Oleh: Suhendi*
“Dalam 10 tahun ke depan, kecerdasan buatan (AI) akan begitu canggih; sehingga mungkin tidak lagi dibutuhkan banyak pekerjaan.”
Bill Gates, 2024
Sebagai kampus yang tengah menapaki babak baru dengan rektor baru dan status kelembagaan baru sebagai universitas, saya merasa perlu mencermati isi setiap ungkapan, diskusi dan percakapan yang berkembang. Paparan terakhir yang saya catat adalah arahan rektor saat memberi general brief kepada tim perumus Renstra 2025-2029 beberapa waktu yang lalu. Saya coba mencerna kemana sebenarnya arah institusi ini akan dibawa, identitas baru apa yang sedang dibentuk dan gagasan besar apa yang akan dirancang untuk kemajuan kampus ini.
Mungkin apa yang saya tangkap tidak sepenuhnya benar dan pas, karena batasan interpretasi yang sangat mungkin bias dalam memberi tafsir terhadap objek yang bersifat verbal. Tapi dari subtansi narasi yang sering rektor sampaikan, jika dipetakan dalam bentuk variabel kategorik atau tema, ditemukan setidaknya tiga kelompok tema gagasan yang terefleksi dalam beberapa diksi yang sering disebut.
Pertama tentang pentingnya melakukan lompatan Global (Internationalism) kiprah kampus, kedua tentang perlunya menguatkan konstribusi nyata keilmuan pada ranah sosial dan dunia industri dengan menjadi kampus yang Berdampak (Impactful) dan ketiga soal pentingnya kampus memberi perhatian yang serius pada isu perubahan iklim dengan menjadi kampus yang Berkelanjutan (Sustainable).
Juga dalam banyak kesempatan sering menyebut frasa kampus “ber-IMAN” yang merupakan akronim dari: Integrity, Morality, Akhlakul Karimah (noble character), dan Nationalism. Terakhir tidak kalah sering disinggung; rektor memberikan aksentuasi tentang pentingnya membangun iklim tata pergaulan sosial civitas akademika yang humanis dengan mengedepankan sikap: Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun (5S) diantara warga kampus.
Secara konsepsional jika gagasan tersebut kita coba dituangkan dalam satu konstruksi pemikiran yang utuh, mungkin kurang lebih arsitektur gagasannya akan membentuk anatomi konsep seperti ini: konsep kampus “Ber-IMAN” yakni: Integrity, Morality, Akhlakul Karimah (noble character), dan Nationalism, diletakan sebagai landasan etik internal dalam penyelenggaraan tata kelola akademik kampus yang baik (good governance). Sementara konsep kampus Berdampak, Berkelanjutan, dan Global; didudukkan sebagai pathway strategis dalam menjangkau lanskap dinamika eksternal. Terakhir, nilai humanis ditempatkan sebagai frame iklim kampus agar memberi atmosfir bagi tumbuhnya hubungan sosial yang harmonis dan positif. Dengan landasan etik internal yang kuat, pathway strategis yang adaptif, serta frame iklim kampus yang humanis; menurut thesis konsep ini akan menjadi instrumen pendorong yang efektif dalam mencapai visi besar kelembagaan UIN Jusi Lampung.
Tulisan ini ingin sedikit memberi catatan pinggir tentang konsep kampus Berdampak (impactful university); sebagai salah satu gagasan penting dan strategis. Ulasan yang saya tulis ini menyasar pada perspektif perlunya UIN Jusi Lampung melakukan reformulasi epistemologi dalam merespon semakin menguatnya kebutuhan relevansi kampus; menyonsong datangnya era wageless yang hampir pasti datang.
Pada awal Mei 2025 yang lalu, saat kick of soft launching program PRIMA Magang PTKI (Profesional Readiness Through Internship and Mentorship for Academics) Prof. Amien Suyitno selaku Direktur Jenderal Pendidikan Islam, mengatakan: bahwa kampus PTKI harus memiliki tanggung jawab etik, moral dan juga spiritual terhadap lulusannya, yaitu jangan hanya berhenti setelah wisuda dan memberi ijasah sarjananya saja, tapi juga wajib ‘ain mengurus atau ‘ngopeni’ dengan memberikan pendampingan dan monitoring, agar lulusannya dapat diserap oleh dunia kerja dengan karir dan gaji yang layak.
Harapan itu tentu saja tidak berlebihan, karena akhir-akhir ini dunia kerja kita memang “sedang tidak baik-baik saja”. Mencari pekerjaan semakin sulit, gap semakin lebar antara kompetensi lulusan dan tuntutan industri, serta berbarengan dengan itu muncul teknologi artificial intellegence yang membuka persoalan baru yang mendegradasi banyak pekerjaan digantikan oleh mesin kecerdasan yang dihasilkan.
Seolah menegaskan hal itu, selang sepekan setelah rilis program PRIMA tersebut, kita dikagetkan dengan berita viral membludaknya ribuan pelamar kerja fresh graduate pada event job fair di salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta, dan terjadinya kisruh pada proses job fair yang membuat kita semua ikut prihatin dengan kejadian tersebut.
Melihat itu, saya teringat dengan apa yang pernah yang diprediksikan Bill Gates pada medio 2024 yang lalu. Gates menyebut “Dalam 10 tahun ke depan, kecerdasan buatan (AI) akan begitu canggih; sehingga mungkin tidak lagi dibutuhkan banyak pekerjaan.” Bagi saya, pernyataan Bill Gates tersebut bukan sekadar ramalan futuristik, tapi alarm keras bagi dunia pendidikan, termasuk pendidikan tinggi Islam. Apa jadinya kampus, termasuk UIN jika kecerdasan mesin bisa menggantikan guru, dosen, dokter, bahkan manajer? Apa peran universitas ketika jutaan pekerjaan terancam hilang dan digantikan sistem otomatis?
Dalam wawancaranya bersama Jimmy Fallon dan dalam berbagai tulisannya, Gates menyebut AI sebagai “kecerdasan gratis” yang kelak akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. AI akan menjadi tutor pribadi, analis medis, konsultan bisnis, hingga pendamping belajar di desa-desa terpencil; semuanya cepat, akurat, dan murah. Dunia, dengan kata lain, sedang mengalami pergeseran peradaban. Yang berubah bukan hanya cara kita bekerja, tapi cara kita hidup, berpikir, dan belajar.
Namun di balik optimisme itu, juga terdapat kegelisahan baru. Laporan McKinsey memprediksi pada 2030, lebih dari 30% pekerjaan global bisa digantikan oleh mesin. World Economic Forum bahkan memperkirakan 85 juta pekerjaan akan hilang, meskipun digantikan dengan 97 juta pekerjaan baru yang membutuhkan kompetensi baru. Artinya, akan ada yang tertinggal jika tidak siap, dan akan ada yang melesat jika mampu menyesuaikan diri.
Kondisi ini menandai datangnya era wageless society; sebuah tatanan sosial tanpa upah, yang terjadi bukan karena kemiskinan, tetapi karena nyaris tak ada lagi pekerjaan yang membutuhkan tenaga manusia, sebab hampir seluruhnya telah diambil alih oleh kecerdasan buatan. Banyak pekerjaan manusia yang kehilangan bentuknya sebagai profesi memiliki upah, karena digantikan oleh sistem otomatis dan algoritma. Dalam lanskap semacam ini, bukan hanya low-skill jobs yang terdampak, tetapi juga profesi menengah hingga intelektual yang selama ini diasumsikan aman dari disrupsi teknologi. AI bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi mulai mengambil alih fungsi kerja manusia secara struktural. Maka, tantangan bagi perguruan tinggi, termasuk UIN, tidak lagi sebatas mencetak lulusan dengan IPK tinggi, tetapi membekali mereka dengan kapasitas reflektif, adaptif, dan relevan di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cair dan tak menentu.
Dalam konteks inilah, UIN Jusi Lampung menempati posisi strategis namun juga genting. Sebagai kampus Islam negeri yang baru saja bertransformasi, UIN Jusi Lampung dihadapkan pada pilihan epistemologis yang krusial: apakah tetap bertahan dengan model lama akademik administratif yang mengejar akreditasi dan sistem atau berani membuka jalan baru yang lebih relevan, kontekstual, dan menjawab kegelisahan zaman?
Kita semua maklum bahwa pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus menjadi jawaban atas kegamangan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Ketika dunia berbicara tentang revolusi AI dan pergeseran struktur kerja global, maka kampus pun harus berani menjawabnya dengan visi yang transformatif. UIN Jusi Lampung, jika ingin tetap menjadi pelita, harus menafsir ulang misinya bukan hanya mencetak lulusan yang unggul secara administratif, tetapi yang relevan secara sosial.
Karena itu, tulisan ini hendak mengajak pembaca melihat relevansi bukan sebagai tambahan, tetapi sebagai jalan pulang pendidikan tinggi: menghubungkan kembali ilmu dengan kenyataan, nilai dengan kebutuhan, dan kampus dengan masyarakatnya. Dalam pusaran disrupsi digital yang tak terelakkan, hanya kampus yang relevan yang akan tetap eksis berdampingan dengan kemajuan zaman.
Perlunya Reformulasi Epistemologi
Selama dua dekade terakhir, perguruan tinggi di Indonesia termasuk di lingkungan PTKIN berlomba dalam satu arah yang sama: memburu akreditasi unggul, memperbanyak publikasi ilmiah, meraih nilai SAKIP tertinggi, dan menyempurnakan sistem digital layanan akademik. Target-target ini dibingkai sebagai manifestasi dari “kampus unggul.”
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun, dalam keheningan laporan tahunan dan kesibukan menyusun LKPT, mulai muncul kegelisahan epistemik: untuk siapa sebenarnya semua keunggulan ini ditujukan? Ketika ribuan lulusan berkumpul di Job Fair dan pulang dengan tangan hampa, ketika gelar akademik tak sebanding dengan daya saing kerja, dan ketika perusahaan lebih memilih pekerja informal daripada sarjana baru, maka kita dipaksa bertanya ulang: apakah keunggulan administratif kampus benar-benar bermakna di mata publik penggunanya?
Paradigma excellence yang dikembangkan selama ini memang lebih condong ke arah teknokratik berbasis indikator, format pelaporan, dan kepatuhan prosedural. Itu tentu penting, tapi jika kita terlalu sering berhenti pada tataran formalitas, prodi atau kampus unggul yang kita sandang secara institusional, akan berujung gagal dalam membekali lulusannya menghadapi kenyataan. Mahasiswa bisa meraih IPK tinggi, tetapi kehilangan arah di pasar kerja dan dalam dinamika sosial kemasyarakatan.
Inilah jebakan epistemologi lama: memaknai ilmu sebagai objek yang harus diajarkan, diuji, dan dilaporkan bukan sebagai alat untuk memahami realitas dan memperbaikinya. Dalam kerangka ini, mutu berarti sesuai standar, bukan sesuai kebutuhan. Maka tak heran jika kurikulum yang dirancang dengan tidak cermat, akan gagal menjawab tuntutan industri, dan proses pembelajaran yang sistematis tak menghasilkan keberdayaan sosial.
Kita tengah menyaksikan paradoks pendidikan tinggi: yakni tidak inline-nya kategori unggul sebuah kampus secara administratif, dengan denyut persoalan riel masyarakat. Dan di tengah dunia kerja yang terus bergeser akibat AI, otomatisasi, dan transformasi digital, gap ini akan semakin lebar jika tidak segera dikoreksi.
Oleh karena itu, UIN Jusi Lampung tidak bisa lagi sekadar menambahkan label “unggul” di belakang namanya. Ia harus berani membuka ruang baru: kembali menafsir ulang peran ilmu, fungsi pendidikan, dan arah kampus bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai sarana membentuk manusia yang relevan dan berdampak.
Disrupsi dan Tafsir Ulang Ilmu
Disrupsi bukan hanya menggoyahkan struktur ekonomi atau pasar kerja, ia juga mengguncang akar cara manusia memandang dan memproduksi pengetahuan. Otomatisasi, kecerdasan buatan, dan digitalisasi telah memaksa kita mengakui bahwa banyak ilmu yang dahulu dipelajari bertahun-tahun kini dapat digantikan oleh mesin dalam hitungan detik. Ini bukan sekadar krisis keterampilan, melainkan krisis epistemologi.
Dalam tatanan lama, ilmu dianggap statis, terstruktur, dan hirarkis: dosen mengajar, mahasiswa belajar, kurikulum ditentukan, dan pekerjaan menanti di ujung wisuda. Tetapi kini, siklus itu patah. Dunia kerja tak lagi menunggu lulusan. Bahkan, jenis pekerjaan itu sendiri berubah sebelum sempat diajarkan. Banyak profesi menghilang; sementara profesi baru yang membutuhkan literasi data, ketangkasan digital, dan kemampuan lintas disiplin muncul begitu cepat tanpa fondasi pengajaran di ruang kelas.
Tafsir lama tentang ilmu yang hanya diposisikan sebagai objek transfer tak lagi cukup. Kampus tidak bisa hanya menjadi pengarsip teori atau pengulang silabus tahunan. Ia harus menjadi arena interpretasi ulang atas ilmu dan kehidupan, tempat di mana pengetahuan tidak hanya diajarkan, tetapi dikontekstualisasikan dan dipertanggungjawabkan secara sosial.
Bagi kampus Islam seperti UIN Jusi Lampung, tantangan ini lebih kompleks. Di satu sisi, ia memikul warisan keilmuan klasik Islam yang kaya dan dalam; di sisi lain, ia harus bersaing dalam ekosistem global yang menuntut ketangkasan digital dan kemampuan inovatif. Di titik inilah diperlukan tafsir epistemologis baru, yang tidak memisahkan antara turats (warisan ilmu) dan tuntutan kontemporer, antara nilai-nilai adiluhung dan logika pasar.
Tafsir ini tidak dimaksudkan untuk mencampuradukkan nilai dengan komersialisasi, tetapi untuk menemukan titik temu antara makna dan manfaat. Ilmu agama yang hanya menjadi hafalan dogmatis tak akan bertahan dalam dunia yang mengutamakan solusi. Sebaliknya, ilmu yang kehilangan orientasi etik dan nilai akan menjadi liar, tak berpijak. Maka, ilmu harus ditafsirkan ulang: bukan sekadar alat mengetahui, tetapi cara bertindak yang bertanggung jawab.
Disrupsi telah membuka ruang untuk menggeser paradigma pendidikan dari transfer of knowledge ke construction of meaning, dari hanya “mengajar” ke “memampukan”, dari “mengisi kepala” ke “membangun kepekaan”. Dan jika disrupsi adalah gelombang yang tak bisa dihindari, maka tafsir ulang ilmu adalah papan selancar yang harus disiapkan oleh kita semua.
Jalan Pulang: Relevansi sebagai Orientasi Baru UIN Jusi Lampung
Dalam dunia yang dibentuk oleh ketidakpastian, kampus tak lagi bisa hanya menjadi tempat belajar, tetapi harus menjadi rumah bagi pencarian makna dan solusi. Di sinilah relevansi menemukan tempatnya sebagai orientasi baru pendidikan tinggi, bukan sekadar penyesuaian kebijakan, melainkan kesadaran epistemologis yang tumbuh dari dalam.
UIN Jusi Lampung, yang kini menapaki fase transformasi kelembagaan dari IAIN menjadi universitas Islam negeri (UIN), memiliki momentum strategis untuk menegaskan relevansi sebagai fondasi masa depannya. Bukan berarti menanggalkan excellence, tetapi mengembalikan keunggulan itu kepada tujuan dasarnya: kebermanfaatan bagi umat dan masyarakat luas.
Sebagai langkah awal dapat dilihat dari keberanian kampus ini membuka program-program berbasis sains dan teknologi yang tidak hanya modern, tetapi juga aplikatif: seperti informatika, sistem informasi, data sains serta teknologi pangan halal. Ini bukan perluasan administratif, tetapi sinyal epistemologis: bahwa kampus Islam tidak alergi pada inovasi, dan bahwa nilai-nilai keislaman justru harus menjadi fondasi etik dalam transformasi digital.
Di sisi lain, kurikulum mulai dibangun tidak hanya dari silabus internal, tetapi dari dialog antara kampus, dunia kerja, dan masyarakat. Pendekatan Outcome-Based Education (OBE) menjadi penting di titik ini. Ia menuntut bahwa semua proses pendidikan berorientasi pada capaian yang jelas: bukan hanya pengetahuan yang dikuasai, tetapi kompetensi yang diterapkan. Mulai harus dirancang, dan ini sifatnya segera untuk mulai memasukan mata kuliah artificial intellegence baik dalam tataran pengenalan maupun aplikasi pemanfaatannya dalam berbagai kebutuhan akademik maupun pada dunia kerja. Dengan OBE, desain pembelajaran menjadi lebih kontekstual, terukur, dan adaptif terhadap dinamika kebutuhan nyata.
Tracer study bukan sekadar pelaporan, tetapi menjadi kompas perbaikan. Project-based learning bukan hanya metode, tetapi pendekatan untuk menghidupkan realitas ke dalam ruang kelas. Dan yang tak kalah penting, pembelajaran lintas program studi perlu mulai didorong sebagai cara menjembatani keterputusan antara keilmuan dan kehidupan.
Lebih dari itu, UIN Jusi Lampung diharapkan mulai membangun ekosistem pembelajaran yang mengutamakan kolaborasi, literasi digital, dan penguatan soft skills, semua itu dirancang bukan hanya agar mahasiswa lulus, tetapi agar mereka mampu hidup dan memberi arti di tengah disrupsi sosial dan ekonomi yang semakin kompleks.
Relevansi di sini bukan tentang mengikuti selera pasar secara pragmatis. Tapi upaya menjadikan ilmu sebagai jalan pulang: mengembalikan makna pendidikan kepada orientasi sosialnya. Bahwa kampus hadir bukan hanya untuk mencetak gelar, tetapi untuk membentuk manusia pembelajar yang adaptif, transformatif, dan beretika. Di tengah gempuran kecerdasan buatan, justru kapasitas untuk berpikir kritis, berempati, dan bertindak bijak menjadi kompetensi yang paling langka dan itulah yang semestinya disediakan oleh pendidikan tinggi Islam.
UIN Jusi Lampung, jika mampu menjaga arah ini secara konsisten dan inklusif, akan tampil bukan hanya sebagai kampus unggul secara administratif, tetapi sebagai simpul perubahan sosial yang nyata. Kampus yang tidak hanya hadir di tengah masyarakat, tetapi hadir untuk masyarakat.
Relevansi sebagai Misi Transendental
Dalam khazanah keilmuan Islam klasik, ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ia senantiasa terhubung dengan amal, terikat pada tanggung jawab sosial, dan berorientasi pada kemaslahatan. Maka, ketika UIN Jusi Lampung menempatkan relevansi sebagai dasar baru arah transformasinya, sesungguhnya kampus ini sedang kembali kepada akar maknawi pendidikan: menjadikan ilmu sebagai sarana untuk menebar manfaat, bukan sekadar alat untuk mengejar prestise institusional.
Di tengah pusaran disrupsi digital dan pergeseran dunia kerja, orientasi pada relevansi bukanlah langkah mundur dari excellence, melainkan lompatan sadar menuju purposeful education. Pendidikan yang bukan hanya membekali mahasiswa dengan apa yang harus mereka ketahui, tetapi juga mengapa dan untuk siapa mereka harus tahu.
Relevansi, dalam pengertian ini, adalah misi transendental. Ia menghubungkan dimensi intelektual, sosial, dan spiritual dalam satu tarikan napas. Ia menegaskan bahwa mutu bukan sekedar kepatuhan pada standar atau peringkat akreditasi, melainkan sejauh mana lulusan mampu menjawab kebutuhan zaman, memperbaiki lingkungannya, dan menebar keberkahan di manapun ia berada.
Kampus Islam seperti UIN Jusi Lampung ditantang untuk tidak sekadar menjadi pengelola pengetahuan, tetapi penggerak perubahan. Untuk tidak hanya mencetak lulusan, tetapi melahirkan manusia pembelajar. Untuk tidak hanya bertahan di tengah kompetisi global, tetapi menawarkan alternatif nilai dan visi kehidupan yang lebih adil, beradab, dan bermakna.
Transformasi ini tentu bukan proses instan. Ia memerlukan keberanian struktural, ketekunan akademik, dan komitmen etik. Juga kejernihan epistemik untuk melakukan pergeseran paradigmatik dari pencapaian keunggulan yang semata-mata mengejar standar administratif menuju relevansi yang bersifat substantif. Dari pendidikan berbasis sistem ke pendidikan berbasis dampak. Dari kampus yang sibuk mengevaluasi dirinya sendiri ke kampus yang hadir sebagai solusi bagi persoalan umat, bangsa dan kemanusian universal.
Dan itulah jalan pulang yang sesungguhnya bagi kampus, bagi ilmu, dan bagi masa depan pendidikan tinggi Islam. Bravo ! atas status baru IAIN Metro menjadi UIN Jurai Siwo Lampung.
*) Kepala Pusat Pengembangan Karir dan Bisnis-IAIN Metro (Sekarang UIN Jurai Siwo Lampung)