, bukan hanya di antara sesama umat manusia tetapi juga bagi seluruh makhluk Allah yang hidup di muka bumi. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Dan Kami tidak akan mengutus kamu wahai Muhammad kecuali untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”.
Implementasi dari kehadiran agama Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam ditunjukkan dengan ajaran-ajaran agama Islam baik yang bersumber dari Al-Qur’an maupun dari Al-Hadits Rasulullah SAW yang mengajarkan tentang kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat secara seimbang. Hal ini tercermin dari Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Qashash:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan kampung akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi. Dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (Q.S. Al-Qashash : 77).
Senada dengan Firman Allah SWT tersebut, adalah Hadits yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, “Bekerjalah untuk kepentingan duniamu seolah-olah kamu hidup selama-lamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati esok pagi.”
Untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat secara seimbang, agama Islam mengajarkan agar umatnya selalu bekerja keras, baik dalam bentuk ibadah mahdah (berupa ibadah-ibadah formal seperti shalat, puasa, zakat dan haji) maupun dalam bentuk ibadah ghairu mahdah (berupa infak dan sedakah kepada mereka yang mebutuhkan). Ibadah adalah merupakan perintah-perintah yang harus dilakukan oleh umat Islam yang berkaitan langsung dengan Allah SWT dan telah ditentukan secara terperinci tentang tata cara pelaksanaannya.
Kegiatan ibadah ghairu mahdah berupa amal jariah yang tiada putus-putus setelah kita menghilang dari muka bumi ini adalah perbuatan-perbuatan terpuji yang dijanjikan akan memeroleh balasan pahal di sisi Allah. Jika perbuatan itu dilakukan dengan ikhlas, semata-mata mencari keridlaan Allah. Melalui sikap demikian, diharapkan nanti perbuatan-perbuatan tersebut berdampak positif bagi diri yang bersangkutan, bagi masyarakat, maupun bagi bangsa dan negara serta bagi agama Islam itu sendiri terutama dalam pengentasan kemiskinan.
Keluar dari Kemiskinan
Kemiskinan adalah musuh paling utama dari sebuah negara bangsa. Oleh karena itu, maka tujuan dan tugas paling utama dari sebuah negara adalah mengeksploitasi dan mengarahkan segala potensi sumberdaya alam (SDA) dan sumberdaya manusia (SDM) untuk mengentaskan rakyatnya keluar dari kemiskinan. Keberhasilan dari sebuah negara, sangat tergantung pada kemampuan negara itu dalam meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, mengentaskan rakyat dari kemiskinan, meningkatkan ketersediaan lapangan kerja, dan mengatasi pengangguran. Ketidak mampuan sebuah negara dalam mengatasi masalah ini, menyebabkan sebuah negara disebut sebagai “Negara Gagal.”
Kemiskinan, selain dari musuh negara, juga adalah musuh utama dari setiap agama, baik agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Semua ajaran agama menghendaki umatnya keluar dari kemiskinan, dan bahkan tidak sedikit ajaran agama hanya dapat dikerjakan dengan ketersediaan harta yang mencukupi. Sebagai contoh dalam agama Islam, ibadah zakat dan Haji hanya dapat dilaksanakan dengan ketersediaan harta yang mencukupi. Ibadah shalat, yang dikenal sebagai ibadah yang paling murah sekalipun, hanya dapat dikerjakan dengan sempurna dengan ketersediaan harta, minimal kain untuk penutup aurat.
Oleh karena itu, maka tugas seluruh warga negara yang juga umat beragama, untuk dapat keluar dari kemiskinan, dengan bekerja keras, berfikir cerdas, bertindak tuntas, dan bersikaf ikhlas. Di samping itu, pemerintah juga mempunyai kewajiban untuk meningkatkan motivasi dan membangkitkan etos kerja tersebut, sehingga melahirkan masyarakat pekerja keras, bukan masyarakat pemalas, suka berangan-angan kosong, suka mengambil jalan pintas, suka main tebak-tebakan, berjudi, suka main togel, lebih banyak di warung kopi daripada di sawah atau di kebun dan sebagainya.
Wallahu a’lam.